kabarbursa.com
kabarbursa.com

Masjid Arab Makassar, Jejak 100 Tahun Islam Bertahan Ditengah Perubahan Kota

Masjid Arab Makassar, Jejak 100 Tahun Islam Bertahan Ditengah Perubahan Kota
Mesjid Arab Makassar, (Dok: Sinta KabarMakassar).

KabarMakassar.com — Di kawasan padat perdagangan yang kini didominasi warga keturunan Tionghoa, sebuah masjid tua tetap berdiri kokoh menjadi penanda perjalanan panjang Islam di Kota Makassar.

Masjid As-Said atau yang lebih dikenal sebagai Masjid Arab tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi perubahan sosial dan sejarah lintas generasi.

Masjid yang berlokasi di Jalan Lombok, Kecamatan Wajo ini dibangun pada tahun 1907 oleh komunitas pedagang dari Arab, India, dan Pakistan yang dahulu bermukim di kawasan tersebut. Seiring waktu, lanskap sosial di sekitar masjid mengalami perubahan signifikan.

“Masjid ini dibangun oleh komunitas Arab, India, dan Pakistan yang dulu banyak tinggal di sini,” ujar pengurus masjid, Ali Abdullah, Jumat (20/03).

“Namun sekarang, lingkungan sekitar lebih banyak dihuni warga keturunan Tionghoa karena banyak warga lama yang sudah pindah ke daerah lain bahkan ke luar negeri,” lanjutnya.

Perubahan itu semakin terasa setelah adanya pengembangan kawasan pelabuhan yang mendorong perpindahan penduduk. Sejumlah keluarga lama menjual rumah dan meninggalkan kawasan tersebut, menjadikan wajah lingkungan berubah total. Meski demikian, Masjid Arab tetap bertahan sebagai simbol sejarah yang tidak tergeser zaman.

Ali juga mengungkapkan, beberapa tokoh nasional seperti Quraish Shihab dan Umar Shihab pernah tinggal di kawasan ini sebelum akhirnya menetap di kota lain.

Secara arsitektur, Masjid Arab memiliki ciri khas yang unik. Perpaduan gaya Timur Tengah dan Nusantara terlihat jelas pada bangunan masjid. Kubahnya terinspirasi dari Masjid Demak, sementara empat pilar utama di dalam masjid melambangkan Khulafaurrasyidin.

Memasuki area masjid, suasana teduh langsung terasa. Dominasi warna hijau, halaman yang luas, serta keberadaan dua pohon kurma menghadirkan nuansa berbeda di tengah kota.

“Pohon kurma ini hanya simbol. Tidak berbuah, tapi memberi kesan seperti di Mekkah,” jelas Ali.

Keunikan lainnya adalah keberadaan kawanan merpati yang beterbangan di sekitar halaman masjid. Burung-burung tersebut sengaja dipelihara untuk menghadirkan suasana yang menyerupai Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

“Kami pelihara merpati supaya suasananya terasa seperti di Tanah Suci. Jamaah juga senang melihatnya,” katanya.

Masjid ini juga menyimpan sejarah penting sebagai tempat singgah jamaah haji di masa lalu. Sebelum transportasi udara berkembang, jamaah dari berbagai wilayah Indonesia Timur seperti Ambon, Palu, dan Manado transit di Makassar dan menginap di masjid ini sebelum melanjutkan perjalanan laut menuju Mekkah.

“Dulu jamaah haji tidak langsung berangkat naik pesawat. Mereka singgah di sini sebelum naik kapal,” ungkap Ali.

Selain itu, terdapat tradisi yang masih dipertahankan hingga kini, yakni tidak adanya jamaah perempuan dalam pelaksanaan salat lima waktu maupun Salat Idulfitri di masjid ini. Tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun dan menjadi ciri khas tersendiri.

Keunikan ini kerap mengejutkan pengunjung, terutama yang datang dalam rangka wisata religi atau safari masjid. Namun, praktik tersebut tetap dijaga sebagai bagian dari tradisi yang sudah lama melekat.

Di tengah aktivitas Ramadan, Masjid Arab tetap menjadi salah satu tujuan utama jamaah yang ingin merasakan suasana ibadah dengan nuansa sejarah yang kuat. Jamaah datang dari berbagai daerah untuk beribadah sekaligus menapaktilasi perjalanan Islam di Makassar.

Keberadaan masjid ini di tengah kawasan yang juga memiliki sejumlah klenteng menjadi simbol nyata harmoni antarumat beragama yang telah terjalin sejak lama.

“Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tapi juga bukti bahwa keberagaman bisa hidup berdampingan,” tegas Ali.

Kini, di tengah modernisasi dan perubahan wajah kota Makassar, Masjid Arab tetap berdiri sebagai warisan sejarah, pusat spiritual, sekaligus pengingat bahwa nilai-nilai kebersamaan dan toleransi telah lama tumbuh di Kota Angin Mamiri.

error: Content is protected !!