Ulang Tahun, AJI Makassar Tebar ‘Virus’ Literasi Media Sosial Aliansi Jurnalis

Ulang Tahun, AJI Makassar Tebar ‘Virus’ Literasi Media Sosial Aliansi Jurnalis

Ulang Tahun, AJI Makassar Tebar ‘Virus’ Literasi Media Sosial Aliansi Jurnalis

Kabar Makassar -- Independen (AJI) Makassar dalam rangka Ulang Tahun ke-23 AJI Indonesia, melakukan beberapa rangkaian kegiatan. Salah satunya, AJI Goes to School’, mengangkat tema ‘Cerdas Bermedia Sosial’. Empat sekolah menjadi bagian dari kegiatan literasi media sosial ini, yaitu SMK Telkom Makassar, SMA Negeri 17 Makassar, MAN Model Makassar, dan SMA Negeri 5 Makassar. Rangkaian dimulai sejak Sabtu-Kamis, 19-24 Agustus 2017.

Dipilihnya tema ini, tidak jauh dari tema sentral yang disuarakan AJI Pusat, yaitu ‘Media dan Ancaman Intoleransi’. Secara spesifik, ada tiga poin yang menjadi bagian dari tema ‘Cerdas Bermedia Sosial’, yaitu Stop Hoax, Bullying, dan Etika Bermedia Sosial.

Nurdin Amir, Ketua Panitia menjelaskan, literasi media sosial menjadi penting saat ini. “Kita melihat generasi milennial atau biasa disebut generasi Z yangg lahir antara '90-an hingga 2000-an adalah pengguna media sosial paling tinggi. Maka kita berharap mereka bisa cerdas dalam menggunakan media sosial,” papar pria yang akrab disapa Nuru ini.

Nuru berharap, melalui edukasi dan literasi yang diberikan, pelajar di Makassar diharapkan mampu cerdas memfilter informasi dari media sosial. “Tujuan utamanya supaya pelajar menyadari dan lebih rajin teliti untuk membedakan mana merupakan berita hoax dan berita fakta. Mengingat dampak akibat dari berita hoax sangat berbahaya,” jelasnya.

Roadshow pertama, AJI Makassar mengunjungi SMK Telkom Makassar dengan melibatkan perwakilan siswa dari kelas 10 dan 11 (Kelas 1 dan 2). Pada sekolah yang terletak di Jalan AP Pettarani Makassar, AJI menghadirkan Saefullah Daeng Gassing atau yang akrab disapa Daeng Ipul. Daeng Ipul merupakan blogger Makassar yang kerap berkampanye mengenai internet sehat. Selain itu, hadir pula Nurul Ulfah Djalawali dari AJI Makassar, dan Kompol Jamal Fathur Rahman SIK selaku Wakasat Reskrim Polrestabes Makassar.

Ketua AJI Makassar, Qodriansyah Agam Sofyan yang membuka kegiatan AJI Goes to School ini (19/8) mengungkapkan, kegiatan ini sejalan dengan semangat Aliansi Jurnalis Independen . AJI berangkat dari semangat independensi jurnalis untuk memberikan informasi yang akurat dan bersikap independen dalam ranah literasi media. Melalui media sosial, masyarakat diminta untuk paham menggunakan informasi yang benar dan akurat. Agam juga berharap, agar para siswa yang hadir mampu memahami etika bermedia sosial dan tidak menekan angka bullying dan hoax.

Sementara itu, pada sesi materi, Daeng Ipul menjelaskan data pengguna media sosial di Indonesia. Ia memaparkan, sebanyak 32,2 juta pengguna media sosial merupakan usia muda atau usia 25-34 tahun. Daeng Ipul juga membandingkan pola remaja pada masanya dengan sekarang. “Kalau kita dulu mau cerita butuh satu minggu untuk pesan sampai karena harus berkirim surat, tetapi sekarang ada aplikasi line, whatsapp, dan kita bisa sharing informasi dalam waktu detik,” paparnya.

Internet, terang Daeng Ipul, mengubah pola komunikasi masyarakat, orang jadi lebih nyaman berkomunikasi di media sosial, atau aplikasi chat dan ruang-ruang perteman jadi lebih luas. Pola informasi pun berubah. “Informasi jadi dua arah, semua orang bisa jadi sumber informasi bahkan media mainstream atau media arus utama sering mengacu pada media sosial,” tambahnya. Selain itu, internet juga mengubah kebiasaan.

“Belanja online jadi lebih marak, mendengarkan musik atau film secara streaming, dan akhirnya kita mengalami ketergantungan pada internet,” paparnya.

Daeng Ipul juga memaparkan jenis dan ciri-ciri hoax. Ia juga mengajarkan cara menangkal hoax. Ia meminta remaja untuk tidak terburu-buru membagikan informasi. “Tidak usah takut kalah cepat, sebelum yakin info itu akurat, jangan dibagikan dulu,” tambahnya. Cara lain, Ia meminta siswa bersikap kritis ketika menerima informasi. “Tapi bila anda terlanjur menyebarkan hoax, maka minta maaflah dan sertakan bukti jika berita itu hoax.”
Wakasat Reskrim Polrestabes Makassar, Kompol Jamal Fathur Rahman SIK mengulas hoax dan media sosial dari sisi hukum.

Jamal mengatakan cybercrime di Indonesia saat ini diatur pada UU Informasi Transaksi Elektronik No 19 Tahun 2016. “Kalau dulu kita masih pakai KUHP sekarang kejahatan siber diatur dalam Undang-undang ITE, makanya saya berharap rekan-rekan pahami regulasi yang ada sehingga tidak kena masalah ini,” jelasnya.

Jamal juga menyinggung ketidakamanan yang terjadi saat ini. Menurutnya, kehadiran smartphone membuat kita menelanjangi diri. Dengan pola online, katanya, semua data harus sama dan ini yang membuat data kita menjadi tidak aman. Ada beberapa poin yang disampaikan Jamal agar terhindar dari kasus yang berhubungan dengan UU ITE. Ia meminta agar siswa memahami regulasi, menagakkan etika bermedia sosial, cek terlebih dahulu kebenaran informasi, dan lebih berhati-hati kalau ingin memposting hal-hal yang sifatnya pribadi, dan belajar dari penyedia jasa seperti google.

“Dalam dua bulan ini, kami mencatat 10 laporan yang bermula dari media sosial. Ada perempuan yang dibawa lari teman facebooknya, padahal baru kenal,” paparnya. Pihaknya juga melakukan patroli media sosial dua jam sehari. “Jadi tim kami juga mengecek masalah yang terjadi di media sosial, dan sering kami temukan,” tambahnya.

Jamal menyilakan para siswa untuk berkreasi tetapi harus positif. “Jangan yang aneh-aneh. Berhati-hati dalam penggunaan media sosial. Jangan jadikan gadget itu boomerang untuk kita. Silakan browsing tapi imbangi dunia nyata dengan dunia maya,” tambahnya. /RLS

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close