KabarMakassar.com — Musik kerap menjadi bagian dari keseharian, baik saat beraktivitas, bersantai, maupun ketika seseorang sedang menghadapi suasana hati tertentu. Tak jarang, seseorang memilih lagu yang berbeda sesuai dengan perasaan yang sedang dialami.
Saat merasa sedih, misalnya, seseorang mungkin memilih lagu yang lebih tenang. Sementara ketika membutuhkan semangat, lagu dengan tempo cepat dan ceria dapat menjadi pilihan.
Pilihan tersebut bukan sekadar kebiasaan. National Center for Complementary and Integrative Health (NCCIH) menjelaskan bahwa musik dapat memicu respons emosional serta membangkitkan kenangan dan perasaan tertentu.
Musik juga berkaitan dengan sejumlah proses di otak yang berhubungan dengan emosi, ingatan, sensasi, dan respons tubuh. Karena itu, pengalaman mendengarkan sebuah lagu dapat terasa berbeda bagi setiap orang.
Penelitian mengenai penggunaan musik untuk mengatur emosi menunjukkan bahwa seseorang dapat memilih musik berdasarkan suasana hati atau kondisi emosional yang ingin dicapai. Musik tertentu dapat dipilih untuk membantu menciptakan perasaan yang lebih positif, sementara musik yang menenangkan dapat menemani seseorang ketika ingin mengurangi ketegangan.
Hubungan musik dengan pengalaman pribadi juga menjadi salah satu alasan sebuah lagu dapat memiliki makna berbeda bagi setiap pendengarnya. Kenangan, lirik, melodi, pengalaman pribadi, serta kondisi emosional saat mendengarkan lagu dapat memengaruhi respons seseorang terhadap musik.
Bagi mahasiswa, musik bahkan kerap menjadi teman dalam berbagai aktivitas, mulai dari mengerjakan tugas, perjalanan ke kampus, hingga bersantai setelah menjalani kegiatan sehari-hari. Pilihan musik dapat membantu menciptakan suasana yang dianggap sesuai dengan aktivitas atau kondisi emosional yang sedang dialami.
Dengan demikian, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Bagi sebagian orang, musik juga dapat menjadi bagian dari cara mengekspresikan, mengingat, dan mengatur suasana hati.
Penulis: Rinanda Septhi Anastasya