News

Triwulan III, Ekonomi Sulsel Kembali Meningkat

Triwulan III, Ekonomi Sulsel Kembali Meningkat

Kabar Makassar-- Ekonomi Sulawesi Selatan pada Triwulan III-2017 diprakirakan kembali meningkat karena didukung oleh kegiatan dunia usaha yang meningkat dan Inflasi yang terkendali.

Berdasarkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 20 dan 22 September 2017 memutuskan untuk menurunkan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 25 bps dari 4,50 persen menjadi 4,25 persen, dengan suku bunga Deposit Facility turun 25 bps menjadi 3,50 persen dan Lending Facility turun 25 bps menjadi 5,00 persen, dan berlaku efektif sejak 25 September 2017.

Penurunan suku bunga acuan ini masih konsisten dengan realisasi dan perkiraan inflasi 2017 yang rendah serta prakiraan inflasi 2018 dan 2019 yang akan berada di bawah titik tengah kisaran sasaran yang ditetapkan dan defisit transaksi berjalan yang terkendali dalam batas yang aman.

Risiko eksternal terutama yang terkait dengan rencana kebijakan Fed Funds Rate (FFR) dan normalisasi neraca bank sentral AS juga telah diperhitungkan.

Penurunan suku bunga kebijakan ini diharapkan dapat mendukung perbaikan intermediasi perbankan dan pemulihan ekonomi domestik yang sedang berlangsung. Bank Indonesia memandang bahwa tingkat suku bunga acuan saat ini cukup memadai sesuai dengan prakiraan inflasi dan makroekonomi ke depan.

Bank Indonesia terus berkoordinasi dengan Pemerintah untuk memperkuat bauran kebijakan dalam rangka menjaga stabilitas makroekonomi dan memperkuat momentum pemulihan ekonomi.

Sampai dengan saat ini, suku bunga kebijakan Bank Indonesia telah mengalami penurunan sebesar 200 bps. Sejalan dengan itu, khusus Sulsel sampai dengan Agustus 2017 rata-rata tertimbang suku bunga DPK telah mengalami penurunan sebesar 56 bps yang diikuti dengan penurunan rata-rata tertimbang suku bunga kredit sebesar 115 bps.

Dengan perkembangan tersebut, rata-rata tertimbang suku bunga DPK perbankan di Sulsel tercatat 3,19 npersen, sementara rata-rata tertimbang suku bunga kredit tercatat sebesar 11,86 persen.

Penurunan BI 7-day Reverse Repo Rate di September 2017 tersebut diharapkan dapat mendorong penurunan suku bunga lebih lanjut sehingga memberikan dampak positif terhadap perekonomian Sulsel ke depan.

Untuk Perkiraan Ekonomi Sulsel Triwulan III 2017, kinerja ekonomi Sulsel diperkirakan kembali meningkat karena didukung oleh peningkatan kegiatan dunia usaha, optimisme masyarakat dan kegiatan usaha sektor pedagangan yang terus meningkat.

Pada triwulan III 2017 berdasarkan tracking indikator terkini pertumbuhan ekonomi Sulsel diprakirakan kembali meningkat pada kisaran 7,3 – 7,7 persen (yoy), dibandingkan triwulan II 2017 (6,63 persen; yoy).

Kondisi tersebut tercermin dari hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang menunjukkan dunia usaha di Sulsel mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya, tercermin dari Saldo Bersih Tertimbang (SBT) triwulan III-2017 sebesar 41,40 persen.

Sektor pertanian, peternakan, kehutanan & perikanan mengalami peningkatan tertinggi dengan SBT 23,21 persen, diikuti sektor PHR yang mengalami peningkatan dengan SBT 9,25 persen.

Peningkatan sektor PHR juga tercermin dari Survei Penjualan Eceran (SPE) yang memperlihatkan kegiatan usaha di sektor perdagangan masih tinggi terlihat dari Indeks Penjualan Rill (IPR) triwulan III-2017 yang tercatat 129,11 meningkat dari triwulan sebelumnya sebesar 127,90.

Sedangkan Perkembangan Inflasi pada September 2017, Sulsel tercatat deflasi didorong oleh penurunan harga kelompok bahan makanan.

Pada bulan September 2017 Sulsel tercatat deflasi sebesar -0,07 persen (mtm), terutama disebabkan oleh penurunan harga komoditas cabai rawit, tomat sayur, tomat buah, bawang merah dan kangkung.

Meskipun secara umum mengalami deflasi, namun terdapat beberapa komoditas yang mengalami kenaikan yaitu biaya sekolah (SD s.d Perguruan tinggi), ikan bandeng, emas perhiasan dan beras.

Dengan perkembangan tersebut maka inflasi Sulsel hingga September 2017 tercatat 3,39 persen (ytd) dan 4,17 persen (yoy) sedikit lebih tinggi daripada inflasi nasional yang tercatat 2,66 persen (ytd) dan 3,72 persen (yoy).

Kedepan Inflasi akan tetap diarahkan berada dalam kisaran sasaran inflasi tahun 2017, yaitu 4%±1 persen. Khusus untuk Oktober, inflasi di Sulsel diperkirakan relatif rendah.

Hal tersebut seiring dengan pasokan bahan kebutuhan yang terjaga dan meredanya tekanan inflasi dari administered price terutama terkait rencana pemerintah untuk tidak menaikkan harga BBM serta tarif listrik hingga akhir tahun.

TPID akan memastikan terkendalinya harga, khususnya komponen volatile food. Disamping itu, TPID akan terus memperkuat koordinasi, antara lain melalui pemanfaatan teknologi aplikasi dan upaya pembenahan jalur distribusi untuk pengendalian inflasi.

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close