Begini Gaya Difabel Cantik Bahas Diskriminasi  

Aktifis Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Kota Makassar, Anggi. Foto: Dok.KM

KabarMakassar.Com — Ditemui usai melakukan Aksi Kamisan Makassar Ke-6 di Monumen Mandala Makassar. Anggi salah seorang penyandang difabel tuli menjadi perhatian masyarakat yang melintas di Jalan Sudirman Makassar.

Tim Redaksi KabarMakassar.Com mencoba mendekati sosok perempuan yang secara kasat mata tampak seperti manusia normal lainnya. Mahasiswi Tuli yang ternyata terdaftar di salah satu perguruan tinggi ini. 

Tampak cerdas menyikapi berbagai persoalan sosial di daerah ini. Aktifis  dari Gerakan untuk Kesejahteraan Tuli Indonesia (Gerkatin) Kota Makassar ini juga aktif memperjuangkan diskriminasi dilingkungan sosial hingga pendidikan di daerah ini. 

“Saya dan teman-teman tuli biasa melihat banyak teman-teman dengar kasar sekali mendiskriminasi teman tuli secara verbal, kita tidak boleh mendiskriminasi, karena kita bisa setara, dan saya sebagai tuli merasa kita bisa setara, saya sakit hati dan sangat sedih melihat diskriminasi itu. Diskriminasi itu datang dari hambatan terkait penggunaan bahasa indonesia dimana teman tuli kata-katanya masih terbalik balik hingga mendapatkan diskriminasi,” ungkapnya.  

Dirinya mengaku telah berkontribusi aktif dalam komunitas difabel terkhusus tuli Kota Makassar. Anggi mengungkapkan diskriminasi yang diterima tidak hanya di masyarakat umum, tetapi juga di ruang pendidikan. 

Anggi sebagai mahasiswi tuli mengungkapkan bahwa diskriminasi yang dia temukan telah ada saat jenjang sekolah menengah, Anggi menyatakan bahwa terdapat perbedaan proses pembelajaran yang tidak sesuai dengan tingkatan pendidikan yang dia tempuh saat itu. 

“Guru mengajar anak anak tuli itu mengajarnya materi-materi dasar, jadi banyak teman-teman tuli mendapat diskriminasi karena jika sudah tamat pendidikan dan daftar kerja itu ditolak hanya karena kondisi tuli dan dianggap tidak mampu. 

Diskriminasi di sekolah itu juga banyak banget, contohnya guru yang menganggap remeh kita, diajarkan hal yang sangat dasar yang tidak sesuai dengan umur saya, seharusnya setara baik dari kurikulum maupun mata pelajaran, dan ini berdampak saat saya kuliah karena saya susah memahami karena di SMA saya hanya mendapat pendidikan yang dasar. belum lagi permasalahan komunikasi dengan dosen dan teman-teman lainnya,” tambahnya.  

Bahasa Isyarat Indonesia

Diskriminasi yang ditemukan pada tingkat perguruan tinggi juga didapat Anggi dan teman-teman lainnya terkhusus tuli karena dosen-dosen masih menggunakan metode pembelajaran hanya melalui oral. 

“Dosen hanya menggunakan metode oral mulu, seharusnya diberikan juga akses baik penerjemah dan bentuk akses lainnya sehingga saya bisa belajar,” ungkapnya dengan menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) yang diterjemahkan oleh Tillah, Penerjemah bahasa isyarat Kota Makassar. 

Andi Muhammad Mardhatillah, Relawan Undeafeted yaitu komunitas yang berfokus pada pembelajaran bahasa isyarat Kota Makassar juga merasakan diskriminasi di Kota Makassar. 

“Hambatan yang dialami itu masih berkutat di hambatan komunikasi, aksesibilitas informasi, dan sebagainya. Kalau di kota makassar, kalau berbicara realitas, jumlah penerjemah itu masih kurang, yang aktif masih kurang 10 orang. Kalau melihat apa yang dialami sama teman-teman tuli, partisipasi teman-teman tuli di seminar dan diskusi masih kurang karena hambatan aksesibilitas informasi. Jika teman-teman tuli tidak dilibatkan diskusi atau seminar akan berdampak terhadap pengetahuan mereka,” ungkap pria yang kerap disapa Tillah. 

Tillah juga mengungkapkan bahwa akses informasi bagi teman-teman difabel sangat dibutuhkan, terkhusus terkait pemahaman penting yang dibutuhkan masyarakat seperti pemahaman terkati proses evakuasi bencana. Terkait apakah Kota Makassar telah layak untuk dikategorikan Kota Ramah Disabilitas, Tillah mengungkapkan tidak dapat dikesampingkan telah adanya progress dalam mengembangkan fasilitas maupun pemahaman yang bertujuan untuk ramah disabilitas. 

“Progressnya udah ada, kalau digedung-gedung udah ada pembagian WC seperti untuk disabilitas dan non-disabilitas, tapi ada juga trotoar yang tidak ramah disabilitas seperti pengguna kursi roda, dan akses lain yang kurang diliat, sekarang aksesibilitas informasi juga minim sekali, contohnya di instansi pemerintah, pernah komunitas tuli mendapat surat untuk pelaporan pajak, teman tuli harus mencari penerjemah bahasa isyarat dulu, dan ini bentuk hambatan yang ada di pemerintah, berbicara pajak seharusnya disaat yang sama tuli harus mendapat benefit dari pajak yang diberikan seperti penyediaan akses buat mereka,” Tambahnya. 

Tillah juga memberikan saran kepada masyarakat Kota Makassar agar lebih ramah disabilitas dengan tidak memandang teman-teman disabilitas/difabel sebagai seseorang yang tidak dapat berbuat apa-apa. 

“Kita tidak perlu mengkasihani mereka, yang harus di embrace atau encourage adalah mereka sudah menerima kondisi mereka, dan yang harus kita lakukan adalah memberikan akses sehingga mereka bisa menjalani hidup mereka sebagaimana kita seharusnya. jadi misalnya jika kita merasa mereka kasihan, mereka tidak perlu dikasihani karena banyak dari mereka yang punya semangat lebih dari kita, ada yang sudah berwirausaha, ada yang sudah financially independent. yang harus kita pahami mereka sudah menerima kondisi mereka, dan yang kita lakukan adalah terus mendukung mereka,” tambah Tillah yang telah menggeluti bahasa isyarat sejak komunitas Undeafeted terbentuk. 

Penulis: Muhammad Fajar Nur

Baca juga :   Tiga Paslon Sudah Mengajukan Diri Daftar di KPU, Agus Belum