Tajuk : Giziku Buruk, Gizi mu ?

ilustrasi

Kabar Makassar — Sulawesi Selatan kembali lagi dihantui kasus gizi buruk. Temuan kasus gizi buruk warga Bulukumba bernama Komeng (17) menjadi fokus pembicaraan publik di dunia maya.

Di tengah angka pertumbuhan ekonomi Sulsel yang terus bertahan diatas angka pertumbuhan nasional. Ternyata, masih menyisakan berbagai persoalan yang tidak seharusnya menjadi beban pemangku kebijakan di daerah ini.

Kasus yang menimpa keluarga Puang Nompo di Bulukumba, Sulsel ini cukup menyesakkan dada. Pekerja buruh panggilan ini harus menanggung penderitaan anaknya yang terbaring lemah selama 10 tahun akibat gizi buruk.

Di tengah keterbatasan dan kekurangan biaya pengobatan, Warga Dusun Tamampalalo Desa Tamatto, Kecamatan Ujungloe Kabupaten Bulukumba ini tidak tersentuh beragam program kesehatan dan perbaikan gizi dari pemerintah setempat. Bertahun-tahun keluarga Nompo harus menanggung penderitaan anaknya yang gizi buruk.

Baca juga :   HUT Proklamasi Terakhir SYL di Rujab Gubernuran

Gizi buruk yang dikenal Marasmus-Kwashiorkor dalam dunia medis. Kasus ini adalah Malnutrisi atau kesalahan dalam pemberian nutrisi. Kesalahan itu bisa berupa kekurangan maupun kelebihan nutrisi.

Kasus yang menimpa keluarga Puang Nompo ini cukup serius. Kasus ini mungkin salah satu contoh yang kebetulan menjadi perhatian publik. Gizi buruk tidak bisa dipisahkan dengan persoalan kemiskinan. Tidak sedikit program pemerintah yang digelontorkan di daerah untuk menekan angka kemiskinan dan perbaikan gizi. Belum lagi, alokasi anggaran kesehatan yang tidak sedikit disiapkan di tingkat Pemerintah Kabupaten/Kota hingga tingkat Pemerintah Provinsi.

Entah program itu tidak tepat sasaran atau tidak diketahui publik yang membutuhkan. Atau ada permasalahan pengelolaan anggaran di tingkat daerah. Diketahui anggaran belanja pemerintah daerah cukup besar dialokasikan di sektor kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Apakah komitmen itu, berjalan di tingkat bawah.

Baca juga :   Target Rampung Akhir Tahun, Stadion Barombong Ambruk

Jika persoalan gizi buruk tidak ditangani secara serius, maka daerah ini tidak akan memiliki generasi penerus bangsa yang berkualitas. Di tangan mereka itulah yang akan menentukan nasib daerah ini kelak.

Masalah gizi adalah persoalan mendesak yang harus segera diatasi di daerah ini. Terlambat menanganinya bisa membawa dampak yang jauh lebih parah dari sekadar bencana banjir dan tanah longsor.

Persoalan kekurangan gizi bukan menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun semua pihak harus bahu membahu dan bergotong royong untuk meningkatkan kepedulian terhadap gizi anak dan balita karena merekalah yang akan menjadi penerus bangsa.

Baca juga :   Agus Geram, Kinerja "Sayang" Disinggung Tim NA

Semua sadar betapa besar pengaruh gizi buruk terhadap masa depan daerah ini. Kekurangan gizi bisa menghambat pertumbuhan ekonomi, angka kemiskinan meningkat, dan menyebabkan rendahnya kualitas SDM.

Apakah kita harus bangga dengan pencapaian dan kemajuan yang ada saat ini. Ketika kebutuhan dasar masyarakat Sulsel belum dijamin bisa terpenuhi. Sebentar lagi kita akan menentukan sikap dalam pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah serentak di Sulsel. Siapa yang bisa menjamin daerah ini akan bebas dari kantong gizi buruk ??? (*/nck)