Respon Keluhan Masyarakat, DPRD Bulukumba Sidak ke RSUD

KabarMakassar.com – Tujuh orang anggota Komisi D DPRD Bulukumba melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke RSUD Sultan Daeng Radja, Kamis (6/2). Hal ini dilakukan sebagai respon dari kabar terkait adanya salah seorang pasien di RS tersebut yang sudah dibedah namun batal dioperasi.

Ketua Komisi D DPRD Bulukumba, Bakti mengatakan, sidak yang dilakukan ini merupakan bentuk kepudulian DPRD terhadap masyarakat Bulukumba yang mendapatkan pelayanan kurang baik dari pihak RSUD.

Terlihat ke tujuh orang Anggota DPRD Bulukumba Komisi D yang berkunjung ke RSUD Bergantian Melampiaskan kekecewaannya terhadap pelayanan kesehatan yang ada di RSUD Bulukumba.

Ia pun mencurigai, peristiwa batal operasi tersebut terjadi karena dokter yang menangani pasien tersebut (dr Junaedi) khawatir paraktiknya akan sepi jika semua pasien melakukan operasi di RS.

“Saya curiga ini dr Junaedi tidak maksimalkan operasinya karena takut prakteknya sepi,” kata Bakti saat melakukan koordinasi dengan pihak RSUD Sultan Daeng Radja.

Bakti pun mengaku sangat kecewa dengan tindakan dokter tersebut. Sebeb menurutnya, hal seperti ini bisa merusak citra RSUD Sultan Daeng Radja.

Sebelumnya dikabarkan, Dume (60), salah seorang pasien di RSUD Sultan Dg Radja yang sudah dirawat selama dua hari, dan sudah diputuskan oleh pihak dokter untuk menjalani operasi, batal dioperasi.

Padahal, saat dibawa ke Ruang Operasi pada Rabu (5/2) lalu, bagian tubuh (leher) perempuan warga Desa Bukit Harapan, Kecamatan Gantarang yang
diduga menderita penyakit gondok ini sudah sempat dibedah.

Namun, dokter memutuskan untuk tidak melanjutkan operasi, sehingga leher yang awalnya telah dibedah kemudian dijahit kembali.

Mengetahui hal tersebut, pihak keluarga pasien pun tersulut emosi dan menyesalkan pelayanan di RSUD H. Andi Sultan Dg Radja tersebut.

Salah seorang keluarga pasien, Mustamin menyebut pihak rumah sakit tidak becus dalam menangani pasien. Bagaimana tidak, pasien yang telah dibedah, tiba-tiba tidak jadi dilanjutkan proses operasinya dengan alasan peralatan di RS tersebut tidak memadai.

“Kenapa di awal mereka tidak pastikan kalau penyakit pasien tidak bisa dikerjakan di sini? Padahal kan ada prosedur pemeriksaan yang dijalankan sebelum diputuskan untuk dioperasi,” sesal Mustamin.

Wadir RSUD Andi Sulthan Daeng Radja, dr Rizal saat dikonfirmasi terkait hal ini mengatakan, pihaknya akan berkonsultasi ke dokter bedah leher, dokter Halis, yang merupakan konsultan bedah kepala leher.

Rizal juga berjanji, akan membawa kasus yang ditangani dr Junaedi ini ke sidang komite etik di rumah sakit.