News

Wajibnya Peduli Terhadap Penyalahgunaan Narkoba di Lingkup Kerja

Wajibnya Peduli Terhadap Penyalahgunaan Narkoba di Lingkup Kerja

Kabar Makassar ------ Penyalahgunaan narkoba di tempat kerja semakin meluas, hal ini terindikasi melalui data Badan Narkotika Nasional (BNN) di tahun 2008–2011. Data BNN tahun 2011, menunjukan 70% penyalahguna narkoba di Indonesia (atau sekitar 3 juta penyalahguna narkoba di Indonesia), berada di tempat kerja , hal ini sangat memprihatinkan karena tenaga kerja menjadi tulang punggung yang amat menentukan tingkat produtivitas dan kinerja institusi (pemerintah) maupun swasta (perusahaan) di mana penyalahguna narkoba bekerja.

Penyalahgunaan narkoba didefinisikan sebagai pemakaian narkoba di luar indikasi medik, tanpa petunjuk/resep dokter, secara teratur atau secara berkala sekurang-kurangnya selama satu bulan. Penggunaan narkoba secara illegal yang menimbulkan akibat social dan akibat antara-pribadi (individu) bagi orang yang menyalahgunakan narkoba.

Jenis-jenis narkoba yang paling banyak dikonsumsi (dalam arti) disalah-gunakan di Indonesia, khususnya di tempat kerja dewasa ini adalah ganja, shabu, ekstasi, dan jenis-jenis narkoba yang masuk kedalam golongan ATS (Amphetamine Type Stimulant), serta zat-zat psikoaktif (New Psychoactive Substances/NPS).

Banyak faktor penyebab seseorang melakukan Penyalahgunaan narkoba, antara lain stress, kejenuhan, pengangguran, tekanan kelompok sebaya (peer group), dibujuk, dipaksa, diancam, ketersediaan narkoba di lingkungannya.

Proses penyalahgunaan narkoba dimulai dengan coba pakai (experimental), yaitu sekali pakai atau untuk jangka waktu yang pendek, kemudian beralih kerekreational, yaitu menyalahgunakan narkoba secara sengaja untuk meningkatkan aktivitas dan rekreasi tertentu, selanjutnya beralih keteratur pakai, yaitu ada keputusan dari individu yang bersangkutan untuk menyalahgunakan narkoba sebagai pelarian, untuk membantu mengatasi situasi tertentu didalam kehidupan individu yang bersangkutan.

Reaksi dan koordinasi menjadi lambat, dan dapat mengakibatkan dampak buruk terhadap kinerja individu (penyalahguna). Pelemahan kognitif, sehingga dapat menganggu kemampuan pengambilan keputusan, ingatan, dan waktureaksi.

Melemahkan keterampilan dan pancaindera dampak terhadap persepsi jarak, perkiraan kecepatan, waktu reaksi, koordinasi dan konsentrasi mata, dan gerakan fisik (mis-persepsi ruang dan waktu, sertamis-persepsi pancaindera). Meningkatkan resiko kecelakaan, baik terhadap diri sendiri/orang lain, karena reflex dan daya pertimbangan yang kurang (sangat berisiko bila mengoperasikan peralatant terutama yang membutuhkan konsentras itinggi). Menurunkan produktivitas kerja, menurunkan kualitas produk dan mengancam keamanan kerja orang lain.

Penyalahgunaan narkoba di lingkungan kerja terkadang sulit diidentifikasi, namun terdapat beberapa tanda yang mengisyaratkan kemungkinan pegawai melakukan penyalahgunaan narkoba sering absen (alpa/tidakhadir) untuk waktu yang lama tanpa penjelasan, mengalami kecelakaan di tempat kerja maupun di luar tempat kerja, pola kerja tak menentu dan turunnya produktivitas kerja individu yang bersangkuta, tidak memperhatikan kebersihan diri, reaksi berlebihan tehadap kritikan terhadap dirinya perubahan mood secara tiba-tiba cepat marah atau bersikap agresif, perubahan perilaku, hubungan dengan pimpinan, teman sekerja/ konsumen memburuk, tanda fisik yang nyata seperti kelelahan, hiper.

Memberikan keterampilan kepada pegawai, karyawan yang melakukan Penyalahgunaan narkoba tentang cara-cara, bagaimana mereka dapat menangani dirinya, memberikan bantuan dan dorongan kepada pegawai/karyawan yang bersangkutan untuk mencari bantuan dokter/lembaga konseling, menangani masalah penyalahguna narkoba di lingkungan kerja sebagai permasalahan kesehatan dan keamanan tempatkerja, bukan sebagai alasan untuk melakukan tindakan disiplin atau tindakan pemecatan langsung, merahasiakan pengakuan Penyalahgunaan narkoba dari pegawai yang bersangkutan.

Penerapan kebijakan lingkungan kerja bersih narkoba mengindikasikan adanya kemauan yang kuat dari pimpinan, manajemen tempat kerja untuk melindungi pegawai, karyawannya, melindungi keluarga pegawai, karyawan yang bersangkutan, serta untuk menjaga citra tempat kerja, agar tidak tercemar karena ada pegawai, karyawannya yang menjadi penyalahguna narkoba.

Jikalau penerapan kebijakan tempat kerja bersih narkoba tersebut bersifa tertulis, dan “tersertifikasi” sebagai tempat kerja bersih narkoba oleh institusi yang berwenang (BadanNarkotikaNasional/ BNN) maka seluruh pegawai, karyawan akan menyadari pentingnya keamanan di tempat kerja, dan akan memperoleh manfaat dar ilingkungan kerja yang lebih aman.

Berikut kebijakan lingkungan kerja bersih narkoba.

1. Semua calon pegawai, karyawan yang ditawarkan pekerjaan, yang melamar pekerjaan dites (tes urin, tes darah, tes air liur, tes rambut) terlebih dahulu sebelum dipekerjakan.
2. Melakukan tes untuk deteksi kemungkinan terjadi Penyalahgunaan narkoba, apabila terlihat perilaku yang menimbulkan kecurigaan yang masuk akal.
3. Pasca-rehabilitasi/teslanjutan (follow-up) dilakukan setahun sekali terhadap pegawai, karyawan yang telah pernah direhabilitasi.
4. Tes narkoba sebagai bagian dari teskesehatan fisik tahunan bila ada.
5. Tes pasca-kecelakaan untuk setiap kecelakaan/cedera di tempat kerja yang mengakibatkan kehilangan waktu kerja.

Pegawai yang secara sukarela melakukan inisiatif dan melaporkan kepada pimpinan tempat kerja guna meminta pengobatan, tidak boleh dipecat karena yang bersangkutan meminta bantuan. Pimipinan tempat kerja harus menjamin kerahasiaan hasil tes. Hal ini harus menjadi bagian tidak terpisah dari kebijakan lingkungan kerja bersih narkoba.

BNNP Sulsel
Editor : Marwah

 

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close