kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Review 24 Jam Bersama Gaspar, Film Genre Aksi Misteri

Review 24 Jam Bersama Gaspar, Film Genre Aksi Misteri
(Foto : ist).
banner 468x60

KabarMakassar.com — Film Indonesia 24 Jam Bersama Gaspar yang disutradarai oleh Yosep Anggi Noen telah tayang di Netflix, Kamis (14/3) lalu.

Film ini tayang lebih dulu secara perdana di Busan International Film Festival pada Oktober 2023 lalu.

Pemprov Sulsel

Film 24 Jam Bersama Gaspar menceritakan tentang Gaspar, tokoh utama yang diperankan Reza Rahadian mengalami kondisi jantung yang tidak normal.

Suatu hari dia di diagnosa hanya memiliki waktu 24 jam untuk hidup. Ia pun berencana melakukan aksi balas dendam atas misteri hilangnya sahabat kecilnya, Kirana, Shofia Shireen.

Hal itu kemudian membawanya kepada Wan Ali nama tokoh yang diperankan Iswadi Pratama yang terlibat sindikat perdagangan manusia.

Dari awal film, penonton telah disajikan sinematografi yang memanjakan mata, warna yang diberikan untuk setiap peristiwa-peristiwa serta set yang ada di dalam film membuat ceritanya tampak hidup.

Film 24 Jam Bersama Gaspar dibintangi aktor kenamaan seperti Dewi Irawan, Landung Simatupang, Laura Basuki, dan Shenina Cinnamon.

Cerita ini memiliki alur yang cukup menarik. Menceritakan kisah yang terdiri dari alur maju dan mundur.

Pada awal film, penyebutan beberapa tokoh yang tidak diketahui namanya mungkin membuat bingung, hingga nantinya penonton akan dibawa ke masa lalu pemeran utama.

Untuk mengetahui kisah secara utuh, penonton harus fokus dari awal hingga akhir cerita.

Eksekusi sutradara untuk elemen visual sangat layak diacungi jempol. Karena tak banyak sutradara Indonesia yang percaya diri untuk membangun latar distopia seperti di 24 Jam Bersama Gaspar.

Hanya saja, ada beberapa poin yang harus diperhatikan setelah menonton film ini, pertama tentang penulisan naskah atau skenario dimana ada beberapa bagian dari film yang tidak memiliki alasan kuat dalam adegannya.

Selanjutnya, pemeran pendukung yang terasa hanya sebagai pelengkap tanpa mampu menunjukkan karakter dari masing-masing tokoh. Serta, interaksi antar tokoh yang agak kaku.

Namun sekali lagi, film ini patut untuk di apresiasi dan di tonton, karena sinematografi serta soundtrack pilihan menambah ‘hidup’ film dengan latar belakang distopia ini.

PDAM Makassar