News

Tragedi Rohingya, Dalam Bingkai Hubungan Indonesia Myammar

Tragedi Rohingya, Dalam Bingkai Hubungan Indonesia Myammar

Kabar Makassar-- Indonesia dan Myanmar adalah dua bangsa yang bersahabat sedari dulu. Proklamator kita, Presiden Soekarno bahkan menyebut Myanmar -- dulu bernama Burma -- sebagai kawan sejati. Maklumlah karena Burma adalah salah satu negara di Asia yang semenjak awal mengakui kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 23 November 1947.

Selain itu, Myanmar punya peran penting pula dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Alkisah, pesawat kepresidenan RI Dakota RI-001 yang sedang melakukan perawatan berkala di India pada awal Desember 1948 tak bisa kembali tanah air karena terjadinya Agresi Militer Belanda II. Atas prakarsa penerbang Wiweko Supono, pesawat itu diterbangkan ke Myanmar. Negara ini mengizinkannya.

Dari Myanmar, dua kali Wiweko menerbangkan pesawat ini menembus blokade udara Belanda untuk menyelundupkan senjata, peralatan komunikasi dan obat-obatan ke Aceh melalui Pangkalan Udara Lhok Nga dan Pangkalan Udara Blang Bintang (kini Bandar Udara Iskandar Muda).

Karena saat itu Myanmar membutuhkan jasa angkutan udara untuk kepentingan sipil maupun militer menghadapi pemberontakan, atas izin Soekarno, Wiweko kemudian mendirikan maskapai Indonesian Airways di Myanmar. Modalnya ya satu-satunya pesawat tadi. Namanya Indonesian Airways tapi kantor dan usahanya di Myanmar.

Indonesian Airways berkembang di Myanmar, bahkan dari hasilnya, dapat membeli satu pesawat lagi, DC-3 Dakota. Inilah cikal-bakal maskapai penerbangan pemerintah, Garuda Indonesia.

Begitulah. Tujuh puluh tahun kemudian, sejumlah orang, mendesak pemerintah Indonesia untuk mengusir Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, ada yang melemparkan bom molotov ke pagar kedutaan, bahkan ada juga yang meminta pemutusan hubungan diplomatik dengan Myanmar.

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close