KabarMakassar.com — Indonesia tercatat sebagai negara dengan jumlah Kejadian Luar Biasa (KLB) campak tertinggi kedua di dunia. Situasi ini memicu kekhawatiran dan menuntut penguatan langkah pengendalian penyakit menular tersebut.
Peringatan kewaspadaan campak atau Measles Alert bahkan sempat dikeluarkan otoritas kesehatan Australia Barat. Peringatan itu dikaitkan dengan penumpang pesawat dari Jakarta pada 7 Februari 2026 yang tiba di Perth sehari kemudian.
Melansir dari laman investor.id, ahli kesehatan Prof dr Tjandra Yoga Aditama mengungkapkan, data global menunjukkan Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait campak. Ia merujuk pada laman Global Measles Outbreaks milik Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat tertanggal 11 Februari 2026 yang mengutip data World Health Organization (WHO).
“Memang harus kita sadari bahwa campak masih menjadi masalah kesehatan di negara kita. Laman Global Measles Outbreaks dari Center of Diseases Control dan Prevention – CDC Amerika Serikat 11 Februari 2026 beberapa hari lalu, yang mengutip data WHO, menunjukkan Indonesia adalah negara ke dua terbanyak kasus wabah campaknya. Ini sesuai daftar 10 negara terbanyak Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, ‘Top 10 countries with measles outbreaks’,” kata Prof dr Tjandra Yoga Aditama.
Data tersebut berasal dari laporan pengawasan bulanan sementara yang disampaikan kepada WHO hingga Januari 2026. Periode yang dicatat mencakup Juli hingga Desember 2025. Dalam daftar tersebut, Yaman berada di posisi pertama dengan 11.288 kasus campak. Indonesia menyusul di posisi kedua dengan 10.744 kasus, disusul India dengan 9.666 kasus.
Negara lain dalam daftar sepuluh besar antara lain Pakistan dengan 7.361 kasus dan Angola 4.843 kasus. Berikutnya Republik Demokratik Rakyat Laos 3.167 kasus, Meksiko 2.846 kasus, Nigeria 2.755 kasus, Afganistan 2.668 kasus, serta Mongolia 2.551 kasus.
Prof Tjandra juga menyinggung informasi dari laman Kementerian Kesehatan tertanggal 27 Agustus 2025. Disebutkan bahwa peningkatan kasus campak berkaitan dengan menurunnya cakupan imunisasi rutin lengkap dalam beberapa tahun terakhir.
“Kalau kita lihat laman Kementerian Kesehatan 27 Agustus 2025 maka disebutkan bahwa meningkatnya kasus campak di Indonesia yang berkaitan dengan turunnya cakupan imunisasi rutin lengkap dalam beberapa tahun terakhir,” ungkap Prof Tjandra.
Cakupan imunisasi rutin lengkap di Indonesia tercatat mencapai 92 persen pada 2018. Namun angka tersebut menurun menjadi 87,8 persen pada 2023.
Untuk imunisasi campak-rubela, capaian juga belum menyentuh target 95 persen sebagai syarat terbentuknya kekebalan kelompok. Pada 2024, cakupan MR1 berada di angka 92 persen, sedangkan MR2 baru mencapai 82,3 persen.
Lonjakan kasus campak pun tercatat dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022 terdapat lebih dari 4.800 kasus terkonfirmasi, meningkat menjadi lebih dari 10.600 kasus pada 2023.
Tahun 2024 jumlahnya menurun menjadi lebih dari 3.500 kasus. Namun pada 2025, hingga Agustus saja, sudah tercatat lebih dari 3.400 kasus.
Jumlah KLB campak juga menunjukkan tren fluktuatif. Pada 2022 terdapat 64 KLB, meningkat menjadi 95 KLB pada 2023, lalu turun menjadi 53 KLB pada 2024, dan kembali mencapai 46 KLB hingga Agustus 2025.
“Data-data ini kembali menunjukkan bahwa kita perlu memberi perhatian penuh pada pengendalian penyakit campak dan juga penyakit menular pada umumnya, termasuk meningkatkan cakupan imunisasi kita,” tegas Prof Tjandra.
Campak sendiri merupakan penyakit akibat virus yang sangat mudah menular melalui droplet saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Gejala awal biasanya berupa demam, batuk, pilek, mata berair, lalu muncul ruam kemerahan dua hingga empat hari kemudian.
Pencegahan utama campak adalah imunisasi sesuai jadwal. Tanpa perlindungan imunisasi, anak-anak berisiko mengalami komplikasi berat.
Direktur Pengelolaan Imunisasi Kementerian Kesehatan, dr Prima Yosephine, MKM, sebelumnya mengingatkan potensi komplikasi serius akibat campak. Komplikasi tersebut dapat terjadi terutama pada anak dengan kondisi gizi kurang.
“Komplikasi campak ini umumnya berat. Kalau campak mengenai anak yang gizinya jelek maka anak ini bisa langsung disertai komplikasi seperti diare berat, pneumonia, radang paru, radang otak, infeksi di selaput matanya sampai menimbulkan kebutaan. Ini yang kita khawatirkan,” ujar dr Yosephine.














