kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Inflasi Sulsel Maret 2026 Capai 4,50 Persen, Sidrap Tertinggi Palopo Terendah

Inflasi Sulsel Maret 2026 Capai 4,50 Persen, Sidrap Tertinggi Palopo Terendah
Ilustrasi Rupiah (Dok : KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Inflasi di Provinsi Sulawesi Selatan pada Maret 2026 tercatat sebesar 4,50 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y). Kenaikan harga sejumlah komoditas strategis, terutama pangan dan tarif listrik, menjadi faktor dominan yang mendorong inflasi di wilayah tersebut.

Selain secara tahunan, inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) juga tercatat sebesar 0,59 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 2,11 persen. Kondisi ini menunjukkan tren kenaikan harga yang masih terjadi di berbagai kelompok pengeluaran masyarakat.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, Aryanto, menjelaskan bahwa inflasi tahunan terjadi akibat kenaikan harga di sejumlah kelompok pengeluaran utama.

Kenaikan tersebut terlihat pada kelompok makanan, perumahan, hingga jasa lainnya yang secara konsisten mengalami peningkatan indeks harga.

Selain itu, kelompok perawatan pribadi mencatat lonjakan tertinggi di antara seluruh kelompok pengeluaran. Kondisi ini memperlihatkan tekanan harga yang cukup merata di berbagai sektor konsumsi rumah tangga.

“Pada Maret 2026 terjadi inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Sulawesi Selatan sebesar 4,5 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,59,” jelas Aryanto dalam laporan resmi BPS Sulsel yang dirilis baru-baru ini.

Selain itu, inflasi tahunan juga dipicu oleh kenaikan indeks pada sejumlah kelompok pengeluaran utama. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 5,65 persen, sementara kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga mencapai 8,92 persen.

Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran juga mencatat inflasi sebesar 2,15 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan pokok masih menjadi kontributor utama terhadap inflasi daerah.

Komoditas tertentu tercatat memberikan andil besar terhadap inflasi di Sulawesi Selatan. Di antaranya adalah emas perhiasan, tarif listrik, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, serta berbagai jenis ikan konsumsi.

Tarif listrik tercatat memberikan kontribusi signifikan terhadap kenaikan indeks kelompok perumahan. Sementara itu, bahan pangan seperti ayam, telur, dan ikan menjadi faktor penting yang memengaruhi inflasi sektor makanan.

Pada tingkat wilayah, seluruh delapan kabupaten/kota yang menjadi lokasi penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi tercatat terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang sebesar 5,73 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Kota Palopo sebesar 2,81 persen.

“Sementara itu, Kota Makassar sebagai pusat ekonomi regional mencatat inflasi sebesar 4,54 persen,” ujar Aryanto.

Secara bulanan, inflasi pada Maret 2026 banyak dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas pangan dan transportasi. Komoditas seperti cabai rawit, tomat, telur ayam ras, dan daging ayam ras menjadi penyumbang utama inflasi bulanan.

error: Content is protected !!