Satu Warga Tewas Akibat Longsor di Malimbong Balepe Toraja

KabarMakassar.com — Bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Leppan, Kabupaten Tana Toraja, tepatnya di Jalan Poros Toraja – Pinrang, Senin (24/2) pagi menelan korban jiwa.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tana Toraja, Afian Andi Lolo yang dikonfirmasi mengatakan, kejadian naas itu terjadi saat sejumlah petugas melakukan pembersihan material longsor di lokasi tersebut.

“Sementara pembersihan material longsor, saat itu dua orang melintas menggunakan sepeda motor menuju Makale. Tiba-tiba longsor susulan menimpa keduanya,” kata Alfian, Senin (24/2).

“Korban meninggal dunia atas nama Indo Sudiar (40). Korban ini yang dibonceng. Sementara yang membonceng selamat. Korban yang meninggal dunia itu sebelumnya sempat di bawa ke Pustu terdekat, tapi nayawanya tidak tertolong,” lanjutnya.

Menurut Alfian, saat ini kasus tersebut telah ditangani Polres Tana Toraja.

“Jenazah korban juga sudah disemayamkan di rumah duka di Desa Leppan,” terangnya.

Alfian mengimbau masyarakat untuk sementara tidak melintas di jalan tersebut, sampai proses pengerjaan pembersihan material longsor di lokasi tersebut selesai.

“Kalau pun harus melintas, kami minta warga waspada dan berhati-hati,” pungkasnya.

Menelusuri Jejak Harun Masiku di Sulsel

KabarMakassar.com — NAMA Harun Masiku, menjadi sosok yang paling diburu media saat ini. Kader PDIP yang namanya dikait-kaitkan dengan kasus suap anggota KPU Wahyu Setiawan yang dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi beberapa waktu lalu, kini masih menjadi misteri. Keberadaannya yang misterius. membuat tim KabarMakassar melakukan penelusuran.

Jejak Harun Masiku yang merupakan tersangka suap yang menyeret mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan mulai terdeksi. Sebelumnya jika Caleg PDIP itu dikabarkan berada di Singapura. Namun belakangan muncul informasi keberadaannya di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Kasus Harun Masiku ini diduga menyuap Wahyu agar bisa menjadi anggota DPR lewat mekanisme pergantian antarwaktu. Keberadaannya semakin misterius, dimana pria ini dipastikan oleh KPK maupun Kementerian Hukum dan HAM berada di Singapura.

Namun keberadaannya terkuak saat tim KabarMakassar.com menemui langsung istri Harun Masiku yakni Hilda (26) di Bajeng, Kabupaten Gowa.

Hilda kepada KabarMakassar.com membeberkan jika suaminya hanya datang sekali di Bajeng, Gowa sekali, dimana pada saat lebaran Idul Fitri tahun lalu. Ia tidak membenarkan pemberitaan yang berselewiran di media jika Harun Masiku pulang ke Gowa.

“Pak Harun itu tanggal 24 Desember 2019 ada di Makassar, jadi bukan tanggal 22, itu keliru itu. Dia kan mau natal, dan melanjutkan ke Kabupaten Toraja bareng pak Harun tanggal 24 Desember malam, sampai tanggal 26 Desember. Dia kan orang Toraja, Rantapeo,” kata Hilda.

Ia menjelaskan jika keluarganya memang di Toraja, orang tua dari Harun Masiku memang asal Toraja. “Balik ke Makassar tanggal 26 Januari, dia sempat ke Jakarta dan tanggal 31 lagi ke Makassar, justru saya yang jemput di Makassar, dia tak ke Gowa sama sekali, terakhir saya ketemu di situ,” tambahnya.

Hilda juga mengatakan jika dirinya tak pernah sekalipun menyembunyikan suaminya di Gowa, justru ia berharap Harun ditemukan. Ia pun menegaskan jika rumah yang ditempati istrinya bukan rumah Harun Masiku.

“Saya perjelas juga pak, ini rumah saya, rumah orang tua saya. Bukan pak Harun Masiku. Kami kemarin kesal, di media ditulis ada suara Harun didalam rumahnya, justru saya klarifikasi jika Harun tak pernah kesini, bohong itu kalau ada cerita suami saya pulang dan datang menggunakan motor, pak Harun tidak tahu naik motor,” kesal Hilda.

Istri Harun mempertegas jika rumah sebenarnya Harun Masiku ada di Makassar tepanya di Wesabbe, Tamalanrea, Kota Makassar.

“Rumah asli pak Harun itu ada di Wesabbe, Makassar. Pak Harun itu orangnya tertutup,” tambah Hilda.

Sebelumnya, di kabarkan dari humas Imigrasi data lalu lintas orang, Harun ada di Singapura per tanggal 6 Januari. Hal tersebut tidak meyakinkan karena istri Harun menjelaskan jika suaminya memberi kabar jika 7 Januari sudah berada di Indonesia.

Hilda juga menjelaskan jika suaminya menelepon pada 6 Januari jika akan berangkat ke Singapura. Setelahnya pada 8 Januari nomor telepon suaminya sudah tidak aktif dan tidak ada kabar.

“Waktu tanggal 7 Januari ia memberi kabar sudah ada di Jakarta melalui pesan whatsaap, saya belum balas saat ini, nanti pagi tanggal 8 baru saya liat pesannya tapi saya tidak balas,” kata Hilda.

Hilda juga kesal dengan pemberitaan jika suaminya pernah terlihat di rumahnya di Bajeng, Kabupaten Gowa. Ia menjelaskan jika suaminya tak pernah tinggal di Bajeng, bahkan jika bertemu dengan selalu di Makassar, dan itu pun ketemu di Hotel.

Hilda dan Harun menikah pada 2017 lalu, dikabarkan jika hubungan keduanya tidak harmonis. Bahkan terakhir bertatap muka di akhir 2019 yakni pada 31 Desember lalu. Hilda menjemput suaminya di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

“Kami memang pernah bertemu dan itu pun di Makassar, tidak pernah bermalam di rumah (Gowa), setelah dari akhir tahun tidak pernah bertemu,” kata Hilda

Untuk diketahui jika masalah Harun Masiku bermula saat tim KPK menangkap Wahyu dan beberapa orang lainnya pada Rabu, 8 Januari 2020. KPK menyebut Wahyu sudah menerima uang Rp 600 juta dari total nilai suap Rp 900 juta untuk meloloskan Harun. Namun, hingga saat ini KPK belum juga menangkap Harun.

Antisipasi Bencana, BPBD Tana Toraja Siaga di Posko Terpadu

KabarMakassar.com — Pemerintah Kabupaten Tana Toraja melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tator mendirikan posko terpadu untuk merespon cepat informasi dari masyarakat terkait bencana.

Posko terpadu tersebut didirikan untuk penanganan bencana di dua kabupaten kembar di Sulsel yakni di wilayah Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara. Dimana pendirian posko tersebut merupakan kesepakatan dalam rapat koordinasi multi stakeholder di Mapolres Tana Toraja.

Kepala BPBD Tana Toraja, Alfian Andi Lolo ditemui di posko terpadu menjelaskan jika posko yang didirikan merupakan upaya pemerintah daerah untuk merespon cepat informasi masyarakat akan bahaya bencana atau saat terjadi bencana.

“Posko inikan didirikan sengaja di Plaza Kolam Makale, di pusat kota. Jelasnya ini agar masyarakat lebih mudah untuk mendapatkan informasi, kemudian tempat ini juga penerimaan laporan kejadian bencana, serta respon cepat penanganan laporan bencana,” kata Alfian, Jumat (10/1).

Alfian juga mengatakan jika informasi yang diterima Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) beberapa waktu lalu akan prakiran cuaca ekstrem untuk satu pekan mulai dari Minggu, (5/1/2020) hingga Minggu (12/1/2020).

“Dari peringatan dini itu, maka kami dengan sejumlah stakeholder sepakati untuk mendirikan posko, kami siapkan 24 jam dan berganti atau shift bagi para petugas dan ini dari berbagai unsur, muali dari BPBD, Dinsos, Dinkes, Tagana, infokom, Satpol, Kepolisian serta unsur TNI juga tergabung dalam posko terpadu ini,” tambah Alfian.

Ia menjelaskan jika ada beberapa wilayah yang berpotensi terjadinya bencana longsor, setidaknya ada enam kecamatan yang di antisipasi dari pihak BPBD diantaranya di Kecamatan Mappak, Simbuang, Bittuang, Gandasil, Malimbong Balepe hingga sebagian di wilayah Makale.

Tak hanya longsor, banjir dan juga angin kencang juga berpotensi terjadi saat hujan lebat terjadi di Tana Toraja. Hal ini dikatakan Alfian Andi Lolo jika sebelumnya memasuki awal tahun 2020 angin kencang mengakibatkan beberapa rumah rusak, serta alang atau tongkonan rusak diterpa angin puting beliung di beberapa wilayah di Tana Toraja.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan, dr Rudi Andilolo ditemui di posko terpadu juga menjelaskan jika ada sekira 3 hingga 5 petugas kesehatan.

“Kami juga siapkan tim kesehatan, dokter kami siapkan dan perawat serta ambulance yang siap sewaktu-waktu di butuhkan jika terjadi bencana,” ujar dr Rudi Andilolo.

Pantauan KabarMakassar.com sejak siang hari hingga sore, nampak Bupati Tana Toraja Nicodemus Biringkanae berada di posko terpadu. Dengan menggunakan pakaian adat Toraja, orang nomor 1 di Tana Toraja tersebut memantau petugas di posko dan sesekali berbincang dengan para petugas dari Dinkes, Dinsos hingga pejabat OPD yang berada di posko tersebut.