KabarMakassar.com — Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijiriah, suasana di Kabupaten Jeneponto tampak semarak dengan tradisi unik masyarakatnya. Bukan daging sapi atau ayam yang menjadi primadona utama, melainkan daging kuda yang kini ramai diburu warga untuk hidangan khas lebaran, Kamis (19/3).
Pantauan di sepanjang jalan raya, khususnya di wilayah Kecamatan Binamu hingga Kecamatan Kelara, para pedagang daging kuda dadakan mulai menjamur di pinggir jalan. Mereka menjajakan daging segar di atas lapak kayu dengan variasi harga yang beragam.
Harga daging kuda tahun ini terpantau fluktuatif namun tetap kompetitif. Para pedagang menawarkan harga mulai dari 170 ribu, 175 ribu, hingga 180 ribu rupiah per kilogram.
“Harganya bervariasi, tergantung dari kualitas daging dan bobot kudanya. Kalau dagingnya bagus, tanpa lemak, dan seratnya halus, itu harganya 180 ribu. Tapi kalau yang biasa ada di kisaran 170 ribu,” ujar Dg. Ngalle, salah seorang pedagang daging kuda di Kelara.
Menurutnya, meski harga mengalami sedikit kenaikan dibanding hari biasa, minat pembeli tetap tinggi.
“Daging kuda itu wajib ada di meja saat lebaran di Jeneponto. Kalau tidak ada Coto Kuda atau Gantala Jarang, rasanya belum lebaran,” tambahnya sambil melayani pembeli.
Tingginya permintaan ini juga dirasakan oleh para pembeli yang rela mengantre sejak pagi hari. Irma, salah seorang warga yang ditemui di lokasi, mengaku sengaja datang lebih awal untuk mendapatkan bagian daging yang paling bagus.
“Tadi saya beli yang harga 180 ribu sekilo biar dapat daging yang empuk. Ini untuk persiapan masak Gantala Jarang buat keluarga yang baru datang mudik dari Makassar. Daging kuda di Kelara ini terkenal segar karena baru dipotong,” ungkap Irma.
Fenomena “pasar tumpah” daging kuda di pinggir jalan ini memang menjadi pemandangan rutin tahunan di Kabupaten Jeneponto. Daging kuda dipercaya masyarakat setempat memiliki khasiat kesehatan dan tekstur rasa yang lebih gurih dibanding jenis daging lainnya.
Bagi warga Jeneponto, menyajikan hidangan berbahan dasar kuda bukan sekadar soal rasa, melainkan bentuk penghormatan dan kemuliaan dalam menyambut tamu di hari kemenangan.
Hingga sore hari, lapak-lapak pedagang di Kelara masih terus dipadati warga. Diperkirakan puncak perburuan daging kuda ini akan terus berlangsung hingga malam takbiran nanti.














