KabarMakassar.com — Fear of Missing Out (FOMO) menjadi salah satu fenomena yang dekat dengan kehidupan generasi Z di tengah perkembangan media sosial. Paparan terhadap berbagai aktivitas, tren, dan pengalaman orang lain dapat memunculkan rasa takut tertinggal dari sesuatu yang sedang ramai diperbincangkan.
Gen Z, yang umumnya merujuk pada kelompok yang lahir antara 1997 hingga 2012, tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi digital. Media sosial seperti Instagram dan TikTok membuat berbagai informasi mengenai aktivitas orang lain dapat diakses dengan mudah.
Melalui media sosial, pengguna dapat melihat teman maupun orang lain mengunjungi tempat baru, mencoba makanan yang sedang viral, mengikuti tren tertentu, hingga menghadiri berbagai acara. Paparan tersebut dapat membuat seseorang merasa perlu mengikuti pengalaman yang sama agar tidak tertinggal.
Fenomena FOMO juga terlihat dalam kebiasaan mengikuti tren makanan dan tempat nongkrong. Ketika sebuah kafe atau makanan menjadi viral di media sosial, misalnya, muncul ketertarikan untuk datang dan mencobanya.
Pengalaman tersebut kemudian kerap dibagikan kembali melalui Instagram Story maupun TikTok. Siklus melihat tren, mengikutinya, lalu membagikan pengalaman kembali membuat sebuah tren dapat menyebar dengan cepat di kalangan pengguna media sosial.
Di tengah perubahan tren yang berlangsung cepat, keinginan untuk tetap mengikuti perkembangan juga dapat memengaruhi cara seseorang menentukan pilihan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pilihan tempat makan, aktivitas bersama teman, hingga barang atau pengalaman yang dianggap sedang populer.
Namun, mengikuti tren tidak selalu harus menjadi kebutuhan. Media sosial dapat dimanfaatkan untuk memperoleh informasi dan hiburan, tetapi keputusan untuk mengikuti suatu tren tetap dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan, dan kondisi masing-masing.
Memahami FOMO menjadi salah satu cara untuk lebih sadar dalam menggunakan media sosial. Tidak semua hal yang ramai di dunia maya harus diikuti, terlebih ketika keputusan tersebut hanya muncul karena khawatir tertinggal dari orang lain.
Pada akhirnya, tren digital akan terus berubah. Sementara itu, setiap orang tetap memiliki pilihan untuk menentukan aktivitas dan gaya hidup yang sesuai dengan kebutuhan tanpa harus selalu mengikuti apa yang sedang ramai di media sosial.
Penulis: Siti Hajar Kilwakit