KabarMakassar.com — Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Selatan dari Fraksi PKS, Yeni Rahman, menyoroti serius rendahnya capaian akademik siswa di Sulsel yang dinilai berakar dari lemahnya kemampuan dasar, khususnya matematika.
Ia menegaskan, hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang masih berada pada kategori menengah ke bawah bukan sekadar persoalan peringkat, melainkan cerminan masalah fundamental dalam sistem pembelajaran.
“Capaian TKA ini harus dilihat secara utuh. Ini bukan hanya soal angka, tapi indikator bahwa penguatan literasi dan numerasi siswa belum berjalan optimal,” tegas Yeni dalam keterangannya, Kamis (09/04).
Menurutnya, ketimpangan hasil antar mata pelajaran memperlihatkan bahwa kualitas kompetensi dasar siswa belum merata. Kondisi ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa proses pembelajaran belum menyentuh aspek mendasar yang seharusnya dikuasai sejak dini.
Srikandi PKS itu secara khusus menyoroti lemahnya kemampuan matematika siswa yang masih ditemukan hingga jenjang pendidikan menengah. Ia menyebut, tidak sedikit siswa yang belum menguasai kemampuan berhitung dasar yang seharusnya tuntas di tingkat sekolah dasar.
“Kalau di tingkat atas masih ada yang belum kuat berhitung, berarti ada yang tidak selesai di jenjang bawah. Ini persoalan fondasi,” ujarnya.
Ia menilai, rendahnya capaian akademik saat ini merupakan akumulasi dari lemahnya penguatan numerasi sejak pendidikan dasar. Karena itu, perbaikan tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus dimulai dari hulu.
“Kualitas di tingkat menengah dan atas sangat ditentukan oleh fondasi di SD. Penguatan numerasi harus dimulai sejak awal, tidak bisa ditunda,” katanya.
Selain itu, Yeni juga menyinggung lemahnya fungsi pengawasan dalam sistem pendidikan. Ia menilai, beban kerja yang tinggi dan ketimpangan rasio pengawas dengan jumlah sekolah membuat kontrol mutu pembelajaran tidak berjalan maksimal.
“Pengawasan jangan hanya administratif. Harus menyentuh kualitas proses belajar mengajar agar standar mutu benar-benar terjaga,” tegasnya lagi.
Ia mendorong pemerintah untuk segera melakukan intervensi berbasis data serta memperkuat sinergi antara pemerintah provinsi dan kabupaten/kota guna membenahi kualitas pendidikan secara menyeluruh.
“Masalah ini tidak bisa dibiarkan berlarut. Harus ada langkah konkret, terukur, dan terintegrasi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran di Sulsel,” tukasnya.














