kabarbursa.com
kabarbursa.com

Remaja 18 Tahun di Makassar Tewas Diduga Ditembak Polisi Saat Bubarkan Perang Mainan

Remaja 18 Tahun di Makassar Tewas Diduga Ditembak Polisi Saat Bubarkan Perang Mainan
Ilustrasi kecelakaan (Dok : Int).

KabarMakassar.com — Seorang remaja bernama Bertrand Eka Prasetyo Radiman (18) dilaporkan meninggal dunia setelah diduga tertembak aparat kepolisian saat pembubaran aksi perang-perangan menggunakan senjata mainan di Jalan Toddopuli Raya, Kota Makassar, Minggu pagi (01/03).

Informasi yang dihimpun, korban sempat dilarikan ke RS Bhayangkara Makassar sebelum dinyatakan meninggal dunia.

Orang tua korban, Desi Manutu (44), mengaku pertama kali menerima kabar saat berada di Jakarta. Awalnya ia hanya diberi tahu bahwa anaknya berada di rumah sakit.

“Saya dapat informasi sekitar jam 11-an, katanya ada di rumah sakit Bhayangkara. Belum dibilang meninggal,” ujar Desi di rumah duka, Jalan Toddopuli 1, Selasa (03/03).

Sekitar satu jam kemudian, kabar duka datang. Ia mendapat informasi bahwa anaknya meninggal dan diduga tertembak saat polisi membubarkan konvoi remaja.

“Ada aparat bilang anaknya ada konvoi, seperti tawuran, lalu kena tembakan. Saya kaget. Kok bisa anakku kena tembakan? Biasanya polisi tembak ke atas. Saya tidak terima,” tegasnya.

Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, korban disebut tertembak di bagian pantat. Namun Desi mengaku tidak melihat langsung luka tembak tersebut karena jenazah telah berada di dalam peti saat ia tiba di Makassar dini hari.

“Katanya di pantat, tapi saya tidak lihat langsung. Sudah dipakaikan kain dan dalam peti,” katanya.

Desi juga menyebut saat pertama melihat wajah anaknya, terdapat pembengkakan di bagian muka.

“Saya tiba hampir jam 3 pagi dari Jakarta. Begitu lihat, mukanya sudah bengkak seperti ada benjolan,” ucapnya.

Keluarga mendapat informasi bahwa setelah kejadian di dekat kantor PLN Toddopuli, korban sempat dibawa ke fasilitas kesehatan sebelum akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara Makassar.

“Saya dengar dia masih hidup waktu dibawa pertama, bahkan sempat minta air minum. Tapi kondisinya sudah drop sekali. Tidak lama kemudian meninggal,” tutur Desi.

Ia menambahkan, autopsi telah dilakukan atas permintaan keluarga.

“Saya minta diotopsi waktu masih di Jakarta. Sekarang sudah dilakukan,” jelasnya.

Desi mengaku hanya mengetahui kronologi dari cerita yang beredar. Disebutkan, polisi awalnya melepaskan tembakan ke udara. Namun dalam proses pengamanan, senjata kembali meletus dan mengenai korban.

“Katanya tembak ke atas dulu satu kali. Terus saat pegang anakku, senjata meletus lagi. Dibilang tidak sengaja,” ujarnya.

Ia mempertanyakan penggunaan senjata api dalam situasi tersebut.

“Anakku bukan teroris, bukan perampok. Katanya cuma berdua. Masa langsung keluarkan pistol? Itu yang saya tidak terima,” katanya dengan suara bergetar.

Sebagai orang tua, Desi berharap proses hukum berjalan transparan dan tuntas. “Harapan saya pelaku diproses sesuai hukum supaya anakku tenang di sana. Itu saja,” tukasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi.