Rektor UKIP DO 28 Mahasiswa, Ini Reaksi Alumni

KabarMakassar.com — Rektor UKIP, DR Agus Salim mengeluarkan Surat Keputusan (SK) Rektor nomor 006/SK/UKIP.02/2020 yang memberhentikan 28 mahasiswa dari berbagai jurusan di kampus Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) per 24 Januari 2020 lalu.

Dimana para mahasiswa tersebut sebelumnya menggelar aksi demonstrasi yang menyikapi tentang aturan organisasi kemahasiswaan (ORMAWA) di depan kampusnya sendiri. Atas dasar itu Rektor UKIP mengeluarkan SK dengan memberi sanksi Drop Out (DO) terhadap 28 mahasiswa.

Menyikapi hal tersebut sejumlah alumni kampus UKIP Makassar melakukan penggalangan dukungan untuk para mahasiswa yang di DO kampusnya karena persoalan demonstrasi akan kebijakan kampusnya sendiri.

“Saya sangat menyayangkan sikap Rektor UKI Paulus Makassar atas dikeluarkannya SK Rektor atas pemecatan puluhan mahasiswa tanpa alasan yang jelas, harapan kami kepada lembaga aspiratif dan seluruh mahasiswa untuk menggalang dukungan dari semua elemen mahasiswa dan alumni siap mengawal,” kata Presma UKIP 2009-2010, Sinyo Batosakke.

Tak hanya Sinyo, Presma UKIP 2006-2007 Frans Bore Sampepadang pun angkat bicara soal DO yang dikeluarkan Rektor, karena alasan mahasiswa melakukan demo.

“Pemecatan itu bukan solusi, hal ini seperti menyuramkan masa depan mahasiswa dan tidak memanusiakan manusia. Saya bahkan pernah menduduki rektorat sewaktu menjabat sebagai presma, namun semua bisa diselesaikan dengan baik tanpa reaksi yang berlebihan seperti pemecatan” tegas Frans Bore Sampepadang.

Tiga fakultas dari 28 mahasiswa UKIP yang DO Rektor UKIP di antaranya, Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum.

Saat tim KabarMakassar.com melakukan konfirmasi kepada pihak kampus UKIP Makassar, Wakil Rektor I, DR Yoel Pasae pun angkat bicara. Dimana pihak kampus mengatakan jika 28 mahasiswa yang di DO tersebut telah melalui proses panjang hingga berujung pemecatan.

“Ini sudah berkali-kali dilakukan oleh para mahasiswa tersebut, dimana tentang aturan organisasi kemahasiswaan (ORMAWA) dari tahun 2015 sudah disepakati bersama, dimana untuk menjadi pengurus kelembagaan standar IPKnya 3,0. Hal itu kan sudah berjalan Mei 2019 lalu juga kita sudah bahas bersama bidang kemahasiswaan, dimana ada 4 Ketua BEM saat itu hadir saat Rapat kerja dan telah disepakati bersama,” kata DR Yoel Pasae saat dihubungi melalui selularnya, Minggu (26/1).

Lebih lanjut DR Yoel mengatakan, mahasiswa ini sudah berkali-kali kami ajak dialog, namun mereka melakukan demo. Bahkan demo berkali-kali, hingga puncaknya saat pihak Kampus UKIP Makassar menggelar seminar nasional yang di hadiri para guru-guru SMA se- Sulsel dan se-Sulbar dalam Lokarya Nasional di kampus itu juga hadir Prof Marsudi Wahyu Kisworo.

“Puncaknya mereka demo saat kampus diliburkan karena ada seminar nasional, kan kita hadirkan disitu tamu Pak Prof Marsudi Wahyu Kisworo, dan anak-anak demo saat acara berlangsung. Hal itu membuat pihak kampus mengambil keputusan kepada para mahasiswa tersebut untuk di DO,” kata DR Yoel.

DR Yoel menambahkan 28 mahasiswa tersebut diberhentikan secara hormat, dan selama 14 hari kerja setelah SK keluar, mahasiswa tersebut diberi kesempatan untuk melakukan pindah kampus. “Kami beri 14 hari kerja kepada mahasiswa yang di berhentikan dengan hormat dan untuk itu kami beri kepada mereka untuk pindah kampus,” tegasnya.

Berikut para alumni UKIP yang melakukan pendampingan terhadap 28 mahasiswa yang di sanksi DO,

Frans Bore Sampepadang – Presma UKIP 2006-2007
Budi Rante – Ketua HMM UKIP 2007-2008
Sinyo Batosakke – Presma UKIP 2009-2010
Siswanto – Ketua BEM FE UKIP 2010-2011
Amos Randa Linggi – Ketua BEM FE 2009-2010
Asmady Djasman – Ketua Himatika UKIP 2009-2010
Alfius Pasodung – Ketua HMM UKIP 2009-2010
Ferbryanto Padatuan – Ketua HMM UKIP 2015-2016
Yosea Salbin – Ketua HME 2009-2010.