kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

70-80 Persen Tebu Nasional Tidak Produktif, Rp1,7 T Digenjot untuk Bongkar Ratoon

70-80 Persen Tebu Nasional Tidak Produktif, Rp1,7 T Digenjot untuk Bongkar Ratoon
Ilustrasi bongkar ratoon (dok. Ist)

KabarMakassar.com — Mayoritas tanaman tebu di Indonesia saat ini dinilai sudah tidak produktif dan menjadi penghambat utama peningkatan produksi gula nasional. Pemerintah mencatat sekitar 70 hingga 80 persen tanaman tebu telah melewati usia optimal sehingga tidak lagi mampu menghasilkan secara maksimal.

Kondisi tersebut mendorong pemerintah mempercepat program peremajaan tanaman tebu melalui skema bongkar ratun. Langkah ini ditempuh sebagai upaya mendongkrak produktivitas sekaligus memperbaiki kesejahteraan petani tebu.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut hasil evaluasi nasional menunjukkan kondisi tanaman tebu di berbagai daerah sudah tidak layak produksi. Pemerintah telah melakukan pengecekan menyeluruh terhadap tanaman tebu di seluruh wilayah Indonesia atas arahan Presiden.

Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar pengambilan kebijakan untuk mempercepat peremajaan tanaman. Pemerintah juga mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung pelaksanaan program tersebut.

“Kami sudah sampaikan bahwa, setelah kami mengevaluasi tahun 2025 atas arahan Bapak Presiden, kami mengecek tebu-tebu kita seluruh Indonesia, 70 sampai 80 persen itu tidak layak. Sehingga kita lakukan bongkar ratoon, dan Bapak Presiden meminta kami untuk membantu petani-petani tebu Indonesia. Kami langsung anggarkan Rp1,7 triliun di 2025, kita lanjutkan di 2026,” ujar Amran, Rabu (08/04/2026).

Dari total sekitar 500 ribu hektare lahan tebu nasional, lebih dari 300 ribu hektare di antaranya merupakan tanaman lama yang dinilai tidak lagi produktif. Tanaman tua tersebut menjadi salah satu penyebab utama stagnasi produksi gula nasional dalam beberapa tahun terakhir.

Tanpa peremajaan tanaman, peningkatan produksi diperkirakan sulit dicapai dalam waktu singkat. Kondisi ini juga berdampak langsung terhadap pendapatan petani yang bergantung pada produktivitas lahan tebu.

“Rencana kami bongkar ratoon karena 300 ribu lebih dari 500 ribu hektare itu tanaman lama. Tidak mungkin produksinya bisa naik. Sehingga petani tidak bisa untung,” jelasnya.

Sebagai bentuk dukungan terhadap petani, pemerintah menyiapkan program bongkar ratun secara bertahap dalam beberapa tahun ke depan. Program ini dirancang dengan skema subsidi pemerintah agar petani tidak terbebani biaya peremajaan tanaman.

Target pelaksanaan program tersebut mencapai 100 ribu hektare lahan per tahun hingga seluruh tanaman tidak produktif dapat diremajakan. Pemerintah menilai langkah ini penting untuk meningkatkan produksi gula nasional secara berkelanjutan.

“Langkah pemerintah adalah kita bantu bongkar ratoon, dan itu subsidi pemerintah. Ratoon 100 ribu per tahun. Insyallah 3 tahun selesai. Itu langkah pemerintah,” tegasnya.

Upaya peremajaan tanaman tebu dinilai menjadi fondasi penting dalam mencapai target swasembada gula nasional. Saat ini produksi gula nasional berada di kisaran 2,6 hingga 2,7 juta ton per tahun, sementara kebutuhan gula konsumsi mencapai sekitar 2,8 hingga 2,9 juta ton.

Selisih kebutuhan tersebut mendorong pemerintah untuk mempercepat peningkatan produksi melalui perbaikan sektor hulu. Pemerintah optimistis peningkatan produktivitas lahan tebu dapat membantu menutup kekurangan pasokan gula nasional.

“Kita perbaiki tanaman, itu mutlak tiga tahun berturut-turut, dan kalau kita lakukan, insyallah white sugar, swasembada paling lambat tahun depan,” pungkasnya.

error: Content is protected !!