Perlu Dipahami, Begini Protokol Penangan Jenazah Pasien Covid-19

KabarMakassar.com — Ketengangan antara keluarga pasien dengan petugas keamanan dan Tim Gugus Tugas Covid-19 yang bertugas melakukan penanganan (pemulasaran hingga pemakaman) jenazah pasien Covid-19, masih saja terjadi.

Terbaru, keluarga salah satu pasien berstatus PDP (pasien dalam pengawasan) yang meninggal dunia di RS Stella Maris Makassar, Sabtu (4/4) sempat beradu tegang dengan petugas yang berjaga disana.

Penyebabnya, pihak keluarga pasien memaksa membawa pulang jenazah untuk dilakukan pemulasaran dan dikebumikan sendiri, dengan alasan pasien yang meninggal tersebut masih berstatus PDP dan belum positif terinfeksi Covid-19.

Namun sesuai SOP dan protokol kesehatan yang ada, penanganan jenazah pasien Covid-19 tetap dilakukan oleh petugas yang telah ditunjuk (Satgas Covid-19) dan dimakamkan di pemakaman khusus korban Covid-19 di Samata, Kabupaten Gowa.

Setelah diberi penjelasan dan edukasi terkait penanganan pasien Covid-19, akhirnya pihak keluarga pasien bisa menerima SOP yang diterapkan oleh petugas dari Tim Satgas Covid-19.

Penjabat Walikota Makassar, Iqbal Suhaeb mengatakan, hal-hal semacam ini terjadi akibat kurangnya pengetahuan masyarakat terkait informasi penanganan korban Covid-19 yang meninggal dunia.

“Memang masih ada yang kurang paham bahwa selama belum ada hasil dari lab (positif atau negatif), semua pasien Covid-19 yang berstatus ODP dan PDP itu jika meninggal penaganan atau perlakuannya sama dengan pasien positif. Sementara yang dipahami masyarakat, kalau belum ada hasil positif, maka dia bukan pasien Covid-19,” kata Iqbal.

Untuk menghindari kejadian seperti ini kembali terulang, Iqbal mengaku telah melakukan koordinasi dengan suluruh Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di tingkat kecamatan yang ada di Kota Makassar untuk lebih intens memberi eukasi kepada masyarakat di wilayahnya masing-masing.

“Tadi saya instruksikan lagi supaya gugus tugas di tingkat kecamatan itu melibatkan seluruh komponen sampai pada Bhabinkamtibmas, Babinsa dan tokoh-tokoh agama untuk mengedukasi masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Husni Thamrin pada Selasa (31/3 lalu telah menjelaskan, jika seorang pasien berstatus PDP meningal dunia sebelum ada hasil dari Laboratorium yang menyatakan bahwa si pasien tersebut negatif Covid-19, maka proses pemulasaran hingga pemakamannya dilakukan sesuai standar penanganan jenazah pasien positif Covid-19.

“Selama belum ada hasil lab yang menyatakan dia negatif, maka penanganannya (pemulasaran dan pemakamannya) dilakukan seperti penanganan jenazah pasien positif. Itu sesuai standar WHO (badan kesehatan dunia),” kata Husni melalui video canference, Selasa (31/3) lalu.

Husni juga meminta masyarakat untuk tidak menolak pemakaman jenazah korban Covid-19. Ia memastikan, sebelum dibawa ke pemakaman, semua jenazah pasien Covid-19 dalam kondisi yang sudah steril dan tidak akan menularkan virus.

“Jenazah tersebut ketika dibungkus oleh petugas dan pihak rumah sakit sudah dalam kondisi steril, sudah disemprot, sudah dibungkus plastik. Setelah itu, baru dimasukkan dalam peti. Petinya juga sebelum dipaku, itu dilem. Nah setelah itu dikuburkan. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan,” ujarnya.

Menurut Husni, yang seharusnya perlu ditakutkan masyarakat adalah jika ada pasien Covid-19 meninggal dalam status PDP, kemudian tidak diperlakukan layaknya pasien positif Covid-19.

“Sebenarnya ini tidak perlu ada penolakan. Masyarakat harus diberi pemahaman. Pasien Covid-19 yang dinyatakan meninggal dunia sudah dilakukan pemulasaran yang sesuai standar WHO, bahkan sampai pada pengantaran serta pemakaman,” pungkasnya.

1 Pasien Positif dan 2 PDP di Pinrang Lakukan Isolasi Mandiri

KabarMakassar.com — Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pinrang, Dyah Puspita Dewi,menyampaikan update data jumlah kasus Covid-19 di Kabupaten Pinrang, Sabtu (4/4).

Menurut Dewi, Hingga pukul 07:30 WITA, jumlah pasien yang terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19 totalnya ssebanyak 2 orang. Dari jumlah tersebut, 1 orang yang dirawat di RSUD Andi Makkasau Parepare sudah dinyatakan sembuh dan dipulangkan ke rumahnya pada Jumat (3/4) kemarin. Sementara 1 lainnya melakukan isolasi mandiri di rumah.

“Dia (pasien positif Covid-19) isolasi mandiri, karena tidak ada gejala apapun. Bahkan tidak merasakan sakit,” kata Dewi kepada Kabarmakassar.com, Sabtu (4/4) siang.

Dewi menjelaskan, sesuai protap yang ada, hal itu (isolasi mandiri) memang dimungkinkan bila si pasien bisa disiplin dan benar-benar tidak keluar rumah dan tidak menerima kunjungan selain komunikasi dengan Tim Gerak Cepat (TGC) dari Dinas Kesehatan untuk menyampaikan keluhan atau pemberian vitamin.

“Mereka yang isolasi mandiri itu sebelumnya telah membuat pernyataan bahwa mereka mau menepati aturan, ya isolasi mandiri,” terangnya.

Lebih jauh Dewi menyampaikan, untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di kabupaten Pinrang jumlahnya ada sebanyak 3 orang. 1 dirawat di RSUD Lasinrang Pinrang, dan 2 lainnya isolasi mandiri.

“PDP 3 orang sudah diambil spesimennya. 1 orang dirawat di RSUD Lasinrang, 2 orang isolasi mandiri. Mereka juga sudah membuat pernyataan. Mereka solasi mandiri karena tanpa gejala atau sakit. Tapi mereka tetap dalam pengawasan Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Sementara untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) di Kabupaten Pinrang jumlahnya ada sebanyak 7 orang, dan semuanya masih dalam proses pemantauan.

“Sedangkan untuk Orang Tanpa Gejala (OTG) atau orang dalam risiko ada sebanyak 731 orang. 502 orang diantaranya masih dalam proses pengamatan, dan 229 orang lainnya selesai pengamatan,” tutupnya.

Dinyatakan Sembuh, Ini Permintaan Prof. Idrus untuk Pasien Covid-19

KabarMakassar.com — Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2006 – 2010 dan 2010 – 2014, Prof. Idrus Paturusi, menjadi salah satu pasien positif Covid-19 di Sulsel yang dinyatakan sembuh.

Melalui rekaman video berdurasi 24 menit, Prof. Idrus meminta seluruh pihak termasuk pasien bisa bersikap terbuka dan berbesar hati menghadapi wabah Virus Corona (Covid-19) ini.

Menurut Prof. Idrus, keterbukaan dan kebesaran hati para pasien yang terpapar virus ini untuk mengungkapkannya ke publik menjadi sesuatu yang sangat penting untuk bisa memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Dampak dari keterbukaan para pasien Covid-19 ini akan sangat besar dalam memutus rantai penyebaran virus tersebut,” kata Prof. Idrus dalam rekaman video tersebut.

Prof. Idrus mencontohkan seperti yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Gowa, yang bisa bertindak cepat dalam dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 di wilayahnya. Dimana salah satu faktor pendukungnya adalah keterbukaan dirinya menyampaikan ke pemerintah dan publik bahwa statusnya sebagai seseorang yang telah dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

“Alhamdulillah, saya melihat kesigapan tim dari Sulawesi Selatan dan saya kira cukup bagus, utamanya tim dari Pemkab Gowa. Sebelum saya dinyatakan menderita virus, mereka tahu bahwa saya di kebun. Mereka datang menyemprot rumah, kemudian memeriksa orang-orang yang diperkirakan melakukan kontak dengan saya. Ini adalah tindakan yang saya kira luar biasa,” ujarnya.

Sekadar diketahui, dalam video yang beredar tersebut, Prof. Idrus juga banyak bercerita bagaimana ia melawan Covid-19 hingga akhirnya ia dinyatakan sembuh.

Prof. Idrus Apresiasi Kesigapan Pemkab Gowa Tangani Covid-19

KabarMakassar.com — Rektor Universitas Hasanuddin (Unhas) periode 2006 – 2010 dan 2010 – 2014, Prof. Idrus Paturusi, menjadi salah satu pasien positif Covid-19 di Sulsel yang dinyatakan sembuh.

Melalui rekaman video berdurasi 24 menit yang beredar, Prof. Idrus mengatakan, tim penanggulangan Covid-19 Sulsel telah bekerja sangat baik. Bahkan, ia mengapresiasi secara khusus kesigapan tim dari Peemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 ini.

“Alhamdulillah, saya melihat kesigapan tim dari Sulawesi Selatan dan saya kira cukup bagus, utamanya tim dari Pemkab Gowa,” ungkapnya, dalam video berdurasi 24 menit yang beredar.

Pasalnya, kata dia, tim dari Pemkab Gowa bertindak cepat melakukan penyemprotan disinfektan di lokasi yang pernah dikunjunginya di wilayah Kabupaten Gowa, sebelum ia dinyatakan positif terinfeksi Covid-19.

“Sebelum saya dinyatakan menderita virus, mereka tahu bahwa saya di kebun. Mereka datang menyemprot rumah, kemudian memeriksa orang-orang yang diperkirakan melakukan kontak dengan saya. Ini adalah tindakan yang saya kira luar biasa,” ujarnya.

Menurut Prof. Idrus, langkah pencegahan itu juga tentunya bisa dilakukan oleh pemerintah karena keterbukaan dirinya atas statusnya (terinfeksi Covid-19).

Olehnya itu, Prof. Idrus berharap para pasien yang dinyatakan terpapar atau terinfeksi Covid-19 untuk lebih terbuka dan berbesar hati mengungkapnya ke publik.

“Dampak dari keterbukaan para pasien Covid-19 ini akan sangat besar dalam memutus rantai penyebaran virus tersebut,” ucapnya.

Sekadar diketahui, dalam video yang beredar tersebut, Prof. Idrus juga banyak bercerita bagaimana ia melawan Covid-19 hingga akhirnya ia dinyatakan sembuh.

Dihantam ‘Badai Covid-19’, Puluhan Hotel di Sulsel Tutup dan Rumahkan Karyawan

KabarMakassar.com — Puluhan hotel di Sulawesi Selatan (Sulsel) menghentikan operasional dan merumahkan karyawannya untuk sementara waktu. Hal ini terpaksa dilakukan para pengusaha industri perhotelan karena minimnya tamu atau pengunjung akibat mewabahnya virus Corona (Covid-19).

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulsel, Anggiat Sinaga mengatakan, perhari ini, setidaknya sudah ada 41 hotel di Sulsel yang terpaksa melakukan hal tersebut (menghentikan operasional dan merumahkan karyawan).

“Tutup dan tidak mampu lagi hidup karena tidak ada tamu,” kata Anggiat, Sabtu (4/4).

Jumlah hotel di Sulsel yang memilih untuk tutup dan merumahkan karyawannya ini, kata dia, masih akan terus bertambah. Hal ini karena belum ada yang bisa memastikan kapan wabah Covid-19 ini berakhir dan kondisi bisa membaik

“Itu pasti (bertambah). Hari ini saja sudah masuk lagi penyampaian bahwa 1 lagi hotel akan tutup, seperti Hotel Pantai Gapura di Makassar,” terangnya.

Menurut Anggiat, jumlah karyawan hotel di Sulsel yang terdampak akibat keputusan para pengusaha industri perhotelan ini bisa mencapai 1.600 orang.

“Prediksi atau hitung-hitungan kita jumlahnya bisa tembus sekitar 1.600 karyawan,” ujarnya.

Anggiat berharap, ada perhatian dari pemerintah baik pusat maupun daerah untuk industri perhotelan di masa-masa sulit seperti ini, khususnya bagi karyawan hotel yang terpaksa harus dirumahnkan.

“Hingga hari ini belum ada insentive bagi yang dirumahkan. Kita berharap bantuan langsung tunai (BLT) bisa segera dijalankan atau disalurkan untuk menghindari kriminalitas di masyarakat akibat banyaknya masyarakat yang tak bisa bekerja ataupun kehilangan pekerjaan dengan kondisi seperti ini,” pungkasnya.

Semua Pemudik yang Masuk ke Sulsel Bakal Diisolasi 14 Hari

KabarMakassar.com — Para pemudik dari luar daerah yang datang ke Sulsel ataupun warga Sulsel yang baru tiba dari berpergian ke luar daerah, akan menjalani masa karantina selama 14 hari. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi meluas dan bertambahnya penyebaran virus Corona (Covid-19) di Sulsel.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah mengatakan, cara terbaik untuk memotong rantai penyebaran Covid-19 yakni melakukan isolasi wilayah dan memperketat seluruh pintu masuk. Termasuk pelabuhan penumpang yang ada di Parepare dan Makassar.

“Yang kita lakukan sekarang ini bagaimana menjaga pintu-pintu masuk dengan baik. Ini akan muncul masalah baru, kalau tidak dijaga dengan baik. Alhamdulillah sudah ada kebijakan pemerintah untuk itu,” kata Nurdin saat meninjau kesiapan Pelabuhan Nusantara Parepare untuk menerima penumpang dari Nunukan dan Samarinda, Jumat (3/4) kemarin.

“Kita tidak menutup, tapi semua yang masuk di pelabuhan kita isolasi 14 hari. Kenapa harus melakukan isolasi, supaya masa inkubasi (virusnya) itu selesai,” sambungnya.

Menurut Nurdin, episentrum penyebaran Covid-19 di Sulsel saat ini ada di Kota Makassar. Pemerintah sudah melakukan pemetaan dan ada beberapa langkah yang dilakukan untuk menyikapi hal ini, termasuk isolasi wilayah baik tingkat RT, RW dan Kelurahan.

Olehnya itu, Nurdin berharap, seluruh masyarakat Sulsel mendengar imbauan dan menaati seluruh aturan, baik dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten kota.

“Mudah-mudahan semua saudara kita mendengarkan peraturan pemerintah. Kalau masuk di Sulsel, harus melakukan isolasi,” tegasnya.

Terkait biaya dan kebutuhan yang muncul dalam program karantina pemudik ini, Nurdin mengatakan, hal itu akan ditanggung bersama ileh pemerintah provinsi dan pemerintah daerah.

“Nanti kita bareng, sama-sama,” ujarnya.

Sebelumnya, Nurdin juga telah mengimbau warga Sulsel agar tidak pulang kampung (mudik) di tengah pandemi Covid-19.

Dengan tidak pulang kampung, kata dia, hal itu sudah cukup membantu memutus mata rantai penularan Covid-19 tersebut.

“Kita sudah menyampaikan berkali-kali bahwa tidak pulang kampung sudah mendukung pemutusan rantai virus Corona ini. Yang tidak pulang kampung saja sudah membantu kita,” kata Nurdin di Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Cobid-29, Rabu (1/4).

Nurdin menjelaskan, meskipun warga yang pulang kampung tidak membawa virus, namun dikhawatirkan mereka akan membawa virus saat balik ke tempat tinggal sebelumnya.

“Mereka kalau pun dia tidak membawa penyakit dari sini, begitu juga sebaliknya. Dia disana kena, masuk kesini berbaur keluarga. Keluarga bisa kena. Jadi tidak pulang sudah sangat membantu memotong rantai penularan corona ini,” ujarnya.

Olehnya itu, Nurdin berharap masyarakat memilih untuk melakukan isolasi mandiri di tingkat RT, RW dan kelurahan masing-masing.

“Kita isolasi mulai dari tingkat RT, RW, kelurahan. Itu memang kita harus kita lakukan. Kan sekarang ini kita sudah petakan episentrum penyebaran. Bapak Panglima sudah memetakan semua itu,” ungkapnya.

“Nah sekarang, kita secara sinergis turun semua, para donatur juga turun, kita sudah sampaikan daerah-daerah yang perlu kita suplai logistik,” pungkasnya.

Bertambah 1 Lagi, Sudah 5 Pasien Positif Covid-19 di Sulsel Dinyatakan Sembuh

KabarMakassar.com — Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel, dr. Muhammad Ichsan Mustari mengumumkan adanya penambahan 1 pasien positif Covid-19 di Sulsel yang dinyatakan sehat.

Dengan begitu, hingga Jumat (3/4) pukul 20:57 WITA, total jumlah pasien positif Covid-19 di Sulsel yang dinyatakan sembuh sudah sebanyak 5 orang.

“Alhamdulillah kami mendapat laporan lagi bahwa ada tambahan 1 lagi pasien positif yang dinyatakan sembuh. Sehingga total pasien sembuh sampai saat ini sudah 5 orang,” kata Ichsan melalui video conference, Jumat (3/4) malam.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel itu juga menyampaikan, ada kesalahan data jumlah tambahan pasien baru yang terkonfirmasi positif Covid-19, yang diinput Gugus Tugas Nasional.

“Data di nasional itu total jumlah pasien positif di Sulsel sekarang 82 atau ada penambahan 16 hari ini. Sebenarnya itu hanya 14, jadi totalnya 80. Yang 2 itu dari provinsi lain tapi dimasukkan di data Sulsel. 1 dari Kolaka (Sulwesi Tenggara) dan 1 lagi dari Majene (Sulawesi Barat),” jelasnya.

Ichsan merinci, tambahan 14 pasien baru di Sulsel yang terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19 itu terdiri dari 13 orang di Makassar, dan 1 orang di Kabupaten Pinrang.

“13 tambahan di Makassar ini semuanya local transmission. Ini menandakan bahwa perpindahan virus ini sudah antar warga Makassar dan bukan lagi dari luar Sulsel,” terangnya.

“Kemudian yang 1 warga Pinrang itu masuk dalam cluster umrah. Petugas masih lakukan tracing contact apakah ini ada kaitannya dengan 1 pasien dari Pinrang yang sebelumnya (satu kloter), atau rombongan umrah yang lain,” sambungnya.

Sekadar diketahui, berdasarkan data yang dirilis di laman https://covid19.sulselprov.go.id/, hingga Jumat (3/4) pukul 20:57 WITA, dari total 80 pasien positif Covid-19 di Sulsel, 6 orang diantaranya meninggal dunia.

Sementara untuk jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP), ada penambahan sebanyak 49 orang, dari sebelumnya 123 menjadi 172 orang (150 dirawat, 12 sehat, 10 meninggal).

Sedangkan untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) bertambah sebanyak 420 orang, dari sebelumnya 1.305 menjadi 1.725 (1.592 proes pemantauan, 133 selesai pemantauan)

Kasus Positif Covid-19 di Sulsel Bertambah 14: 13 di Makassar, 1 di Pinrang

KabarMakassar.com — Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel mengoreksi data jumlah tambahan pasien terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19 di Sulsel yang dirilis Gugus Tugas Nasional, Jumat (3/4) sore.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel, dr. Muhammad Ichsan Mustari mengatakan, ada kekeliruan data jumlah tambahan pasien positif Covid-19, yang diumumkan atau diinput hari ini.

“Data di nasional itu total jumlah pasien positif di Sulsel sekarang 82 atau ada penambahan 16 orang hari ini. Sebenarnya itu hanya 14, jadi totalnya 80. Yang 2 itu dari provinsi lain, tapi dimasukkan di data Sulsel. 1 dari Kolaka (Sulwesi Tenggara) dan 1 lagi dari Majene (Sulawesi Barat),” kata Ichsan melalui video conference, Jumat (3/4) malam.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel itu merinci, tambahan 14 pasien di Sulsel yang terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19 itu terdiri dari 13 orang di Makassar, dan 1 orang di Kabupaten Pinrang.

“13 tambahan di Makassar ini semuanya local transmission. Ini menandakan bahwa perpindahan virus ini sudah antar warga Makassar dan bukan lagi dari luar Sulsel,” terangnya.

“Kemudian yang 1 warga Pinrang itu masuk dalam cluster umrah. Petugas masih lakukan tracing contact apakah ini ada kaitannya dengan 1 pasien dari Pinrang yang sebelumnya (satu kloter), atau rombongan umrah yang lain,” sambungnya.

Ichsan juga mengumumkan adanya tambahan 1 lagi pasien positif Covid-19 yang dinyatakan sembuh. Dengan begitu, hingga Jumat (3/4) pukul 20:57 WITA, total jumlah pasien positif Covid-19 di Sulsel yang dinyatakan sembuh sudah sebanyak 5 orang.

“Alhamdulillah kami mendapat laporan lagi bahwa ada tambahan 1 lagi pasien positif yang dinyatakan sembuh. Sehingga total pasien sembuh sampai saat ini sudah 5 orang,” ujarnya.

Sekadar diketahui, berdasarkan data yang dirilis di laman https://covid19.sulselprov.go.id/, hingga Jumat (3/4) pukul 20:57 WITA, jumlah total pasien di Sulsel yang terkonfirmasi positif Covid-19 sudah sebanyak 80 orang. DImana dari jumlah tersebut, 6 diantaranya meninggal dunia, 5 sembuh (1 belum terinput), dan sisanya masih dalam perawatan.

Sementara untuk jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP), ada penambahan sebanyak 49 orang, dari sebelumnya 123 menjadi 172 orang (150 dirawat, 12 sehat, 10 meninggal).

Sedangkan untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP) bertambah sebanyak 420 orang, dari sebelumnya 1.305 menjadi 1.725 (1.592 proes pemantauan, 133 selesai pemantauan)

Darurat Covid-19, Kemenag Minta Masyarakat Tunda Pelaksanaan Akad Nikah

KabarMakassar.com — Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Ditjen Bimas) Islam Kementerian Agama (Kemenag) menerbitkan edaran baru terkait protokol penanganan Virus Corona (Covid-19) pada pelayanan kebimasislaman.

Edaran yang ditujukan kepada Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag provinsi dan penghulu itu, antara lain mengatur tentang layanan publik di Kantor Urusan Agama (KUA).

Dirjen Bimas Islam Kemenag, Kamaruddin Amin berharap, masyarakat yang merencanakan akad nikah dalam waktu dekat (selama masa darurat Covid-19) dapat menunda atau menjadwal ulang rencana pelaksanaan akad nikahnya.

“Kami telah menerbitkan edaran baru per 2 April 2020. Permohonan pelaksanaan akad nikah di masa darurat Covid-19 untuk pendaftaran baru tidak dilayani. Kami meminta masyarakat untuk menunda pelaksanaannya,” terang Kamaruddin di Jakarta, Jumat (3/4).

Meski demikian, Kamaruddin memastikan pendaftaran layanan pencatatan nikah tetap dibuka. Namun, mekanisme pendaftarannya tidak dengan tatap muka di KUA, melainkan secara online melalui web simkah.kemenag.go.id.

“Hanya pelaksanaan akadnya tidak dalam masa darurat Covid-19 yang ditetapkan BNPB, yakni hingga 29 Mei 2020,” terangnya.

Di masa darurat Covid-19 ini, lanjut Kamaruddin, pelaksanaan akad nikah hanya dilayani bagi calon pengantin yang sudah mendaftarkan diri sebelum 1 April 2020. Pelayanan akad nikah itu pun, kata dia, hanya akan dilaksanakan di KUA.

“Layanan di luar KUA ditiadakan. Aturan ini dibuat dalam kondisi kedaruratan kesehatan karena wabah Covid-19. Saya harap masyarakat bisa memahami dan menyesuaikannya,” harap Kamaruddin.

“Memahami bahwa tingkat kedaruratan di tiap daerah berbeda, KUA wajib meningkatkan koordinasi, mematuhi serta menyelaraskan penyelenggaraan layanan masyarakat sesuai dengan perkembangan kebijakan pemerintah daerah dalam pencegahan penyebaran Covid-19 di wilayahnya,” sambungnya.

Lebih jauh Kamaruddin mengatakan, saat ini Kemenag juga telah menerapkan sistem kerja dari rumah untuk pegawaianya hingga 21 April 2020.
Kepada jajarannya di Kanwil dan KUA, Kamaruddin meminta untuk tetap memberikan pelayanan konsultasi dan informasi kepada masyarakat secara daring (online).

Kaharuddin mengaku, pihaknya telah menginstruksikan setiap KUA harus memberitahukan nomor kontak atau email petugas, sehingga memudahkan masyarakat mengakses informasi.

“Sekali lagi, saya mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan teknologi informasi untuk mendapatkan layanan serta menunda permintaan pelayanan yang membutuhkan tatap muka secara langsung,” ujarnya.

“Pelaksanaan akad nikah secara online baik melalui telepon, video call, atau penggunaan aplikasi berbasis web lainnya tidak diperkenankan,” tegasnya.

Berikut protokol pelaksaan akad nikah di KUA pada masa darurat Covid-19 yang diterbitkan Ditjen Bimas Islam Kemenag:

  1. Membatasi jumlah orang yang mengikuti prosesi akad nikah tidak lebih dari 10 orang dalam satu ruangan;
  2. Catin (calon pengantin) dan anggota keluarga yang mengikuti prosesi akad nikah harus telah membasuh tangan dengan sabun/hand sanitizer dan menggunakan masker;
  3. Petugas, wali nikah, dan catin laki-laki menggunakan sarung tangan dan masker pada saat ijab kabul.

2 Pasien Positif Covid-19 Asal Pinrang dan Sidrap Dinyatakan Sembuh

KabarMakassar.com — Dua pasien positif Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Andi Makkasau (RSAM) Parepare, dinyatakan sembuh dan dipulangkan, Jum’at (3/4).

Direktur RSAM Parepare, dr. Renny Anggraeny Sari melalui Kabag Humas RSAM Parepare, Farida mengatakan, pasien asal Kabupaten Pinrang dan Sidrap itu dipulangkan setelah dua kali tes swab yang dilakukan tehadap kedua pasien tersebut selama masa isolasi, semuanya menunjukkan hasil negatif Covid-19.

“Pasien positif keduanya dipulangkan hari ini. Hasil tes swab dua kali dinyatakan negatif,” kata Farida kepada Kabarmakassar.com, Jum’at (3/4) siang.

Meski sudah diperblehkan untuk pulang, kata dia, kedua pasien tersebut tetap diminta untuk melakukan isolasi mandiri selam 14 hari di rumahnya masing-masing.

“Jadi untuk kedua pasien positif tersebut meski dinyatakan negatif, mereka tetap harus melakukan isolasi mandiri di rumahnya selama 14 hari. Itu akan dipantau Dinas Kesehatan setempat,” ujarnya.

Selain dua pasien tersebut, lanjut Farida, ada pula warga Makassar dan Mangkutana yang berstatus Pasien Dalam Pengawasan (PDP) dan dirawat di RSAM Parepare, juga dipulangkan karena hasil tes swab-nya juga dinyatakan negatif Covid-19.

“Dua pasien PDP juga dipulangkan hari ini, hasil tes swab-nya negatif. Tetap diisolasi mandiri di rumahnya selama 14 hari dan dipantau oleh Dinas Kesehatan setempat. Kami sudah koordinasi,” terangnya.

Sementara, Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid, mengaku sangat bersyukur warganya yang sebelumnya terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19, kini dinyatakan sembuh.

“Alhamdulillah, ini menjadi kabar baik dan patut kita syukuri bersama. Bagi semua masyarakat Pinrang, kami minta untuk tetap disiplin diri, ikuti dan patuhi imbauan pemerintah, serta jaga jarak untuk kebaikan bersama,” kata Irwan Hamid.