Video: Kamisan Makassar Tolak Lupa Kekerasan Difabel di Bone

KabarMakassar.Com — Aksi Kamisan Makassar keenam yang berlangsung hari ini, 11 januari 2018 bertempat di depan Monumen Mandala, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar mengusung fokus perhatian Hak Asasi Manusia (HAM) untuk kekerasan difabel.

Kasus kekerasan HAM pertama yang menjadi perhatian aksi Kamisan Makassar adalah kasus kekerasan yang dialami oleh Andi Takdir, Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kabupaten Bone.

Direktur Eksekutif Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan (PERDIK), Abdul Rahman Gusdur turut hadir dan memberikan penjelasan terkait adanya intimidasi susulan yang diterima oleh Takdir di aksi kamisan Makassar.

“Jadi beberapa bulan yang lalu ada kekerasan di kabupaten bone yang dialami ketua PPPI, intimidasi terus berdatangan kepada korban yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Terakhir rumah korban dilempari oleh beberapa preman dan melontarkan kalimat kalau laporan Takdir tidak dicabut, Takdir bakal tidak tenang berada dikampung itu,” ungkap Rahman menggunakan pengeras suara di aksi kamisan Makassar.

Baca juga :   Sekprov Sulsel Melayat ke Mantan Bupati Pinrang

Tambahnya, terdapat pula ancaman verbal yang didapat oleh Takdir seperti ucapan “saya akan membuktikan siapa yang akan pergi, apakah Takdir atau yang memberi teror” serta adanya pelemparan batu kerumah Takdir disusul ancaman penculikan.

Diskriminasi ini dimulai saat Takdir berjuang dalam membela HAM. Takdir pada 23 Desember 2017, Takdir berusaha memprotes tindakan sejumlah anggota Satpol PP Bone yang membubarkan aktivitas menari salah satu komunitas di Lapangan Merdeka Watampone.

Akibat protes yang dilakukan, Takdir dikerumuni oleh oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dan disiksa hingga mendapat pukulan dibagian belakang kepala Takdir yang merupakan penyandang disabilitas daksa kinetik.

“Dan yang sangat saya sayangkan, sampai detik ini, pihak Pemerintah Daerah (Pemda) melalui Bupati tidak memberikan sanksi terhadap Kepala Satuan (Kasat) Satpol PP sebagai penanggung jawab sentral dari kegiatan tersebut,” Tambahnya.

Baca juga :   Pembicara di Rakerda, Deng Ical: Tikep Belum Terlambat

Menurut Rahman, diskriminasi susulan ini semakin membesar, salah satu Kepada Dinas Kabupaten Bone bahkan menyuruh Takdir mencabut tuntutannya akibat adanya kemarahan Bupati yang akan berdampak pada penundaan dana-dana untuk lembaga yang bergerak pada kegiatan difabel di Bone.

Saat ini, berkas kasus para tersangka pelaku kekerasan terhadap Takdir telah dilimpahkan ke kejaksaan.

“Kemarin Takdir sudah menyampaikan bahwa hari ini pihak kepolisian telah menemui Takdir tadi malam untuk menangani berkas P21, dan alhamdulillah hari ini berkas para tersangka telah dilimpahkan ke kejaksaan. tapi masih ada trik-trik pelaku untuk melepaskan dan meredam kasus ini,” tuturnya.

Selain memfokuskan pada kasus kekerasan yang dialami oleh Takdir, Aksi Kamisan kali ini juga membahas tentang kondisi diskriminasi yang ada di Kota Makassar terhadap kaum difabel.

“Saya saat ini sedang berkuliah, masih bermasalah dengan dosen karena metode pengajaran hanya berfokus pada oral, dan ini bentuk tidak adanya penghargaan kepada saya, tuli dan teman-teman dengar juga masih sulit berkomunikasi. saya merasa bahwa teman-teman dengar terutama pihak universitas tidak boleh melakukan diskriminasi,” Ungkap Anggi, Mahasiswi Tuli yang menuntut ilmu disalah satu Perguruan Tinggi Kota Makassar.

Baca juga :   Pencarian Korban Kapal Tenggelam Dilanjutkan, Tim Pantau Lewat Udara

Anggi, yang dibantu oleh penerjemah Andi Muhammad Mardhatillah mengatakan bahwa materi pengajaran yang ada juga tidak sesuai dengan tingkatan pendidikan yang mereka tempuh dikarenakan kondisi tuli.

“Saya rasa masalahnya sekarang banyak teman-teman dengar tidak menyadari tuli membutuhkan bantuan akses dari teman-teman dengar,” Ungkap Anggi dengan menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo).(*)

Penulis: Muhammad Fajar Nur