News

Tajuk: Warisan Gemilang

Tajuk: Warisan Gemilang

Kabar Makassar-- Sulawesi Selatan 19 Oktober 2017, genap berusia 348 tahun. Berbagai perhelatan dilaksanakan menyambut hari jadi tersebut. Untuk pertama kalinya, rumah jabatan Gubernur Sulawesi Selatan total open house. Sampai-sampai masyarakat leluasa menyaksikan lokasi yang paling privasi sekali pun di rumah peninggalan Belanda itu. Tercatat, ketika mendiang Prof.Ahmad Amiruddin menjabat Gubernur Sulawesi Selatan, para tetamu terbatas dibolehkan memasuki beberapa kamar yang selama ini dianggap ‘angker’. Angka hari jadi Sulawesi Selatan itu mengacau kepada terbentuknya jazirah ini yang kemudian beralih menjadi daerah administratif provinsi dengan segala dinamika perkembangannya dari waktu ke waktu. Jika kita menghitung ke belakang angka ulang tahun tersebut, maka patok awal yang dijadikan perhitungan tahun ‘’kelahiran’’ Sulawesi Selatan adalah tahun 1669. Apa yang terjadi pada masa itu?

Dalam sejarah, pada tahun itu masuk dalam kawasan kekuasaan Sultan Hasanuddin (1653-1669 M). Pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin, Makassar mencapai masa kejayaan. Makassar berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan dan memperluas wilayah kekuasaannya hingga ke Nusa Tenggara ( Sumbawa dan sebagian Flores). Julukan ‘’Ayam Jantan dari Timur’’, lantaran keberanian dan semangat perjuangannya untuk Makassar menjadi besar membuat nama Sultan Hasanuddin sangat melegenda di pentas sejarah. Sejarah hanya bisa dikenang, dicatat, dibanggakan, dan jika mungkin diulang pada situasi yang lain. Kemajuan dan perkembangan yang dicapai oleh seorang pemimpin hanya dapat ditilik dan dinilai sesuai situasi dan kondisi zaman pemimpin itu berkuasa. Sehingga, sangat naiflah jika ada yang menilai seseorang itu gagal memimpin, karena situasi dan kondisinya yang berbeda. Terkecuali, pemimpin itu berkuasa pada situasi dan kondisi serta menghadapi permasalahan yang hampir sama dengan pendahulunya. Sulawesi Selatan di era kepemimpinan Dr.H.Syahrul Yasin Limpo, S.H., M.Si, M.H. mencatat kemajuan yang luar biasa. Itu ditandai dan dibuktikan dengan banyaknya penghargaan yang diperoleh Sulawesi Selatan selama masa kepemimpinannya. Penghargaan adalah bukti prestasi yang diperlihatkan oleh seseorang dalam melaksanakan roda pemerintahannya atau profesinya. Lima tahun pertama kepemimpinannya, SYL mengarahkan Sulawesi Selatan untuk menjadi “Provinsi sepuluh terbaik dalam pemenuhan hak dasar pada Tahun 2013”. Tolok ukur pencapaian pembangunan tersebut ditandai

Terwujudnya laju peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) selama lima tahun sebesar 1,18%, sementara laju peningkatan IPM secara nasional hanya sebesar 0,71%. Pencapaian IPM ini menempatkan Sulawesi Selatan sebagai provinsi dengan peringkat ke-6 dalam laju capaian peningkatan IPM. Selama masa kepemimpinan duet Gubernur Sulawesi Selatan Dr.Syahrul Yasin Limpo, S.H.,M.Si, M.H – Wakil Gubernur Ir.Agus Arifin Nu’mang, M.S. terjadi pertumbuhan ekonomi yang sangat menggembirakan. Indikator penting makro ekonomi ini ditandai oleh pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan yang berada pada posisi di atas pertumbuhan rata-rata ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada tahun 2016 mencapai 7,41%, sementara pertumbuhan ekonomi nasional hanya mencapai 5,02%. Keberhasilan itu direspons oleh salah satu. Lembaga survey, Poltracking Indonesia merilis surveinya di Jakarta 13 Juni 2017, mengungkapkan, berdasarkan temuan survei, tingkat kepuasan kinerja Gubernur Provinsi Sulsel Syahrul Yasin Limpo, 69,46% (gabungan antara cukup puas dan sangat puas). Sementara, kinerja Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang adalah 62,50 %.

Tentu tidak cukup ruang ini untuk menjejer keberhasilan dan prestasi itu. Namun, di balik ratusan penghargaan tersebut, yang paling prestisius adalah penghargaan tertinggi di bidang keuangan dari Menteri Keuangan Sri Mulyani. Penghargaan tersebut diserahkan Kepala Kantor Wilayah Ditjen Perbendaharaan Negara Sulawesi Selatan Marnir Misnur kepada Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo di rumah jabatan gubernur, 18 Oktober 2017.

Kita perlu memberi apresiasi yang sangat positif terhadap penghargaan ini. Pasalnya, di tengah daerah-daerah lain bermasalah dengan urusan keuangannya, Sulawesi Selatan justru harus berbangga dengan penghargaan di bidang keuangan tersebut. Pada saat daerah-daerah lain ramai dengan kasus tindak pidana korupsi, Sulawesi Selatan – syukur - bisa tidur nyenyak karena ketiadaan kasus rasuah itu yang yang heboh seperti daerah lain. Meskipun kita tidak menafikan, di daerah ini pernah ada kasus tindak pidana korupsi yang sudah inkracht. Mengiringi Hari Jadi ke-348 Sulawesi Selatan ini yang perlu kita sikapi adalah tetap menjaga harmonisasi kehidupan dalam berbagai sektor aktivitas. Tetap menjaga stabilitas keamanan, hingga warga provinsi ini dapat beraktivitas tanpa merasa terancam oleh faktor apa pun. Pertahankan prestasi yang berhasil dicapai di bawah era kepemimpinan SYL – panggilan akrab Syahrul Yasin Limpo. Sebab, mempertahankan itu jauh lebih sulit ketimbang merebutnya. Dirgahayu Sulawesi Selatan! Apa yang dicapai sekarang adalah warisan gemilang para pendahulu.Tetap dan teruslah gemilang!!!

Merupakan kesultanan Islam di Sulawesi bagian selatan pada abad ke-16 Masehi yang pada mulanya masih terdiri atas sejumlah kerajaan kecil yang saling bertikai.Daerah ini kemudian dipersatukan oleh kerajaan kembar yaitu Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo menjadi Kesultanan Makassar. Cikal bakal Kesultanan Makassar adalah dua kerajaan kecil bernama Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo ini terletak di semenanjung barat-daya Sulawesi dengan kedudukan strategis dalam perdagangan rempah-rempah. Seperti yang terjadi di bandar rempah-rempah lainnya, para pedagang muslim juga berupaya menyebarkan ajaran Islam di Makassar. Awalnya Upaya penyebaran agama Islam dari Jawa ke Makassar tidak banyak membawa hasil. Demikian pula usaha Sultan Baabullah dari Ternate yang mendorong penguasa Gowa-Tallo agar memeluk agama Islam. Islam baru dapat berpijak kuat di Makassar berkat upaya Datok Ribandang dari Minangkabau.

Pada tahun 1650, Penguasa Gowa dan Tallo memeluk agama Islam. Dalam perjalanannya kerajaan masing-masing, dua kerajaan bersaudara ini dilanda peperangan bertahun-tahun. Hingga kemudian pada masa Gowa dipimpin Raja Gowa X, Kerajaan Tallo mengalami kekalahan. Kedua kerajaan kembar itu pun menjadi satu kerajaan dengan kesepakatan “Rua Karaeng se’re ata” (dua raja, seorang hamba). Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo ini akhirnya
meleburkan.

Berikut ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan Kesultanan Makassar menjadi besar:

1. Letaknya strategis.
2. Memiliki Pelabuhan yang baik.
3. Jatuhnya Malaka pada tahun 1511 ke tangan Portugis yang
menyebabkan pedagang Islam pindah ke Makassar.

Perkembangan Kesultanan Makassar tidak terlepas dari peranan Raja-raja yang memerintah. Adapun Raja-raja yang pernah memerintah Kesultanan Makassar, antara lain sebagai berikut:

1. Sultan Alauddin (1591-1639 M). Sultan Alauddin sebelumnya bernama asli Karaeng Matowaya Tumamenaga Ri Agamanna dan merupakan raja Makassar pertama yang memeluk agama Islam. Pada pemerintahan Sultan Alauddin, Kerajaan Makassar mulai terjun dalam dunia pelayaran dan perdagangan.
2. Sultan Muhammad Said (1639-1653 M). Pada Pemerintahan Sultan Muhammad Said, perkembangan Makassar maju pesat sebab Bandar transit, bahkan Sultan Muhammad Said juga pernah mengirimkan pasukan ke Maluku untuk membantu rakyat Maluku berperang melawan Belanda. Kehidupan sosial Kesultanan Makassar adalah feodal. Masyarakat Makassar dibedakan atas 3 lapisan atau kelas, yaitu:
1. Kareng yang terdiri dari keluarga Raja dan dari kaum Bangsawan.
2. Tusamaraq atau Tumaradeka adalah gelar untuk rakyat biasa, penduduk yang bebas tdk bisa diperintah oleh kaum Karaeng.
3. Ata untuk Hamba Sahaya yaitu kaum pekerja dari Karaeng.

Foto: Int.

Redaksi

Related Articles

Close
Close

Please enter your username or email address. You will receive a link to create a new password via email.

Close

Close
%d bloggers like this: