kabarbursa.com
kabarbursa.com
News  

Hari Perempuan Internasional, Kasus Kekerasan dan Pelecahan di Makassar Terus Meningkat

banner 468x60

KabarMakassar.com — Setiap tanggal 8 Maret diperingati sebagai International Woman Day atau Hari Perempuan Internasional setiap tahunnya.

Peringatan Hari Perempuan Internasional  didedikasikan bagi perempuan di dunia untuk mencapai kesetaraan dari segala bidang dan terlepas dari bias serta diskriminasi.

Pemprov Sulsel

Meski begitu, harapan tersebut tak berbanding lurus dengan kenyataan kasus kekerasan dan pelecehan yang terjadi pada perempuan maupun anak.

Di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) misalnya kasus kekerasan dan pelecehan pada perempuan dan anak setiap tahunnya terus meningkat.

Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Perlindungan Perempuan dan Anak (P2A) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Makassar, Muslimin Hasbullah mengatakan kasus kekerasan dan pelecehan pada perempuan dan anak sepanjang tahun 2021-2022 terus meningkat.

Ia mengungkap, sepanjang tahun 2022 kasus kekerasan dan pelecehan yang dilaporkan sebanyak 255 kasus atau 29,07 persen.

Jumlah tersebut terdiri atas 84 kasus kekerasan fisik, 59 kasus penelantaran, 6 kasus bullying, 16 kasus ekploitasi, 20 kasus trafficking human, 45 kasus psikis, 6 kasus penculikan dan 19 kasus lainnya.

"Jumlah korban kekerasan di Makassar itu grafiknya terus naik sepanjang tahun 2021 masuk 2022," ungkapnya.

Sementara itu kasus kekerasan pada anak tahun 2021-2022 mencapai 1.800 kasus dengan kasus kekerasan seksual yang paling banyak.

"Yang paling mengkhawatirkan kita ini adalah karena anak-anak kita di daya yang tadi itu sekitar 70 persen anak semua artinya ada sekitar seribuan anak yang mengalami perubahan batin dan parahnya di kelompok kekerasan seksual yang tertinggi," sambungnya.

Pihaknya menyebut kasus kekerasan pada perempuan dan anak terus meningkatkan akibat kurangnya institusi yang menjunjung moralitas bebas kekerasan seksual serta kurangnya pendampingan yang dibutuhkan oleh anak.

"Jadi jumlah data korban kekerasan di kota Makassar itu grafiknya masih naik, itu di tahun 2021-2022, walupun di tahun di 2022 kasusnya itu sempt berhasil kita hentikan tapi kasus anak itu rupanya masih naik. Jadi banyak faktor mempengaruhi, pertama itu tadi faktor kesiapan masyarakat memasuki era keterbukaan teknologi informasi dan anak itu butuh model pengasuhan yang memahami betul-betul perspektif kebutuhan anak dan institusi yang tidak menjunjung tinggi moralitas bebas kekerasan seksua," jelasnya.

Pihaknya pun memprediksi jumlah kasus kekerasan dan pelecehan pada perempuan dan anak yang tidak terlaporkan lebih banyak dibandingkan kasus yang dilaporkan sehingga pihaknya berharap bagi para korban agar memberanikan diri untuk melapor dan memutus rantai jumlah korban kekerasan dan pelecehan.

"Sangat mungkin kasus yang tidak terlaporkan itu lebih banyak dibanding kasus yang dilaporkan sehingga bagi para korban ayo berani melaporkan," bebernya.

 

 

PDAM Makassar