KabarMakassar.com — Perkembangan kendaraan listrik di Makassar mulai memunculkan tantangan baru dalam penanganan kebakaran.
Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) Kota Makassar menegaskan kebutuhan mendesak akan peralatan khusus untuk menghadapi risiko kebakaran mobil listrik yang tidak bisa ditangani dengan metode konvensional.
Kepala Dinas Damkarmat Makassar, Fadli Wellang, mengungkapkan bahwa karakteristik kebakaran kendaraan listrik jauh lebih kompleks dibandingkan kendaraan berbahan bakar biasa.
“Kendaraan listrik itu tidak bisa dipadamkan dengan air. Dia punya perlakuan khusus, dan itu yang kita butuhkan sekarang,” tegasnya, Kamis (16/04).
Ia menjelaskan, sumber utama persoalan terletak pada baterai lithium-ion yang digunakan pada mobil listrik. Saat terbakar, baterai jenis ini dapat memicu reaksi berantai yang sulit dikendalikan, bahkan dengan volume air besar sekalipun.
“Bukan hanya sulit dipadamkan, tapi juga berisiko tinggi. Air tidak selalu mampu menembus modul baterai, sehingga butuh penanganan berbeda,” ujarnya.
Menurutnya, dalam beberapa kasus, dibutuhkan puluhan ribu liter air hanya untuk menurunkan suhu baterai. Kondisi ini menjadi tantangan serius, terutama jika kebakaran terjadi di lokasi dengan akses air terbatas seperti jalan raya atau area parkir tertutup.
Seiring perkembangan kota dan meningkatnya penggunaan kendaraan listrik, Damkarmat Makassar mendorong modernisasi peralatan pemadam. Selain armada dengan spesifikasi khusus untuk gedung tinggi, kebutuhan paling mendesak saat ini adalah alat pemadam kebakaran (APAR) khusus lithium-ion serta selimut pemadam (fire blanket).
“Kita memang butuh APAR spesifik lithium-ion dan fire blanket untuk menahan penyebaran api serta memperlambat reaksi termal,” jelas Fadli.
Ia menegaskan, tanpa dukungan peralatan yang sesuai, potensi risiko kebakaran dari teknologi baru ini bisa semakin besar. Karena itu, Damkarmat mulai menyesuaikan kebutuhan armada dan perlengkapan dengan perkembangan kota dan teknologi.
“Semakin maju kota, peralatan juga harus mengikuti. Kalau tidak, kita akan tertinggal menghadapi risiko-risiko baru seperti ini,” tukasnya.














