Tergerus Perkembangan Teknologi, Jumlah Pete-pete di Makassar Terus Berkurang

Jumlah Angkutan Umum Kota (Pete-pete) di Kota Makassar mengalami penurunan setiap tahunnya.

KabarMakassar.com — Jumlah angkutan kota (pete-pete) yang beroperasi di Kota Makassar setiap tahunnya terus mengalami penurunan. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Makassar, penurunan dari tahun 2018-2019 sebesar 21,7%.

Kepala Seksi Transportasi Publik Dishub Kota Makassar, Rahmawati menyebutkan, pada tahun 2018, jumlah Pete-pete di Makassar yang melakukan registrasi izin trayek ada sebanyak 1.211 unit. Sedangkan 2019, jumlah Pete-pete yang melakukan registrasi izin trayek turun menjadi hanya sebanyak 948 unit.

“Adanya penurunan ini tiap tahunnya karena banyak Pete-pete yang sudah tidak layak untuk beroperasi,” kata Rahmawati, Jumat (13/3).

Selain itu, kata dia, kemajuan teknologi juga disinyalir menjadi salah satu faktor utama dari penurunan beroperasinya angkutan umum ini.

“Termasuk itu juga karena adanya kemalasan akibat adanya transpsortasi online yang semakin menjamur. Semakin banyak penumpang yang lebih memilih menggunakan ojek online,” ujarnya.

Menurut Rahmawati, Dishub juga masih terus melakukan pemantauan terhadap Pete-pete yang beroperasi di Kota Makassar.

“Kami juga sudah berkolaborasi dengan bidang penindakan untuk tiap saat melakukan operasi rutin angkutan kota. Semoga kami bisa mengetahui berap jumlah yang real untuk angkutan Pete-pete ini. Jika ditemukan ada Pete-pete yang beroperasi tapi tidak melaporkan operasionalnya itu, kendaraannya akan di bawa ke kantor untuk dikandangkan,” tegasnya.

Terpisah, Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Makassar, Sainal Abidin juga mengaku adanya penurunan jumlah Pete-pete yang beroperasi setiap tahunnya.

Menurut Sainal, hal ini salah satunya dipengaruhi oleh asemakin banyaknya angkutan umum berbasis online yang beroperasi. Akibatnya, banyak Pete-pete memilih untuk tidak beroperasi karena menganggap biaya pengeluaran lebih besar daripada pemasukan.

“Ini salah satu dampak dampak dari adanya beberapa angkutan alternatif atau angkutan online. Ini semua mempengaruhi penumpangnya angkutan umum khususnya Pete-pete maupun taksi (konvensional) sehingga itu tidak mampu lagi bersaing,” ungkapnya.

Lebih jauh Sainal mengatakan, saat ini pihaknya bersama Dishub tengah mencoba membuat inovasi untuk kembali menarik minat masyarakat menggunakan Pete-pete sekaligus agar mampu bersaing dengan angkutan online.

“Sudah beberapa Pete-pete itu kita siapkan. Kita lengkapi Pete-pete itu dengan alat charge ponsel, dan beberapa fasilitas lainnya juga kita benahi,” terangnya.

Sainal menambahkan, hal lain yang bisa membuat Pete-pete kembali diminati masyarakat adalah Peraturan Gubernur (Pergub) tentang kenaikan tarif angkutan online yang saat ini sementara digodok di Biro Hukum Pemprov Susel.

“Mungkin tidak lama lagi SK Gubernur terkait dengan kenaikan tarif angkutan online itu akan keluar. Kenaikannya cukup tinggi. Nah kalau ini nanti diberlakukan khusunya di Kota Makassar, kemungkinan besar daya kemampuan masyarakat untuk menggunakan angkutan online ini akan sedikit menurun karena tarifnya lebih tinggi dari sebelumnya dan penumpang akan beralih kembali ke Pete-pete,” tutupnya.

Reporter :

Editor :

Herlin

Daus

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on email
Email
Share on print
Print

REKOMENDASI