Langsung ke konten
Lifestyle

Bahagia Itu Seperti Kuah Bakmi: Hangat, Sederhana, dan Menenangkan

Hari Kesehatan Mental Sedunia menjadi pengingat bahwa bahagia tak harus memiliki segalanya. Belajar menerima ketidaknyamanan dan menikmati hal sederhana dapat membantu menjaga kesehatan mental.

Nofisari Diperbarui
Ilustrasi (Dok: Ist)
Ilustrasi (Dok: Ist)

KabarMakassar.com - Ada satu masa ketika bahagia terasa sederhana : memperoleh sesuatu tanpa hambatan. Rencana berjalan mulus, keinginan terpenuhi, dan semuanya sesuai harapan. Saat itu, bahagia seolah-olah sama dengan kelancaran.

Karena itu, ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, rasanya aneh dan mengganggu. Gejolak perasaan pun muncul: kecewa, cemas, dan kadang kesal. Namun seiring waktu, gejolak itu mereda dengan sendirinya. Dari situ lahir sebuah kesadaran kecil yang menenangkan: toh saya akan melewatinya dan menikmati.

Ketika Bahagia Punya Terlalu Banyak Syarat

Dari pengalaman itu, pembelajaran bisa terjadi bahwa menjadikan "sesuatu" sebagai syarat bahagia hanya akan membuat kita terjerat dan bergantung padanya. Lalu, apakah itu salah? Tidak juga. Wajar jika manusia punya keinginan. Hanya saja, syarat itu cenderung beranak-pinak. Satu terpenuhi, muncul syarat berikutnya. Gaji naik, ingin jabatan. Jabatan dapat, ingin lebih tenang. Kalau bahagia harus menunggu semua daftar itu lengkap, bukankah hidup jadi sangat repot?

Kita juga sering mengalaminya: hal yang dulu begitu kita idam-idamkan, setelah dimiliki, lama-lama terasa biasa saja. Lalu mata kita sudah tertuju pada hal berikutnya. Menyadari pola ini bukan berarti berhenti bermimpi, tetapi tidak menggantungkan seluruh kebahagiaan pada hal-hal di luar diri dan bahkan tidak dapat terkontrol.

Ibarat kuah bakmi yang kita tambahi sambal, kecap, dan saus terus-menerus demi rasa "sempurna". Akhirnya yang kita cari justru hilang: kehangatan kuah aslinya. Kalau bahagia harus menunggu semua bumbu lengkap, hidup jadi sangat repot.

Bagian enaknya : Menikmati Kuah Apa Adanya

Coba bayangkan semangkuk bakmi kuah yang baru diantar ke meja. Uapnya mengepul, aromanya tercium dengan sedap. Kita tergoda untuk langsung menyeruput, lalu: aduh, panas. Lidah kaget, reaksi pertama biasanya ingin buru-buru mengipaskan atau justru meniup-niup sambil kesal pada mangkuknya.

Padahal kuah itu tidak salah. Ia memang panas karena baru mendidih. Yang kita perlukan hanyalah sedikit sabar: mengaduk pelan, meniup perlahan, menunggu beberapa saat. Lalu seruput kedua terasa lain. Hangatnya turun pelan ke dada, bahunya ikut turun, dan menarik napas untuk menikmati.

Begitu pula perasaan yang tidak nyaman. Ia sering datang terlalu panas di awal. Kalau kita melawannya mati-matian, tenaga habis dan lidah tetap kelu. Tapi jika kita beri jeda, perlahan ia menghangat menjadi sesuatu yang bisa kita terima. Sering kali kita mengira orang yang kuat adalah orang yang tidak pernah goyah. Padahal kekuatan sejati manusia justru terlihat saat ia mampu berkata, "Aku sedang tidak nyaman, dan itu boleh." Menerima bukan berarti kalah. Menerima adalah keberanian untuk jujur pada apa yang sedang dirasakan, tanpa menghakimi diri sendiri.

Bahagia itu Sederhana

Seperti halnya yang sangat klise “Bahagia itu Sederhana”. Mari mencoba untuk berlatih mengurangi syarat ini-itu membuat kita menemukan bahwa bahagia ternyata sering bersembunyi di hal-hal kecil.

Semangkuk mie ayam hangat sepulang kantor. Sepiring bakmi kuah di hari Minggu yang terik, dengan uap yang mengepul dan kuah yang tetap menenangkan. Menonton podcast favorit sambil rebahan, tertawa atau mengangguk-angguk pada obrolan yang terasa seperti ditemani seorang teman. Tidak ada yang megah dari semua itu, tetapi justru di situlah hati sering merasa penuh. Kita masih punya daya isi dari hal-hal sederhana, tanpa disadari bahagia itu selalu ada namun kadang kita lupa untuk menikmatinya.

Semua itu membuat hati lebih lembut, lebih mudah berbelas kasih, terutama kepada diri sendiri. Hingga hari ini, prosesnya tetap jatuh bangun. Memeluk ketidaknyamanan memang tidak mudah. Namun ia menjadi teman juang yang membuat saya, kita tetap sadar akan apa yang dirasakan, tanpa harus babak belur melawannya.

Satu lagi pesan kecil yang tak boleh lupa: bawalah tumbler 2 liter ke mana pun melangkah itu bekal untuk menikmati setiap dahaga. Minum air yang cukup menjaga tubuh tetap segar, dan tubuh yang segar membantu pikiran lebih jernih. Supaya tidak ada yang dehidrasi, baik raga maupun jiwa.

Untuk saya yang sedang membaca ini :

Terima kasih diriku, karena telah memberanikan diri menjalani setiap pasang surut keadaan. Perasaan ini akan lewat, seperti uap kuah yang naik lalu menghilang.
Terima kasih untuk hati yang senantiasa bersedia berwelas asih.
Akhir-akhir ini ada saja hal yang membuat lelah, tetapi engkau tetap memilih bangun pagi dan terus berjuang. Aku bangga padamu.

Selamat Hari Kesehatan Mental Sedunia , terima kasih sudah bertahan. Semoga hari ini sehangat semangkuk kuah bakmi, dan jangan lupa minum airmu.

 

Penulis: Galuh Kristiningtyas

Pilihan Lain

Berita Terkait

Lihat Semua