kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Ziarah Kubur Pasca Lebaran, Tradisi Atau Ibadah! Ini Penjelasannya

Ziarah Kubur Pasca Lebaran, Tradisi Atau Ibadah! Ini Penjelasannya
Suasana Ziarah Kubur (Dok: Sinta KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Tradisi ziarah kubur usai Idulfitri kembali ramai dilakukan masyarakat di Kabupaten Gowa dan Kota Makassar.

Aktivitas ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga memunculkan pertanyaan publik terkait hukumnya dalam Islam.

Sejak pagi hari usai salat idul Fitri hingga empat hari pasca lebaran, kawasan pemakaman Macanda dipadati peziarah yang datang silih berganti. Mereka membawa bunga dan air untuk ditaburkan di atas pusara keluarga, sementara pedagang musiman dan juru parkir terlihat sibuk melayani lonjakan pengunjung.

Salah satu peziarah, Asrul (33), mengaku tradisi ini sudah menjadi bagian dari kebiasaan keluarganya sejak lama. Ia mengatakan ziarah biasanya dilakukan setelah salat Id hingga beberapa hari setelah Lebaran.

“Ini sudah turun-temurun. Setiap Idulfitri kami datang ke makam untuk mendoakan orang tua dan keluarga yang sudah meninggal,” ujarnya, Selasa (24/03).

Ia menegaskan, ziarah bukan untuk tujuan lain selain mengingat kematian dan mendoakan yang telah berpulang.

“Ini juga pengingat bagi kami yang masih hidup. Tidak ada niat lain, bukan untuk meminta-minta,” tambahnya.

Menanggapi fenomena tersebut, Dosen Ilmu Hadis UIN Alauddin Makassar, Alamsyah, menyebut ziarah kubur merupakan amalan yang dianjurkan dalam Islam selama dilakukan dengan tujuan yang benar.

“Ziarah kubur itu dianjurkan karena dapat mengingatkan manusia pada kehidupan akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah,” jelasnya.

Ia menegaskan, tidak ada batasan waktu dalam berziarah, termasuk saat Idulfitri. Tradisi yang berkembang di masyarakat Indonesia dinilai tidak bertentangan dengan ajaran Islam selama tidak disertai praktik berlebihan.

“Ada dua tujuan utama ziarah, yakni mengingat kematian dan mendoakan yang telah meninggal. Jika itu yang dilakukan, maka tidak ada larangan,” tegasnya.

Namun demikian, ia mengingatkan agar praktik ziarah tetap dilakukan secara sederhana dan tidak melenceng dari nilai-nilai syariat.

“Ziarah seharusnya menjadi momen refleksi diri. Yang penting adalah doa yang tulus, bukan ritual yang berlebihan,” tukasnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa ziarah kubur usai Idulfitri tidak hanya menjadi tradisi sosial, tetapi juga memiliki dimensi spiritual yang kuat bagi masyarakat.

error: Content is protected !!