Sekda Pemprov Lantik 10 Pejabat Fungsional RSUD Sayang Rakyat

KabarMakassar.com — Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), Abdul Hayat Gani, melantik sepuluh pejabat fungsional lingkup Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel, pada Kamis, 2 Juli 2020. Abdul Hayat melantik dan mengambil sumpah jabatan para fungsional Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sayang Rakyat dengan menjalankan protokol kesehatan secara tertib.

“Kita mengapresiasi ASN yang beralih ke fungsional, kaya fungsi dan miskin struktur. Kami membutuhkan action di lapangan, perbanyak eksekusi, kurangi diskusi,” terang Abdul Hayat usai pelantikan.

Ke sepuluh pejabat fungsional yang dilantik berdasarkan Surat Keputusan (SK) Gubernur Nomor 821.29-185 yakni La Hatta, Cheryl Langiponno Buntugayang dan Rahmawati sebagai Arsiparis Madya. Sementara Heri Rusmana dilantik sebagai Pustakawan Madya. Sementara enam fungsional perpindahan jabatan lain ke dalam jabatan fungsional berdasarkan SK Gubernur Nomor 821.29-184 adalah Wahyuni Anwar, Sri Yunita, Halinda, Ayu Indira, Asri Ismaidah dan Mustagfir masing-masing sebagai Administrator Kesehatan Pertama dan Apoteker.

Sementara, Direktur RSUD Sayang Rakyat, Haeriyah Bohari, menanggapi pelantikan pejabat fungsional di instansi yang ia pimpin bagian dari perampingan struktur organisasi dan mengedepankan peran fungsional.

“Sesuai arahan dari Pak Sekda lebih banyak lebih bagus,” singkat Haeriyah.

RSUD Sayang Rakyat merupakan salah satu rumah sakit rujukan pasien Covid-19 di Sulsel dengan kapasitas lebih dari 100 pasien serta dilengkapi tujuh unit ventilator.

Ruang Isolasi Khusus Pasien Covid-19 di RSUD Sayang Rakyat Segera Difungsikan

KabarMakassar.com — 10 hari lagi, 18 ruang isolasi khusus pasien Covid-19 dengan fasilitas lengkap dan nyaman di RSUD Sayang Rakyat akan mulai difungsikan.

“Dalam 10 hari, RSUD Sayang Rakyat itu sudah bisa difungsikan. Saya kira ini adalah rumah sakit yang insha Allah yang terbaik,” kata Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, Senin (13/4).

Nurdin berharap, hadirnya ruang isolasi baru ini dapat memberikan kenyamanan bagi pasien. Pasalnya, kata dia, selama ini kebanyakan pasien tidak terlalu parah, tapi justru kondisinya diperparah dengan keadaan di dalam ruangan perawatan.

“Kita lengkapi internet, ada TV di dalamnya, dan pelayanan pasti akan lebih baik karena memang orang yang diisolasi itu tentu harus bisa mandiri di dalam. Kalau hanya modal tempat tidur, jangan-jangan penyakitnya ringan tapi masuk isolasi tambah berat. Jadi itulah yang coba kita upayakan. Mudah-mudahan 10 hari kedepan sudah bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Sebelumnya, Nurdin Abdullah menjelaskan, kamar isolasi di RSUD Sayang Rakyat ini merupakan ruangan kualitas bintang lima, dengan biaya renovasi Rp25 miliar.

“Tempat tidur yang nyaman. Karena orang masuk rumah sakit mau sehat dan harus nyaman. Kamar mandi harus yang bagus,” kata Nurdin Abdullah. (*)

RSUD Sayang Rakyat Dipersiapkan jadi RS Penyangga Penanganan Covid-19

KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulsel berupaya untuk menambah jumlah Rumah Sakit (RS) rujukan untuk menangani pasien atau kasus Virus Corona (Covid-19).

Kepala Bidang Pelayanan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, Husni Thamrin mengatakan, ada satu RS yang saat ini sedang dipersiapkan sebagai tambahan dari 7 RS rujukan maupun penyangga yang sudah ditunjuk sebelumnya.

“RS Sayang Rakyat sementara dalam persiapan (untuk dijadikan RS rujukan Covid-19), semoga bisa segera selesai persiapannya dalam waktu dekat,” kata Husni, Senin (23/3).

Perihal kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) untuk para dokter dan tenaga medis yang menangani pasien Covid-19 di sejumlah RS yang ada Sulsel, Husni mengatakan, pihak Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel terus berkoordinasi dengan Badan Penganggulangan Bencana (BPBD dan BNPB) dan pemerintah pusat untuk pengadaan APD tersebut.

“Sementara diupayakan menyangkut APD. Teman-teman di Dinkes senantiasa berkoordinasi dengan badan penanggulangan bencana dan pemerintah pusat untuk pengadaannya. Berangsur-angsur APD ini datang (dikirimkan), tapi masih terbatas. Tapi kalau untuk DOkter dan tenaga medis yang nelakukan penanganan terhadap pasien PDP itu masih cukup,” ujarnya.

Husni juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi-informasi yang beredar. Pasalnya menurut dia, tak sedikit informasi tidak benar dan menyesatkan yang beredar khususnya di media sosial.

“Yang harus sama-sama kita tekankan dan kita pahami, yang bisa memvonis seseorang itu positif atau tidak hanya hasil lab. Tidak ada yang lain. Tim kami juga terus melakukan pelacakan dan penelusuran di lapangan agar kita bisa sama-sama mmutu rantai penyebaran virus ini,” tutupnya.