Mentan SYL Tinjau Progam P2L di Pattalassang Gowa

KabarMakassar.com – Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Syahrul Yasin Limpo (SYL) melakukan peninjauan penerima manfaat Pekarangan Pangan Lestari (P2L) di Desa Borong Pa’lala, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Gowa, Minggu (31/5) kemarin.

Mentan SYL mengatakan kehadiran Program P2L ini sebagai upaya untuk pemenuhan pangan masyarakat di tengah Pandemi virus corona atau Covid-19. SYL menyebutkan Covid-19 yang mewabah di Indonesia saat ini berdampak pada sejumlah sektor terutama ekonomi.

Menurutnya banyak masyarakat saat ini kesulitan memenuhi kebutuhan akibat kehilangan pekerjaan dan jatuh miskin. Olehnya itu salah satu upaya yang bisa dilakukan saat ini ada bertani dengan memanfaatkan pekarangan rumah.

Gubernur Sulawesi Selatan dua periode ini menilai untuk bertani tidak mesti membutuhkan lahan yang luas. Cukup memanfaatkan lahan dekat rumah maka sudah bisa menghasilkan.

“Dalam menghadapi krisis yang ada pertanian menjadi pilihan untuk bisa survive. Oleh Karena itu, mari kita menggalakkan pertanian, tidak perlu dengan lahan besar. Di family Farming atau lahan-lahan Keluarga di sekitar rumah kita menjadi sangat penting,” ujar SYL.

Ia berharap kepada para ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani untuk mengmabil bagian agar bisa memanfaatkan pekarangan di sekitar rumahnya masing-masing dengan menanam sayur-sayuran.

Sementara itu, Bupati Gowa, Adnan Purichta Ichsan dalam sambutannya menyambut baik kehadiran program P2L ini. Kehadiran program ini kata Adnan tetap membuat masyarakat produktif di masa pandemi Covid-19 ini.

“Mudah-mudahan ini menjadi sebuah program yang bermanfaat untuk bisa menaikkan pendapatan masyarakat yang tentu akan berkolerasi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” tambah Adnan.

Pada kesempatan ini Mentan SYL juga memberikan bantuan kepada Kelompok Wanita Tani yang di Kabupaten Gowa. Bantuan sebesar Rp. 60 juta tersebut diserahkan kepada Kelompok Wanita Tani Biring Balang Desa Borong Pa’la’la Kecamatan Pattallassang.

Kelompok Wanita Tani Mawar Merah Desa Katangka Kecamatan Bontonompo, Kelompok Wanita Tani Lassa-lassa Ledies Desa Lassa-lassa Kecamatan Bontolempangang dan Kelompok Wanita Tani Mawar Kelurahan Malino Kecamatan Tinggimoncong. Serta penyerahan bibit sayuran kepada Karangtaruna Desa Borong Pa’la’la.

Turut hadir dalam acara ini, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Amir Uskara, Kepala Kejaksaan Tinggi Sulsel, Kasdam XIV Hasanuddin, Wakil Ketua DRD Sulsel, Dinas Ketahanan Pangan Sulsel, Danrem 141 Toddopuli, Wakil Bupati Gowa, dan jajaran Forkopimda Kabupaten Gowa dan para pimpinan SKPD lingkup Pemkab Gowa.

Mentan Sumbang APD untuk Tenaga Medis di Bantaeng

KabarMakassar.com — Menteri Pertanian (Mentan) RI, Syahrul Yasin Limpo bersama jajarannya melakukan Kunjungan Kerja (Kunker) ke Bantaeng. Rombongan diterima langsung oleh Bupati Bantaeng, H. Ilham Azikin di Posko Induk Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Senin (20/4).

Kunker bertujuan untuk melakukan silaturrahmi sekaligus menyerahkan bantuan dari Kementerian Pertanian berupa masker serta Alat Pelindung Diri (APD) lengkap untuk para tenaga medis yang ada di Bantaeng.

Pada kesempatan itu, Ilham Azikin menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Syahrul Yasin Limpo atas kunjungannya ke Bantaeng. Ia mengatakan bahwa kunjungan ini menjadi motivasi dan penyemangat bagi pemerintah dan masyarakat Bantaeng dalam menghadapi Covid-19.

Selain itu, Ilham juga melaporkan terkait gerakan dan penanganan yang telah dilakukan oleh Pemkab Bantaeng yang menjadi bagian dari kerja pemerintah pusat dan pemerintah provinsi dalam melawan Covid-19.

“Kami intens melakukan upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Sampai saat ini, Alhamdulillah belum ada yang positif terpapar Covid-19 di Bantaeng dan besar harapan agar ini bisa kami pertahankan,” kata Ilham.

Sementara itu, Syahrul Yasin Limpo dalam arahannya mengapresiasi upaya-upaya yang telah dilakukan Pemkab Bantaeng dalam menjaga masyarakatnya agar tidak terpapar Covid-19.

“Intinya dalam menghadapi ancaman Covid-19 yang terjadi saya ini, perlu diperhatikan medical respons serta medical science. Dan yang tak kalah penting masalah pengamanan khususnya pangan,” kata Syahrul.

Mantan Gubernur Sulsel itu mengingatkan kepada seluruh masyarakat terutama para insan pers sebagai garda terdepan dalam menyajikan informasi, untuk selalu berhati-hati dan melaksanakan tugas sesuai dengan protokol kesehatan.

“Selalu gunakan masker, ini adalah obat yang ampuh dalam mencegah masuknya Covid-19,” pungkasnya.

Setelah penyerahan bantuan keaehatan, Mentan didampingi Bupati Bantaeng kemudian melakukan pencanangan panen jagung hibrida di Desa Kaloling, Kecamatan Gantarangkeke.

Potensi pertanaman jagung di Kabupaten Bantaeng seluas kurang lebih 15.000 ha, yang tersebar di beberapa kecamatan yang merupakan sentra pengembangan komoditi jagung, termasuk di Kec. Gantarangkeke khususnya di Desa Kaloling dimana pada musim tanam pertama (MTI) melakukan penanaman jagung kurang lebih 350 ha, termasuk lahan yang akan dipanen pada hari ini dan diperkirakan hasil yang dicapai 7-8 ton/ha.

Turur hadir pada kesempatan itu yakni para unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, para Asisten Setda, serta para Kepala SKPD lingkup Pemerintah Kabupaten Bantaeng.

Peduli Tenaga Medis, Mentan RI SYL Bawa Bantuan ke Takalar

KabarMakassar.com — Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengunjungi Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan dengan membawa sejumlah bantuan yang diperuntukkan untuk para tenaga medis, Senin (20/4).

Kedatangan Menteri SYL, yang juga mantan Gubernur Sulsel ini membawa bantuan berupa Alat Pelindung Diri (APD), Sabun antiseptik, dan sejumlah Masker. Bntuan tersebut langsung disalurkan ke Posko Gugus Tugas Covid-19 Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Pattallassang, Kecamatan Pattallassang, Kabupaten Takalar.

SYL yang datang di Butta Panranuangku, merupakan kali pertama sejak dilantik menjadi Menteri Pertanian. Hal tersebut membuat seluruh pejabat Pemkab Takalar antusias menyaksikan kedatangan Mentan RI Syahrul Yasin Limpo di Takalar.

Kedatangan Mentan SYL diterima langsung oleh Bupati Takalar Syamsari, Wakil Bupati Takalar Achmad Se’re dan Sekda Takalar Arsyad Taba dan seluruh kepala OPD Takalar.

Menteri Pertanian juga menghimbau semua warga Takalar dalam menghadapi corona harus berhati-hati, utamanya menjaga jarak antara satu dengan lainnya.

“Kita jangan juga terlalu sombong dalam menghadapi pandemi corona ini. Semoga corona ini bisa secepatnya berlalu sehingga kita bisa kembali beraktivitas seperti semula,” ujar Syahrul Yasin Limpo.

Bupati Takalar Syamsari dalam sambutannya, berterima kasih kepada Mentan SYL dan rombongannya karena telah berkunjung ke Kabupaten Takalar.

“Terima kasih Pak Mentan SYL dan rombongan telah berkunjung ke Kabupaten Takalar. Semoga bantuan yang Bapak Mentan bawa bisa bermanfaat bagi kami,” tutup Syamsari.

Sulsel dapat Bantuan 1.750 Paket Sembako dari Kementan

KabarMakassar.com — Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia memberikan bantuan sebanyak 1.750 paket sembako yang terdiri dari beras, minyak goreng, telur dan gula pasir, untuk Sulawesi Selatan (Sulsel).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Prvinsi Sulsel, Fitriani mengatakan, bantuan tersebut sudah langsung diterima Gubernur Sulsel di Kantor Dinas Ketahanan Pangan, Jalan Dr. Ratulangi, Makassar.

“Alhamdulillah Bapak Gubernur senang dengan bantuan ini, dan akan segera kami salurkan kepada seluruh masyarakat yang kena dampak Covid-19,” kata Fitriani, Rabu (15/4).

Selain paket sembako, lanjut Fitri, Kementan juga memberikan bantuan berupa uang Rp234 juta untuk dipakai membeli langsung hasil pertanian dan dijual kembali dengan harga terjangkau.

“Ini adalah upaya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Ini juga untuk membantu para petani kita, karena langsung kita beli hasil pertaniannya,” terangnya.

Penyediaan bahan pangan ini, kata dia, merupakan kolaborasi antara Kementan dengan Pemprov Sulsel untuk menjawab kebutuhan pokok masyarakat Sulsel.

“Ini atas saran dari Pak Menteri Pertanian dan Pak Gubernur Sulsel untuk mendukung kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.

Sejarah Keberadaan Lokasi Pemakaman Korban Covid-19 di Macanda

KabarMakassar.com — Lahan pemakaman khusus untuk pegawai Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) yang berada di Macanda depan Kuburan Cina Teratai Indah), Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, kini dijadikan sebagai lokasi pemakaman korban Covid-19.

Keputusan ini diambil setelah beberapa jenazah korban Covid-19 yang hendak dimakamkan di beberapa tempat pemakaman umum, mendapat penolakan dari warga. Sejauh ini sudah lebih dari 30 jenazah korban Covid-19 yang dimakamkan di sana.

Seperti apa sejarah atau sebab musabab dari keberadaan lahan pemakaman khusus pegawai Pemprov Sulsel tersebut? Siapa yang menginisiasi, dan kenapa berlokasi di Macanda? Tak banyak orang yang mengetahuinya.

Ternyata, keberadaan lahan pemakaman khusus pegawai Pemprov Sulsel di Macanda tersebut tak terlepas dari andil Menteri Pertanian RI, Syahrul Yasin Limpo (SYL), saat masih menjabat sebagai wakil gubernur Sulsel. Hal itu diungkap oleh mantan Kepala Bappeda Provinsi Sulsel yang kini menjabat sebagai Pelaksana tugas (Plt) Deputi Bidang Reformasi Birokrasi, Akuntabilitas Aparatur dan Pengawasan Kementerian PANRB, Jufri Rahman.

“Tanah pekuburan pemprov di Macanda itu dulu diadakan pada waktu saya Kepala Biro Dekonsentrasi Pemprov Sulsel, berdasarkan arahan dan petunjuk Wakil gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo (SYL),” kata Jufri.

“Saya ingat betul kata-kata beliau saat itu, bahwa itu PNS akan tenang bekerja kalau kebutuhan atau ‘need’-nya terpenuhi. Termasuk memenuhi ‘future need’ setelah mereka pensiun dan bahkan sampai mereka meninggal. Karena itu kita harus siapkan tanah pekuburan khusus untuk pegawai pemprov. Jangan lagi kalau ada PNS yang meninggal, lalu keluarganya harus repot urus kiri kanan. Semua penyelanggaraan jenazah sampai takziyah harus ditangani pemprov,” ujar Jufri mengenang arahan SYL kala itu.

Atas arahan SYL tersebut, Jufri kemudian berinisiatif membentuk Yayasan Pekuburan Pegawai Kantor Gubernur (YPPKG). Andi Muallim yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel menyetujui dan mempercayakan Jufri sebagai ketua yayasan.

Setelah yayasan tersebut terbentuk, lanjut Jufri, SYL memerintahkannya mencari lokasi pekuburan untuk PNS Pemprov Sulsel.

“Dan lokasi yang dipilih adalah di Macanda. di depan Pekuburan Cina Teratai Indah Mawang. Dengan pertimbangan, jalan ke lokasi sudah mulus karena sudah diaspal hotmix oleh teratai Indah,” terang Jufri.

Setelah Jufri pindah dari Biro Dekonsentrasi, jabatan ketua YPPKG pun diserahkan kepada Wakil Kepala Dinaas Pendidikan Provinsi Sulsel saat itu, Saleh Gottang.

“Karena saya pernah ketemu dengan pak Tony Gosal (pemilik Makassar Golden Hotel/bapaknya peter Gosal), dan dia cerita ke saya bahwa hati-hati kalau bangun sesuatu, karena bisa-bisa kita yang pertama memakainya. Pak Tony kasih contoh, bahwa dia yang bangun itu LP Gunung Sari, dan dia juga yang pertama dikasih masuk di LP tersebut oleh pak Kajati Sulsel Baharuddin Lopa,” tutur Jufri.

“Begitu mendengar cerita itu, saya langsung terpikir jangan-jangan saya juga yang pertama memakai tanah kuburan pemprov karena saya yang membebaskan lokasi tersebut,” lanjutnya.

Saat ini, Jufri mengaku sangat bersyukur karena lokasi pekuburan PNS Pemprov Sulsel di Macanda tersebut sudah digunakan untuk pemakaman para penderita Covid-19.

“Banyak hal yang dulu pak SYL pikirkan, ternyata sekarang terbukti sangat bermanfaat. Andaikan tidak ada tanah pekuburan itu, entah akan dikubur dimana itu kasian korban Covid-19 yang jenazahnya ditolak dimana-mana. Kita doakan semoga pak SYL sehat terus untuk selalu bisa berkontribusi memperbaiki kondisi negeri ini. Allah SWT maha tahu siapa-siapa yang layak diberi amanah sebagai pemimpin di negeri ini,” pungkasnya.

Jejak Irman Yasin Limpo di Dunia Birokrasi

KabarMakassar.com — Figur bakal calon Wali Kota Makassar, Irman Yasin Limpo, dikenal sebagai birokrat berprestasi. Namun, tak banyak yang tahu jika None – sapaan akrabnya, ternyata pernah meraih peringkat pertama saat mengikuti Diklatpim Tingkat I yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Negara (LAN) dan diikuti pejabat Eselon I dan II seluruh Indonesia pada tahun 2015 lalu.

Piagam penghargaan atas prestasinya saat itu diserahkan langsung Deputi Bidang Diklat Aparatur LAN RI, yang ketika itu dijabat Muh Idris.

Prestasi None sebagai birokrat, juga dibuktikan dengan banyaknya penghargaan nasional yang ia raih. Adik Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo ini juga pernah dianugerahi penghargaan Pelopor Pelatihan Pramugari dari Garuda Indonesia, dan diberi pin wings pilot Garuda berbahan dasar emas.

Tak banyak di Indonesia yang mendapatkan pin spesial ini dari Garuda. Selain None, pin spesial itu juga pernah diberikan kepada pengusaha sukses, Chaerul Tanjung.

Tak sampai disitu. Saat memimpin Dinas Pendidikan Sulsel, OPD ini meraih top inovasi berdasarkan skoring yang dilakukan Tim Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (EKPPD). Indikator pelayanannya tercatat dalam Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) tahun 2017 hingga 2018 yang mengalami peningkatan yang signifikan.

Di tahun 2017, OPD yang dipimpin None ini meraih nilai rata-rata 87,12 serta tahun 2018 dengan persentase 91,38.

Selain itu, hadirnya aplikasi big data e-panrita yang digagas None, juga menjadi perhatian nasional. Wakil Presiden HM Jusuf Kalla, bahkan memberikan apresiasi atas hadirnya aplikasi ini.

Atas prestasi yang diraihnya selama ini, None menyampaikan jika ia hanya berusaha melakukan yang terbaik saat diberikan amanah, memegang sebuah jabatan.

Menurut None, hal ini tidak terlepas dari pesan yang selalu disampaikan Sang Ayah, HM Yasin Limpo, saat beliau masih hidup.

“Tetta selalu minta kepada anak-anaknya, termasuk saya, untuk bisa bekerja melayani masyarakat. Sebab sebaik-baiknya manusia, adalah yang bermanfaat bagi manusia lain. Itulah prinsip hidup yang ditekankan Tetta,” kata None.

42 Persen Sawah Produktif Dibayangi Ancaman Alih Fungsi Lahan

KabarMakassar.com — Pengendalian alih fungsi lahan persawahan menjadi salah satu fokus dari program Kementerian Pertanian. Sebab, jika ini terus terjadi tanpa terkendali, maka akan berpengaruh pada angka produksi padi nasional.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, sebenarnya aturan atau Undang-Undang (UU) tentang pengalihfungsian lahan pertanian ini sudah ada sejak sembilan tahun lalu, hanya saja belum terlalu familiar dan banyak masyarakat yang belum paham terkait aturan ini.

“Pengendalian alih fungsi lahan sawah merupakan salah satu strategi meningkatkan produksi padi dalam negeri, dan ini masuk sebagai program strategis nasional. UU ini sudah ada dari sembilan tahun lalu, tapi kemudian belum familiar. Oleh karena itu saya agak kencang-kencang (sosialisasikan),” kata SYL usai membawakan kuliah umum dengan tema ‘Kebijakan Hukum Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dalam Mendukung Kemandirian, Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional’, di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar, Jumat (7/2).

Menurut SYL, ada tiga pola konversi sawah yang terjadi saat ini, baik itu di Pulau Jawa dan luar Jawa. Mulai dari sawah berubah menjadi perumahan, sawah menjadi pertanian lain, dan sawah menjadi nonperumahan.

Khusus di Jawa, kata dia, konversi sawah menjadi perumahan persentasenya sebesar 58,7 persen, sementara sawah jadi lahan pertanian lain 21,8 persen, dan sawah menjadi nonperumahan 19,5 persen.

“Kalo untuk di luar Jawa, sawah jadi perumahan masih kecil, dikisaran 16,1 persen. Yang besar itu jadi lahan pertanian lain 48,6 persen, dan jadi nonperumahan 35,3 persen,” terangnya.

Lebih jauh SYL mengatakan, berdasarkan data yang ada, luas lahan sawah selama 17 tahun atau pada medio 1993 hingga 2010 yang terkonversi atau berkurang jumlahnya sebanyak 1,3 juta hektare. Akan tetapi, juga dilakukan cetak sawah baru sebanyak 682 ribu hektare.

“Dan pada 2018, lahan sawah itu tinggal 7,1 juta hektare. Jadi ada sekitar 3,1 juta hektare atau 42 persen lahan sawah produktif yang dibayangi alih fungsi lahan. Makanya kita terus sosialisasikan Perpres Nomor 59 Tahun 2019 tentang pengendalian alih fungsi lahan sawah ini,” ujarnya.

SYL menambahkan, pencegahan alih fungsi lahan pertanian merupakan tanggung jawab semua pihak. Olehnya itu, ia mengimbau seluruh jajaran pemerintah di semua tingkatan untuk bertindak tegas, agar tidak terjadi alih fungsi khususnya lahan pertanian.

Harga Bawang Putih Meroket, Mentan Sebut Imbas dari Corona 

KabarMakassar.com – Seminggu terakhir, harga bawang putih di sejumlah pasar tradisional di Kota Makassar mengalami kenaikan yang cukup tinggi.

Seperti di Pasar Pa’baeng-baeng, pada bulan Januari harga bawang putih sebesar Rp36.250/Kg. Namun saat ini, harganya sudah mencapai Rp46.250/Kg. Di Pasar Terong, harganya bahkan mencapai Rp60.000/Kg.

Ditemui usai menghadiri kuliah umum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Jumat (7/2), Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan, kenaikan harga bawang putih yang juga terjadi di beberapa provinsi lain di Indonesia ini merupakan imbas dari merebaknya Virus Corona yang menyebabkan ditutupnya pintu-pintu ekspor-impor dari dan ke China.

Sementara, sampai saat ini China masih menjadi negara pemasok bawang putih terbesar bagi Indonesia. Hasil produksi bawang putih di Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Akhir-akhir ini bawang putih kelihatan tiba-tiba naik harganya, itu imbas dari Corona,” kata SYL.

Meski begitu, SYL memastikan kondisi (lonjakan harga dan keterbatasan bawang putih) ini tidak akan berlangsung lama. Sebab, dalam bulan ini akan ada panen di beberapa daerah di Indonesia, sehingga stok bisa kembali normal.

“Insha Allah pertengahan Februari ini sudah mulai panen di Jawa Barat dan Sumatra Utara,” terangnya.

Mantan gubernur Sulsel dua periode itu juga berharap, wabah Corona ini segera berakhir, sehingga proses impor dan ekspor bisa kembali berjalan seperti biasanya.

“Inkubasi dari Corona itukan diperkirakan akhir Februari juga sudah selesai, mudah-mudahan akhir Februari masuk Maret semua pintu-pintu ekspor sudah terbuka,” ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah beberapa waktu lalu mengaku, Pemerintah Provinsi Sulsel sedang berupaya mengembangkan bawang putih agar nantinya tidak lagi tergantung pada impor.

“Kita lagi kembangkan di sini. Harapan kita, Sulsel harus mandiri pangan. Makanya produk-produk pangan kita harus kita genjot. Ini bukan hanya buat Sulsel, tapi juga agar tetangga-tetangga kita harus terpenuhi kebutuhannya,” kata Nurdin.

Paham Soal Pemerintahan, Alasan None Maju Pilwakot

KabarMakassar.com — Bakal Calon Wali Kota Makassar, Irman Yasin Limpo satu-satunya birokrat yang siap bertarung di Pilwalkot Makassar. Karena itu, ia dinilai sebagai figur bakal calon, yang paling paham pemerintahan.

None, sapaan akrabnya memulai karirnya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 1994. Seperti PNS pada umumnya, pria kelahiran 24 Agustus 1968 ini juga memulai karirnya dari bawah. Hingga kemudian, ia menduduki sejumlah posisi strategis di lingkup Pemerintah Provinsi Sulsel.

Tidak hanya itu, adik kandung Syahrul Yasin Limpo yang juga Menteri Pertanian RI ini pernah menjabat Kepala Dinas Perdagangan Sulsel, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Sulsel, Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, hingga Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Sulsel.

Pengamalan sebagai kepala daerah, Irman juga sempat diamanahkan sebagai Penjabat Bupati Luwu Timur.

Sejumlah terobosan None saat menjabat posisi-posisi tersebut, bahkan menjadi percontohan nasional. Sebut saja Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Sulsel yang dijadikan percontohan nasional. Kemudian, aplikasi e-panrita di Dinas Pendidikan Sulsel yang hingga saat ini tidak ada duanya di Indonesia. Serta sejumlah apresiasi pemerintah pusat lainnya.

Diantara sejumlah nama yang mendeklarasikan diri akan bertarung di Pilwalkot Makassar, None memang merupakan satu-satunya yang berlatarbelakang birokrat. Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idrus, mengungkapkan, khusus di Pilwalkot Makassar, memang None satu-satunya kandidat yang berlatarbelakang birokrat, dan menjadi nilai plus bagi adik Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo tersebut.

“Ini menjadi salah satu nilai plus None di Pilwalkot kali ini. Di Makassar ini, hanya None yang dari kalangan birokrat,” ungkap Nurmal, Selasa (4/2).

Kemampuan pengelolaan birokrasi, kata Nurmal, sangat dibutuhkan ketika seseorang menjadi kepala daerah. Birokrat tidak lagi membutuhkan waktu adaptasi yang panjang jika terpilih, karena sudah tau apa yang harus dilakukan.

“Tentu beda dengan kalangan profesional misalnya, butuh adaptasi lagi. Sedangkan warga dan pengelolaan kota yang aktif 24 jam ini harus langsung dikelola dengan baik, dan tidak bisa menunggu. Inilah salah satu kelebihan dari Pak None,” pungkasnya.

Menteri SYL Minta Warga Sulsel Asuransikan Padi dan Ternak

KabarMakassar.com — Menteri Pertanian RI (Mentan), Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengimbau masyarakat Sulawesi Selatan untuk mengasuransikan pertanian dan peternakannya. Hal tersebut dikatakan saat SYL menghadiri pemanfaatan dana KUR dan implementasi kostratani, Sabtu (25/1).

Syahrul Yasin Limpo mengatakan jika beberapa waktu lalu Sulsel dilanda bencana banjir dan angin kencang sehingga mengakibatkan petani dan juga peternak mengalami kerugian.
Untuk itu Kementan RI siap membantu bibit kepada warga yang terdampak bencana banjir di Sulsel.

“Sudah kita ganti semua dengan memberi bantuan bibit. Dan karena kejadian itu, makanya kita dorong juga untuk para petani ikut asuransi pertanian,” kata Mantan Gubernur Sulsel tersebut.

Sementara itu, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Sarwo Edy mengatakan, jika data Kementerian Pertanian (Kementan) RI, lahan pertanian yang terdampak bencana, khususnya banjir seluas 82 ribu hektare (Ha) dan yang mengalami kerusakan dan akhirnya puso sekitar 5.000 Ha.

“Ada asuransi padi dan asuransi ternak. Pemerintah memberikan subsidi sehingga petani dibantu dalam pembayaran preminya. Petani cukup membayar Rp36 ribu, dari Rp180 ribu premi yang harus dibayarkan. Jadi Rp144 ribu dibayarkan oleh pemerintah,” jelas Dirjen Prasaran dan Sarana Pertanian Kementan RI tersebut.

Dengan asuransi tersebut, contohnya, jika terjadi kerusakan pada padi yang ditanam mengalami puso karen kekeringan atau banjir, maka akan diganti Rp. 6 juta per hektare untuk satu kali masa tanam.

Sementara bagi peternak yang ikut asuransi, pemerintah akan mengganti ternaknya yang mati atau hilang, misalnya sapi, akan ganti Rp. 10 juta per ekor dengan membayar premi sebesar Rp. 40 ribu, dari Rp. 200 ribu premi yang harus dibayarkan.

“Sisanya, Rp. 160 ribu, akan dibayarkan oleh pemerintah. Jadi baik lahan pertanian dan peternakan, semua asuransi disubsidi sehingga tidak ada alasan untuk tidak ikut asuransi pertanian,” ungkap Sarwo Edy.