Dumpi Eja, Panganan Khas Suku Kajang yang Cocok Disantap saat Buka Puasa

KabarMakassar.com — Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) memiliki panganan khas bernama ‘Dumpi Eja‘ atau biasa juga disebut Kue Merah. Bentuknya bulat dengan tekstur kasar dan keras.

Kudapan berbahan dasar beras ketan yang dicampur dengan gula merah ini bisa menjadi salah satu hidangan yang cocok untuk disantap saat berbuka puasa bersama segelas teh atau minuman lainnya.

Dumpi Eja ini juga merupakan salah satu kudapan yang wajib tersedia pada acara-acara adat Suku Kajang, seperti Kalomba, Akdangang, Pakkatterang, dan acara adat lainnya.

Dumpi Eja atau Kue Merah (INT)

Salah seorang warga Kajang, Amir menuturkan, lelaki dari Suku Kajang yang menikah juga harus membawa atau menyertakan Dumpi Eja dalam erang-erang (seserahan) yang diberikan untuk mempelai wanita.

“Ini merupakan tradisi wajib yang telah dilakukan secara turun-temurun. Tidak lengkap rasanya jika warga kajang menikah tanpa ada kue merah atau dumpi eja, karna ini sudah menjadi tradisi adat kami,” kata Amir.

Jalan Terjal Imunisasi Suku Kajang Bulukumba

KabarMakassar.com — Kuatnya adat istiadat di masyarakat menjadi tantangan pemerintah mensukseskan program imunisasi. Pengobatan tradisional dengan cara jampi atau istilah lainya menjadi pilihan sebagian masyarakat. Kasus ini terjadi di Desa adat Tanah Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Berikut laporan Fitriani Lestari M, Jurnalis Kabarmakassar.com.

Matahari cukup menyengat pada Jumat (27/12/2019) lalu. Rerimbun pohon yang mulai berwarna kuning keemasan menjadi pemantik semangat. Apalagi hembusan angin menerpah sedikit mengusir kepenatan selama di perjalanan.

Memasuki Suku Kajang di Desa Tanah Toa sangat menguras tenaga. Perjalanan dari Bulukumba menggunakan kendaraan butuh waktu satu jam. Tak cukup sampai disana, kita perlu berjalan kaki melewati jalan setapak yang berliku dan berbatu, serta beberapa tanjakan dan satu jembatan yang terbuat dari kayu, saat cuaca tidak baik jalan tak beraspal ini berubah jadi kubangan dan menyulitkan masyarakat melintas.

Di Gerbang perbatasan Suku Kajang.
Ns Mukshin, beserta petugas kesehatan lainnya sudah menunggu. Pakaiannya rapi berbaju hitam sesuai aturan adat, sambil menenteng obat – obatan yang dibutuhkan warga. Di tengah perjalanan melintasi perkebunan milik warga setempat. Kami berpapasan dengan beberapa penduduk asli suku Kajang. Pakaiannya begitu sederhana. Tak ada alas kaki untuk sekedar melindungi kakinya dari panasnya kerikil dan bebatuan.

Perjalanan menuju puskesmas pembantu mesti menguras tenaga. Namun, tak menyurutkan semangat petugas kesehatan. Mereka tetap bahu membahu menenteng obat dan vaksin dalam box berwarna biru kombinasi putih. Setelah 30 menit melakukan perjalanan para petugas kesehatan dan kader posyandu tiba di Pustu (puskesmas pembantu) Tanah Toa. Pustu dibangun ala kadarnya oleh Pemerintah Desa itu tidak jauh dari rumah Amma Toa atau Pemangku Adat Suku Kajang.

Rombongan petugas kesehatan keluar dari rumah salah satu kader posyandu Tanah Toa Kajang. Dok. Fitriani Lestari M

Tantangan petugas tidak saja medan yang berat menuju lokasi. Warga rupanya tak antusias menyambut kedatangan petugas kesehatan. Setelah 15 menit menunggu tak satupun warga atau balita datang untuk memeriksa kesehatan. Akhirnya Mukhsin beserta rekannya dari Puskesmas Tanah Toa, Kecamatan Kajang, memilih berkunjung ke rumah kader posyandu.

Rumah berukuran 4 kali 6 meter ini adalah milik salah seorang kader di Tanah Toa. Di dalam rumah terbuat dari kayu dan beratap rumbia hanya dihiasi kepala kerbau yang telah diawetkan. Beberapa perempuan duduk bersandar di antara tiang – tiang rumah, rupanya mereka sudah lama menunggu kedatangan petugas untuk mendapatkan pengobatan gratis dan imunisasi. Salah satunya Ira warga suku Kajang (29th).

Ira mengaku, tidak pernah memberi imunisasi anaknya sejak delapan bulan lalu. Diapun, datang ke pustu hanya menimbang berat badan anak sulungnya itu. Keengganan mengimunisasi anaknya karena takut vaksin tidak cocok bagi anaknya.
“Saya takut anak saya sakit setelah di imunisasi,” jawabnya polos.

Kekhawatiran Ira telah tidak lepas dari cerita warga dari turun temurun yang memiliki ketakutan yang sama. Apalagi suku Kajang tidak mengenal imunisasi. Walaupun disatu sisi, mereka menyadari resiko anaknya sewaktu – waktu akan terserang penyakit.

Pengukuran tinggi badan balita suku Kajang Tanah Toa. Dok. Fitriani Lestari M.

Warga suku adat Kajang yang enggan disebut identitasnya juga menuturkan hal sama. Dia mengaku, baru pertama kali datang untuk imunisasi ketika anaknya sudah menginjak usia empat bulan. Ada keyakinan dari leluhur mereka sejak lama bahwa anak yang belum berusia tiga bulan tidak diperbolehkan menginjak tanah. “Sesuai keyakinan kami anak yang belum berusia tiga bulan tidak diperbolehkan untuk turun tanah,” ujarnya.

Pola fikir inilah yang tumbuh secara turun temurun menjadi faktor yang mengakibatkan banyak anak di Desa Tanah Toa mengikuti imunisasi tidak tepat pada usia, belum lagi jika waktu imunisasi yang ditetapkan setia tanggal 24 tiap bulannya bertepatan dengan kegiatan masyarakat adat, diantarannya pesta adat dan panen raya yang melibatkan para ibu ibu dan warga suku Kajang.

Fakta proses imunisasi yang saya temukan dihari itu cukup memprihatinkan, hanya ada tiga orang anak saja yang melakukan imunisasi di Desa dengan jumlah penduduk mencapai 3.947 orang sesuai sensus 2013 terdapat 300 kepala keluarga yang bermukim dikawasan adat ini.

Keyakinan saya bertambah jika imunisasi oleh sebagian warga Kajang dianggap bukan hal yang wajib atau perlu, salah satu orang tua yang juga berdomisili di Kajang, mengisahkan jika dirinya merasa trauma dengan imunisasi.

Trauma tersebut cukup beralasan untuk seorang ibu, pasca melakukan imunisasi lengkap terhadap anak pertamanya, sang anak diserang demam dan kerap kali sakit-sakitan, ini membuat ibu itu mengurungkan niatnya untuk memberikan imunisasi kepada anak keduanya yang kini telah memasuki usia 3 tahun.

Hanya saja anak yang kedua mengalami keterlambatan perkembangan dalam hal berbicara. Pada umumnya anak seusianya sudah mampu mengucapkan beberapa kata akan tetapi hal tersebut belum bisa dilakukan, berbeda dengan anak pertamananya yang telah melakukan imunisasi lengkap pada usia dua tahun mampu berbicara meskipun kerap sakit-sakitan.

Meski hal ini belum dapat dipastikan jika perbedaan perkembangan sang anak pengaruh dari imunisasi, keyakinan keterlambatan tumbuh kembang anak menurutnya hanya turunan yang dialami kakek dari kedua anaknya sehingga keyakinan ini terus melekat dan dipahami oleh sebagian warga Kajang.

Kepala Desa Tanah Toa, Salam menyampaikan, masyarakat di Desa adat suku Kajang sebenarnya tidak ada yang menolak program imunisasi dari pemerintah. Pun, ada anak yang sakit pasca disuntikan vaksin hanyalah kasuistis. Justru, tantangan paling terbesar adalah adat – istiadat di wilayah tersebut.

Secara perlahan Pemerintah Desa melibatkan tokoh masyarakat termasuk tokoh adat suku adat Kajang Dalam.

Pendekatan seperti ini diharapkan mendorong warga suku adat Kajang Dalam mengimunisasi anaknya.
“Sebenarnya tidak ada penolakan dari masyarakat Tanah Toa. Bahkan Amma Toa juga sangat mendukung,”katanya.

Keterlibatan Pemerintah Desa dan tokoh masyarakat untuk memberikan pemahaman kepada warga adat kajang dalam juga mulai diperlihatkan. Salam, selaku kepala desa tanah toa memutuskan untuk mengunakan anggaran desa tahun 2018 untuk membangun Pustu sederhana di dalam kawasan adat, dengan harapan memudahkan masyarakat untuk melakukan pengobatan dan imunisasi di dalam kawasan adat.

Sementara itu Kepala Puskesmas Tanah Toa, Ridwan yang telah menjabat sejak beberapa tahun lalu mengaku jika butuh proses yang panjang dan kerja keras untuk sampai hingga saat ini. meski memang cukup sulit untuk mengajak masyarakat untuk memberikan imunisasi tepat waktu kepada anak-anak mereka.

Belum lagi minimnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, mereka pada dasarnya hanya meyakini jika dua penyakit yang sangat perlu pemeriksaan tenaga kesehatan secara langsung, yakni luka dan diare selebihnya mereka hanya melakukan proses pengobatan ritual atau warga kajang menyebutnya dengan sebutan pengobatan tiup.

“Keyakinan ini telah berlangsung sejak nenek moyang mereka,”bebernya.

Puskesamaspun tidak kehabisan cara, pembinaan terhadap para kader posyandu di mulai sejak tahun 2015, dengan melibatkan para tokoh agama, tokoh msyarakat, dengan pola ini bagian untuk mengedukasi masyarakat setempat

Kepala Dinas Kesehatan Bulukumba, dr. Sri Wahyuni mengklaim bahwa tidak ada penolakan dari masyarakat terkait program imunisasi. Sebab, laporan diterima dari seluruh puskesmas capaian imunisasi cukup bagus. Kalaupun ada kasus demikian di Desa adat Kajang Dalam menjadi bahan evaluasi untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakat serta tokoh agama setempat mengingat pentingnya imunisasi dilakukan secara tepat waktu.

Pemeriksaan kesehatan gratis. Dok. Fitriani Lestari M.

Kurangnya pendidikan dan Pengetahuan masyarakat Tanah Toa tentang arti pentingnya imunisasi terhadap anak, sampai saat ini juga masih menjadi kendala yang membuat sebagian masyarakat Kajang engan untuk mengimunisasikan anak mereka. Meski dalam ilmu kesehatan, imunisasi merupakan langkah yang perlu dan penting dilakukan.

Memasuki waktu Duhur, satu persatu ibu yang telah melakukan pemeriksaan dan imunisasi pada anaknyapun pulang, hari itu hanya tiga anak saja yang imunisasi

Sambil membereskan sejumlah barang bawaan dan obat obatan, Muksin menjelaskan kondisi seperti ini sudah kerap kali terjadi di pustu yang sederhana itu, bahkan disaat perjalanan pulang ia mengatakan pernah beberapa kali pada jadwal imunisasi dia bersama para petugas kesehatan menunggu hingga berjam jam lamanya, namun tak ada satupun warga Kajang yang datang untuk imunisasi.

Kawasan adat suku Kajang terlihat sepi saat memasuki waktu siang hari, hanya beberapa warga saja yang melintas untuk beristirahat dan membawa pulang hewan ternak mereka.