KabarMakassar.com — Belasan siswa di SDN 7 Kambutta Toa, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Jeneponto, Sulsel, dilaporkan mengalami gejala keracunan massal tak lama setelah menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah mereka, Kamis (23/4).
Kejadian itu pun viral di sosial media setelah diunggah oleh akun facebook @Nurdin Khokho. Dalam rekaman tersebut, pemandangan memilukan terlihat saat sejumlah siswa menangis histeris di dalam mobil evakuasi.
Bahkan, beberapa anak mengalami gejala fisik yang mengkhawatirkan, seperti bengkak pada wajah dan kemerahan di seluruh kulit (urtikaria), dibarengi rasa gatal yang hebat.
“Gara-gara MBG ini anak-anak alergi, gatal-gatal, bengkak semua mukanya. Makan ikan tadi,” ujar seorang perempuan dalam rekaman video tersebut.
Guna mendapatkan pertolongan medis darurat, para korban yang kondisinya kian melemah langsung dilarikan ke Puskesmas Tompobulu, Kecamatan Rumbia.
Seketika, ruang perawatan puskesmas langsung dipenuhi oleh siswa yang terbaring lemas dengan didampingi orang tua dan guru yang tampak terpukul atas kejadian ini.
Dugaan sementara, pemicu keracunan massal ini berasal dari lauk ikan yang disajikan. Ikan tersebut diduga kuat sudah tidak segar.
Insiden ini menuai protes keras dari kalangan orang tua murid. Fokus utama kini tertuju pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) selaku pihak yang bertanggung jawab atas penyediaan konsumsi di sekolah tersebut.
“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Kami berharap agar SPPG yang menangani sekolah tersebut bertanggung jawab penuh. Mereka harus lebih waspada, teliti, dan selektif dalam menyiapkan makanan MBG agar keselamatan anak-anak kami terjamin,” ungkap salah satu orang tua siswa.
Hingga saat ini, pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Jeneponto masih melakukan pendataan jumlah pasti korban serta mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium guna memastikan penyebab pasti insiden memilukan ini.
Kejadian di SDN 7 Kambutta Toa ini menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat maupun daerah terkait pengawasan mutu bahan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis.
Kini publik menunggu klarifikasi resmi dan langkah konkret agar niat baik pemberian gizi gratis tidak justru menjadi petaka bagi kesehatan siswa di masa depan.














