KabarMakassar.com — PT Jasa Raharja mencatat nilai santunan bagi korban kecelakaan lalu lintas di Sulawesi Selatan sepanjang 2025 mencapai Rp134 miliar. Angka tersebut diberikan kepada ribuan korban kecelakaan yang terjadi di berbagai wilayah di Sulsel.
Kepala Kantor Wilayah Jasa Raharja Sulawesi Selatan dan Barat, Mulyadi, mengatakan jumlah santunan tersebut mencerminkan masih tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Sulawesi Selatan.
“Dapat kami sampaikan bahwa data pemberian santunan kami kepada korban kecelakaan masih cukup tinggi,” kata Mulyadi dalam sambutannya pada kegiatan pelepasan mudik gratis di CPI Makassar, Senin (16/03)
Ia menjelaskan, sepanjang 2025 Jasa Raharja menyalurkan santunan kepada 1.089 korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas di Sulawesi Selatan.
“Tahun lalu 2025 kami berikan santunan sebesar 134 miliar dengan korban 1.089 orang, dari luka-luka 6.922 orang,” ujarnya.
Berdasarkan data Jasa Raharja, kecelakaan lalu lintas di Sulawesi Selatan masih didominasi oleh kendaraan roda dua. Sebagian besar kejadian kecelakaan melibatkan sepeda motor dengan jenis tabrakan tertentu.
“Demografinya, yang terlibat kendaraan roda dua sebesar 76% tabrakan depan-depan,” kata Mulyadi.
Selain itu, korban kecelakaan juga didominasi oleh kelompok usia produktif. Data Jasa Raharja menunjukkan bahwa hampir setengah dari korban kecelakaan berada pada kelompok usia muda.
“Korban usia produktif yaitu 1–24 tahun sebesar 45% dengan jenis kelamin adalah laki-laki sebesar 75%,” ujarnya.
Mulyadi juga memaparkan data kecelakaan yang terjadi selama periode mudik Lebaran tahun sebelumnya. Pada masa Operasi Ketupat 2025, tercatat puluhan korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas.
“Tahun lalu, perubahan laka selama mudik atau operasi ketupat sebanyak 52 korban meninggal dunia dan luka-luka 94 orang dengan santunan sebesar 4 miliar,” katanya.
Meski demikian, ia menyebut bahwa sebagian besar korban kecelakaan yang terjadi pada periode tersebut justru bukan berasal dari kalangan pemudik yang sedang dalam perjalanan.
Menurutnya, banyak kecelakaan terjadi setelah masyarakat tiba di kampung halaman dan kembali beraktivitas di daerah masing-masing.
Ia menjelaskan bahwa kecelakaan kerap terjadi karena euforia masyarakat setelah tiba di kampung halaman. Dalam situasi tersebut, sebagian pengendara dinilai cenderung mengabaikan aturan lalu lintas.
“Nah, korban selama mudik operasi ketupat ini, itu bukan lagi pemudik, tapi non-pemudik,” sebutnya.
. Artinya masyarakat yang sudah tiba di tujuan, karena euforia kebahagiaan, kesenangan, tidak lagi mematuhi rambu-rambu lalu lintas, kurang patuh lagi terhadap budaya tertib lalu lintas,” kata Mulyadi.
Karena itu, ia mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga disiplin dan mematuhi aturan lalu lintas, baik selama perjalanan mudik maupun setelah tiba di kampung halaman.
Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan berlalu lintas menjadi faktor penting untuk menekan angka kecelakaan dan mengurangi jumlah korban di jalan raya.














