KabarMakassar.com — Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Erwin Aksa, menyoroti dampak eskalasi konflik antara Iran dan Israel terhadap dunia usaha di Indonesia.
Menurutnya, ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai memberikan tekanan nyata bagi industri nasional, terutama dari sisi energi dan bahan baku.
Erwin menyebutkan, lonjakan harga energi menjadi salah satu dampak paling terasa. Harga minyak dunia sempat melonjak hingga mendekati 119 dolar AS per barel, sementara nilai tukar rupiah juga bergerak mendekati Rp17 ribu per dolar AS.
“Eskalasi konflik di Timur Tengah kini mulai memberi tekanan nyata bagi industri nasional, terutama dari sisi energi dan bahan baku,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Dia menjelaskan, dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh sektor yang memiliki hubungan dagang langsung dengan kawasan Timur Tengah, tetapi juga industri yang sensitif terhadap biaya energi dan logistik.
Beberapa sektor yang dinilai paling rentan antara lain industri petrokimia, penerbangan, logistik, makanan dan minuman, hingga manufaktur padat energi.
Menurut Erwin, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi dari Timur Tengah juga menjadi faktor yang memperbesar dampak tersebut.
Saat ini sekitar 25 persen kebutuhan crude oil dan 30 persen LPG Indonesia masih dipasok dari kawasan tersebut.
Karena itu, ia menilai dunia usaha perlu segera menyiapkan strategi mitigasi agar mampu menghadapi tekanan global.
Langkah tersebut antara lain melalui diversifikasi pasokan energi, peningkatan efisiensi operasional, serta perlindungan terhadap gejolak nilai tukar dan biaya produksi.
“Konflik Iran–Israel mungkin terjadi jauh dari Indonesia, tetapi dampaknya mulai terasa bagi dunia usaha kita,” katanya.
Erwin yang juga dikenal sebagai pengusaha dan mantan Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia itu berharap tantangan global tersebut justru menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan industri nasional.
Menurutnya, dengan strategi yang tepat, dunia usaha Indonesia dapat menjadi lebih tangguh dan siap menghadapi dinamika ekonomi global di masa mendatang.














