Kampung Sutera, Desa Pakanna Penghasil Tenun Ole-ole Sengkang

KabarMakassar.com — Kampung sutera yang berada di Dusun Impa-impa, Desa Pakanna, Kecamatan Tanasitolo, Kabupaten Wajo yang berjarak sekitar 3 kilometer dari kota Sengkang.

Kampung Sutera di Wajo tersebut, menjadi objek dentinasi wisata budaya yang banyak di minati oleh wisatawan dalam negeri hingga dari mancanegara.

Selain menjadi tempat wisatawan berkunjung, kampung sutera tersebut juga sebagai potensi peluang industri yang menopang perekonomian masyarakat setempat, karena sebagian besar rumah tangga di wilayah tersebut bekerja sebagai penenun.

Proses penenunan benang menjadi kain sutera masihlah sangat tradisional, dimana para pekerja tenun masih menggunakan alat tenun manual, bukan dari mesin pada umumnya.

Produksi kain tenun asli Sulawesi Selatan asli kain sutera ini, di bandrol dengan harga yang terjangkau mulai dari puluhan ribu rupiah hingga ratusan ribu, tergantung dari jenis kain dan tingkat kerumitan pembuatannya.

Kain tenun ini juga memiliki berbagai motif yang khas di antaranya Cobo, Makkalu, Balo Tettong, dan Balo Renni. Ada pula yang motif aksara khas dari Bugis dan motif yang serupa dengan ukiran Toraja.

Dari tenunan tersebut, bisa lahir tiga macam tenun yang diproduksi, mulai dari tenun ikat, tenun polos, dan tenun variasi.

Tenun sutera polos tidak bermotif, hanya bermain di satu warna benang. Sedangkan  tenun ikat memakai dua hingga tiga warna benang yang disatukan. Sedangkan tenun variasi adalah perpaduan ikat dan polos.

Untuk diketahui pula, jika kampung sutera di Sengkang memiliki penginapan bagi wisatawan yang ingin belajar dan menyaksikan proses pembuatan kain tenun secara langsung dalam waktu berhari-hari. hal itu juga menarik wisatawan lainnya datang berkunjung.

Tak heran banyak wisatawan domestik dan mancanegara tertarik untuk memboyong kain khas tersebut sebagai ole-ole dari Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan.

Sulsel Target 7,7 Juta Kunjungan Wisnus

KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulsel menargetkan jumlah kunjungan wisatawan Nusantara (Wisnus) ke Sulsel di tahun 2020 sebesar 7,7 juta pengunjung.

Sejumlah event-event pariwisata di Sulsel yang dikemas dengan beragam tema dan kegiatan diyakini mampu menarik para wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk berlibur ke Sulsel, sekaligus menjadi sarana pencapaian target kunjungan tersebut.

“Tahun 2020 ini ada sekitar 60 event pariwisata yang akan kami gelar. Dari 60 tadi ini, ada beberapa yang telah ditetapkan sebagai agenda tahunan dan masuk dalam kalender event pariwisata 2020 Wonderfull Indonesia,” kata Kepala Disbudpar Sulsel, Denny Irawan, Kamis,(13/2).

Contohnya saja, kata dia, pada Februari ini akan digelar Pesta Adat Ma’Gaukang Dg Riolo di Kabupaten Jeneponto. Lalu, pada 12 Februari akan digelar Trail Adventure Luwu. Kemudian pada 20 Februari ada Parepare Fair dan TP Fest, 19-21 Februari Festival Budaya To Berru, 22 Februari ada Sinjai Culture Carnaval, dan di hari yang sama juga ada event Parepare Off Road Jelajah Bumi Bj Habibie.

Setiap event tersebut, kata dia, masing-masing akan memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

“Kami sampaikan kepada pihak penyelenggara agar seluruh event wisata tersebut mampu memantik daya tarik para wisatawan,” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Denny, seluruh event yang digelar juga diupayakan untuk berlangsung secara berkesinambungan agar mampu dipromosikan secara berkelanjutan. Meski begitu, jika digelar pada tahun berikutnya, event tersebut akan dikemas dengan konsep yang berbeda tanpa meninggalkan tema inti dari event itu sendiri.

“Tiap tahun kami akan hadirkan kreativitas dan inovasi yang berbeda dari masing-masing event agar ada peningkatan, sehingga wisatawan tertarik untuk berkunjung kembali atau paling tidak bisa dipromosikan di negaranya,” ujarnya.

Lebih jauh Denny mengatakan, Sulsel juga telah memiliki sejumlah event wisata andalan yang telah masuk dalam kalender event Kementerian Pariwisata, seperti Toraja Internasional Festival (TIF) yang digelar pada 19-21 Juli; Festival Salo Karajae di Kota Parepare pada 27 September; Eight Festival and Forum (F8) Makassar yang akan dihelat pada 7-11 Oktober; dan Festival Phinisi yang akan digelar di Kabupaten Bulukumba pada 14-17 Oktober.

“Selain empat event unggulan tersebut, ada juga beberapa event wisata yang bisa dinikmati wisatawan dan telah dilaksanakan sejak tiga tahun terakhir, seperti Beautifull Malino yang akan diselenggarakan pada 17-19 Juli; Toraja Marathon pada 18 April; dan Festival Kemilau Toraja pada 1-31 Desember,” paparnya.

Sekadar diketahui, tak hanya menargetkan Wisnus, Disbudpar Sulsel juga menargetkan dapat mendatangkan wisatawan mancanegara (Wisman) sebanyak 325 ribu kunjungan. Dengan demikian, secara total Disbudpar Sulsel menargetkan jumlah kunjungan wisatawan sebesar 8 juta kunjungan di tahun 2020 ini.