Pupuk Bersubsidi Langka, Petani di Bulukumba Terancam Gagal Panen

KabarMakassar.com — Petani di Kabupaten Bulukumba mengeluhkan kelangkaan pupuk urea bersubsidi. Pasalnya, kondisi ini membuat lahan pertanian mereka gagal panen.

Safaruddin salah seorang petani di Desa Tambangan, Kecamatan Kajang, mengaku jika dirinya terpaksa tidak memberi pupuk urea ke tanamannya. Sebab, pupuk nonsubsidi harganya mencapai Rp250 hingga Rp300 ribu per karungnya, jauh lebih mahal dari pupuk subsidi yang biasanya bisa diperoleh dengan harga Rp115 sampai Rp120.000 per karungnya.

“Saya tidak sanggup membeli pupuk nonsubsidi karena harganya yang tinggi. Sementara tanaman jagung contohnya, minimal harus dipupuk dua kali. Saat ini banyak petani hanya memupuk satu kali,” ujarnya.

“Jika kondisi ini terus terjadi, maka saya dan petani lainnya akan terancam gagal panen atau produksinya berkurang pada Februari dan Maret nanti,” tambahnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Salen, petani asal Kecamatan Herlang. Ia mengaku sangat heran dengan kelangkaan pupuk bersubsidi ini. Padahal, kata dia, kelompok tani selalu membuat Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) setiap tahunnya.

“Kami berharap pupuk subsidi segera ada untuk tanaman. Untuk kelompok tani kami saja ada sekitar 150 hektare tanaman yang terancam gagal panen,” kata Salen.

Terpisah, Kepala Seksi Pupuk dan Alsintan Dinas Pertanian Kabupaten Bulukumba, Mappaenre mengatakan, kelangkaan pupuk subsidi yang terjadi di Kabupaten Bulukumba dikarenakan kuota yang berkurang dari pusat.

Menurut dia, kebutuhan pupuk urea bersubsidi di Bulukumba sebanyak 15.215 ton. Namun tahun ini hanya mendapat jatah 7.580 ton.

“Itu dari pusat memang sudah berkurang kuota pupuk urea bersubsidi, dari yang seharusnya Bulukumba butuh pupuk urea subsidi 15.215 ton untuk mencukupi kebutuhan petani, namun tahun ini kuota khusus Bulukumba berkurang. Kita cuma dapat 7.580 ton saja,” terangnya.