kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Syaharuddin Alrif Bongkar Strategi Sidrap Hadapi Godzilla El Nino

Syaharuddin Alrif Bongkar Strategi Sidrap Hadapi Godzilla El Nino
Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif (Dok: KabarMakassar).

KabarMakassar.com – Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif membeberkan langkah agresif yang ditempuh Pemerintah Kabupaten Sidrap untuk menghadapi ancaman El Nino yang diprediksi berdampak pada sektor pertanian.

Diketahui, BRIN memprediksi Godzilla El Nino akan menerpa Indonesia pada April 2026 mendatang, kekeringan tersebut akan terjadi lebih panjang dari biasanya.

Empat jurus utama disiapkan, mulai dari percepatan musim tanam hingga penerapan teknologi listrik di sawah.

Syaharuddin menegaskan bahwa strategi tersebut bukan sekadar rencana, tetapi telah berjalan sebagai upaya menjaga stabilitas produksi pangan di tengah ancaman krisis iklim.

“Kami sudah melakukan antisipasi. Satu, mempercepat musim tanam. Kedua, mengurangi umur padi. Biasanya 110 hari, sekarang kami siapkan yang 75 hari,” ujarnya, usai mengikuti Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI di Hotel Claro jalan Pettarani Makassar, Kamis (27/03).

Tak hanya itu, Sidrap juga mengandalkan inovasi teknologi melalui program listrik masuk sawah. Sistem ini menggantikan metode lama berbasis bahan bakar dengan pompa air listrik berbasis sumur dalam.

“Biasanya pompanisasi pakai gas, sekarang di Sidrap sudah pakai listrik. Pakai mesin submersible, pompa celup. Ini salah satu antisipasi El Nino,” jelasnya.

Langkah lain yang dilakukan adalah mengaktifkan kembali embung dan jaringan parit untuk memastikan distribusi air tetap terjaga saat musim kering melanda. Kombinasi empat strategi ini diyakini mampu menjaga bahkan meningkatkan produktivitas pertanian.

Syaharuddin mengklaim, hasilnya sudah terlihat signifikan. Produksi padi yang sebelumnya berada di kisaran 5–6 ton per hektare kini melonjak menjadi 10–12 ton per hektare.

“Sebelum saya jadi bupati, Sidrap itu paling 5 sampai 6 ton. Sekarang 10 sampai 12 ton per hektare,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa peningkatan produksi tidak lepas dari penggunaan benih lokal Sulawesi Selatan yang dinilai lebih adaptif terhadap kondisi daerah.

“Benihnya lokal Sulsel, tapi hasilnya sama bahkan lebih tinggi. Kalau tidak percaya, silakan datang ke Sidrap,” katanya.

Lonjakan produksi tersebut, lanjutnya, berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi daerah yang kini disebut sebagai salah satu yang tertinggi di Sulawesi Selatan.

Di sisi lain, peluang pasar juga mulai terbuka lebar. Permintaan komoditas pangan dari berbagai daerah seperti Maluku Utara, Kalimantan Utara, hingga Kalimantan Timur menjadi sinyal positif bagi ekspansi Sidrap.

“Ada yang minta telur, ada yang minta beras. Ini peluang bagi kami untuk memperbanyak pengiriman,” tukas Syaharuddin.

error: Content is protected !!