KabarMakasaar.com — Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) yang hilang kontak di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan. Operasi hari kedua difokuskan pada penemuan bagian badan pesawat, ekor, dan jendela yang telah terlihat tim udara dan darat pada Minggu pagi.
Menurut Panglima Kodam XIV/Hasanuddin Mayjen TNI Bangun Nawoko, penemuan pesawat berawal dari briefing tim SAR pada pukul 05.30 Wita, diikuti take-off helikopter Caracal dari TNI AU. Sekitar pukul 07.17, tim mendapatkan laporan indikasi serpihan pesawat dari Basarnas, yang kemudian dikonfirmasi tim darat pada pukul 08.02 sebagai bagian badan dan ekor pesawat di puncak Gunung Bulusaraung. “Hasil temuan tim SAR sudah menemukan dua bagian besar pesawat dari bagian badan pesawat dan ekor pesawat serta jendela pesawat,” ujar Bangun, Minggu (18/1).
Tim darat langsung menurunkan enam personel dari helikopter untuk memastikan lokasi dan melakukan koordinasi dengan tim lain di lapangan. Medan yang curam, berkabut, dan cuaca yang ekstrem menjadi kendala dalam evakuasi. Pangdam menekankan, keselamatan tim menjadi prioritas utama, sementara posko utama dipindahkan ke Kantor Desa Tompobulu, Pangkep, untuk memudahkan komunikasi dan pergerakan tim.
Kepala Basarnas Makassar, Arif Anwar, menambahkan metode pencarian dilakukan secara paralel melalui udara dan darat. “Tim SAR gabungan sudah menurunkan tim rescue lewat udara dan langsung melakukan pencarian korban. Metode pencarian korban dari tim SAR gabungan melalui udara menggunakan heli 390 dan heli Caracal TNI AU, dan tim darat terbagi empat grup dengan total personel 1.200 orang,” kata Arif. Strategi pembagian wilayah ini dilakukan untuk memastikan seluruh titik pencarian terjangkau dan tidak ada korban yang terlewatkan.
Kronologi pencarian hari kedua dimulai sejak pukul 05.30 Wita dengan briefing tim di posko utama, dilanjutkan lepas landas helikopter dan pemberangkatan tim darat menuju puncak Gunung Bulusaraung. Pukul 07.46 tim helikopter menginformasikan indikasi serpihan window pesawat, dan tiga menit kemudian, pukul 07.49, bagian besar badan dan ekor pesawat terlihat. Tim darat kemudian bergerak menuruni lereng terjal untuk menyiapkan evakuasi awal. Kendala cuaca menyebabkan heli belum dapat menurunkan tim secara langsung di lokasi, sehingga pengiriman tim darat menjadi prioritas.
Pangdam Bangun Nawoko menekankan koordinasi antar tim harus terus dijaga. Tim yang dibagi ke empat kelompok bergerak secara sistematis, memprioritaskan keselamatan dan pencarian korban yang masih bisa diselamatkan. Peralatan komunikasi seperti HT, repeater, dan Starlink portable mendukung kelancaran koordinasi tim di medan yang sulit.
Hingga saat ini, operasi pencarian masih berlangsung intensif, memadukan jalur darat dan udara. Tim SAR terus berupaya menemukan seluruh korban dan memastikan proses evakuasi berjalan aman dan terkendali, terutama dengan medan ekstrem dan kondisi berkabut yang membatasi visibilitas. Posko di Desa Tompobulu menjadi pusat koordinasi dan pengelolaan evakuasi korban.














