KabarMakassar.com — Indonesia dihadapkan pada ancaman serius perubahan iklim setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi kemunculan fenomena ekstrem bertajuk Godzilla El Nino mulai April 2026 mendatang.
Kondisi ini diperkirakan memicu kemarau panjang yang lebih kering dan berisiko besar terhadap krisis air hingga gagal panen seperti pada tahun 2023 lalu.
Fenomena ini bukan sekadar El Nino biasa. BRIN mengungkapkan, kekuatannya akan diperparah oleh fase positif Indian Ocean Dipole (IOD), yang secara bersamaan mendorong penurunan curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Profesor Riset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, menjelaskan bahwa El Nino merupakan pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator. Namun dalam skala ekstrem, fenomena ini berubah menjadi Godzilla El Nino yang berdampak jauh lebih kuat terhadap sistem iklim global.
“Istilah Godzilla El Nino menggambarkan intensitas yang jauh lebih kuat, sehingga musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering di Indonesia,” jelasnya, dilansir dari akun X milik BRIN, Kamis (26/03).
Sementara itu, IOD positif memperparah situasi. Pola ini menyebabkan suhu laut di sekitar Sumatra dan Jawa menjadi lebih dingin, sehingga pembentukan awan hujan terhambat dan curah hujan turun drastis.
BRIN memproyeksikan dua fenomena ini akan terjadi bersamaan sepanjang April hingga Oktober 2026 periode yang identik dengan musim kemarau di Indonesia. Dampaknya diperkirakan paling terasa di wilayah selatan garis ekuator, termasuk Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua bagian selatan.
Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa disebut sebagai salah satu titik rawan, terutama bagi sektor pertanian yang sangat bergantung pada pasokan air.
“Mulai stok air dari sekarang ya, untuk antisipasi kekeringan di selatan Indonesia imbas El Nino-IOD+,” tegas Erma dalam imbauannya.
Belajar dari kejadian 2023, kombinasi El Nino dan IOD positif telah menurunkan curah hujan secara signifikan pada Juni hingga September. Dampaknya meluas, mulai dari gagal panen di Jawa dan Sumatra selatan hingga kekeringan parah di Nusa Tenggara dan Papua selatan.
Namun, BRIN mengingatkan bahwa dampaknya tidak merata. Wilayah utara Indonesia justru berpotensi mengalami peningkatan curah hujan yang dapat memicu banjir, seperti yang pernah terjadi di Sumatra bagian utara dan Kalimantan tengah.














