Pasien Covid-19 di Pinrang Bertambah Satu Orang

KabarMakassar.com — Kasus pasien positif Covid-19 di Kabupaten Pinrang, kembali terjadi. Hal itu berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Pinrang, Sabtu (30/5). Penambahan kasus ini merupakan dari klaster Makassar.

“Ada satu lagi tambahan pasien positif Covid-19. Pasien ini masuk klaster Makassar,” kata Kepala Dinas Kesehatan Pinrang, dr Dyah Puspita Dewi.

Dewi menyebut jika pasien tersebut masuk klaster makassar karena rapid testnya di Pasar Panampu Makassar dan hasilnya reaktif.

“Iye sebelum lebaran di rapid test di Pasar Panampu hasilnya reaktif, terus diminta jangan kemana-mana. Eh, dia pulang lebaran di kampungnya di Malongi Longi, Kecamatan Lanrisang,” ungkapnya.

Ia mengaku pihaknya mendapat informasi dari Makassar pada 24 Mei lalu jika ada pasien rekatif dan pulang ke Pinrang. Karenanya, Tim Gerak Cepat (TGC) kemudian mencari pasien untuk dilakukan rapid test dan hasilnya kembali positif.

“Dua hari pasca lebaran, dilakukan rapid tes ulang dan diambil swabnya untuk dibawa ke Makassar. Hari ini keluar hasilnya positif Covid-19, secara otomatis menjadi pasien ke 7 positif di Pinrang,” jelasnya.

Selain itu, kata Dewi, pihaknya juga sudah melakukan tracking di lokasi yang bersangkutan serta dilakukan penyemprotan disinfectan.

Pasien tersebut dirujuk ke Makassar. Untuk pasien ke 6 kondisi baik tapi masih harus di swab yang kedua kalinya, semoga negatif,” pungkasnya.

Pasien Covid-19 di Takalar Bertambah 1 Orang

KabarMakassar.com — Jumlah pasien positif Covid-19 di Kabupaten Takalar bertambah satu orang. Pasien baru ini berdomisili di Pulau Barrang Lompo, Kota Makassar dan meninggal beberapa hari lalu. Sehingga total pasien covid-19 di Takalar sebanyak 6 orang.

Jubir Gugus Covid-19 Takalar, Syainal Mannan mengatakan pasien positif tersebut berinisial HJ merupakan warga Jalan Pallantikan, Kelurahan Pattalassang, Takalar.

Menurutnya HJ diketahui positif dari hasil tes swab yang dilakukan oleh tim gugus Covid-19 tiga hari lalu. Kata dia, tes swab dilakukan bersama sembilan orang kerabat yang pernah kontak erat dengan korban ES.

“Untuk sementara kami mendapatkan hasil swab 6 orang yang kontak erat almarhum ES, itu ada 1 yang positif yakni HJ ibu almarhum dengan komorbid atau memiliki penyakit lain,” kata Syainal Mannan, Rabu (27/5).

Menurutnya HJ dinyatakan positif namun dalam kondisi fisik yang sehat sehingga dilakukan penjemputan oleh tim gugus covid untuk menjalani isolasi mandiri di hotel Grand Palace Makassar.

Ia mengaku jika penjemputan itu dilakukan oleh anak HJ sendiri atau saudara ES yang juga merupakan salah satu perawat di RSUD Padjonga Dg Ngalle Takalar.

“Info terbaru juga, ibu almarhum ES, juga sudah dilakukan penjemputan oleh tim gugus tadi siang, dan alhamdulillah, saat ini sudah berada di Hotel Grand Palace untuk dilakukan juga isolasi mandiri,” ujarnya.

PSBB di Makassar Berakhir, Jumlah Kasus Covid-19 Turun atau Naik?

KabarMakassar.com — Pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap kedua di Kota Makassar berakhir hari ini, Jumat (22/5) dan tak diperpanjang.

Meski PSBB yang tujuan utamanya untuk membatasi pergerakan orang dalam upaya menekan penyebaran Virus Corona atau Covid-19 sudah dilaksanakan dalam dua tahap atau 28 hari, namun berdasarkan data jumlah pasien positif Covid-19 di Kota Makassar belum menunjukkan trend penurunan. Bahkan, jumlahnya masih terus bertambah.

Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, khusus di Kota Makassar, Kamis (21/5) malam kemarin, total kumulatif kasus terkonfirmasi positif di Kota Makassar tercatat sebanyak 659 kasus atau mengalami peningkatan sebanyak 352 kasus dari sebelum PSBB diberlakukan. Dimana sehari sebelum PSBB diberlakukan, jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Makassar tercatat sebanyak 307 kasus.

Untuk lebih rincinya, Kota Makassar mulai menerapkan atau memberlakukan PSBB pada 24 April 2020, dimana saat itu jumlah pasien positif Covid-19 tercatat sebanyak 307 orang. Di akhir masa pemberlakukan PSBB tahap pertama atau tepatnya 7 Mei 2020, jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Makassar tercatat 466 kasus atau mengalami penambahan sebanyak 159 kasus dalam 14 hari.

Pemerintah Kota Makassar kemudian memperpanjang penerapan PSBB ke tahap kedua selama 14 hari, terhitung mulai 8 – 22 Mei 2020. Sehari sebelum masa pemberlakukan PSBB tahap kedua berakhir atau 21 Mei 2020, jumlah kasus positif Covid-19 di Kota Makassar tercatat 659 kasus atau mengalami penambahan sebanyak 193 kasus dalam 13 hari.

Meski jumlah kasus masih terus bertambah, namun Pemerintah Kota Makassar memutuskan untuk tidak lagi memperpanjang PSBB ke tahap ketiga.

“PSBB tidak dilanjutkan. Tapi kita sudah membuat Perwali (pweraturan walikota) yang baru tentang penerapan protokol kesehatan,” kata Penjabat (Pj) Walikota Makassar, Yusran Yusuf, Kamis (21/5) kemarin.

Menurut Yusran, Perwali yang baru tentang penerapan protokol kesehatan tersebut akan mengikuti peraturan yang telah dibuat oleh Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB).

“Kita mengadopsi protokol kesehatan yang dibuat oleh BNPB,” terangnya.

Lebih jauh Yusran mengatakan, dengan berakhirnya PSBB, maka semua toko diperbolehkan untuk beroperasi, dengan catatan tetap menerapkan protokol kesehatan.

“Semua boleh buka, sepanjang dia menerapkan prosedur atau protokol kesehatan, seperti jaga jarak dan pakai masker,” ujarnya.

Sekadar diketahui, untuk lingkup Provinsi Sulsel, hingga Kamis (21/5) jumlah total kumulatif kasus terkonfirmasi positif Covid-19 tercatat sebanyak 1.135 kasus. Dari jumlah tersebut, 676 orang diantaranya masih dirawat, 398 sudah dinyatakan sembuh, dan 61 meninggal dunia.

Sementara untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 1.533 orang (337 dirawat/proses follow up, 1061 dinyatakan negatif Covid-19, 135 meninggal dunia). Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya sebanyak 4.826 orang (862 proses pemantauan, 3.964 selesai pemantauan).

Berikut rekap data sebaran kasus Covid-19 di Provinsi Sulsel:

(Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel)

Satu Warga Desa Banggae Takalar Reaktif Covid-19

KabarMakassar.com — Satu orang warga Desa Banggae, Kecamatan Marbo, Kabupaten Takalar berinisial SL (39) reaktif covid-19, Kamis (21/5). Hal itu pun dibenarkan oleh Ketua Tim Gugus Covid-19 Kabupaten Takalar Dr Rahmawati.

Ia mengaku jika warga Banggae tersebut bekerja sebagai sopir di Kota Makassar. “Benar, mengenai ini pasiennya sudah berada di Makassar untuk dilakukan isolasi mandiri,” kata dr. Rahmawati, Kamis (21/5).

Menurutnya informasi yang diterimanya hanya sebatas hasil rapid tes tapi belum mendapatkan hasil swabnya.

“Informasi yang kami terima hasil RDT-nya yang reaktif, tapi hasil swab belum ada. Kami sudah melakukan kordinasi ke Dinas Kesehatan Provinsi dan laboratorium namun belum mendapatkan hasil positif swabnya,” ungkapnya.

Dr Rahmawati menambahkan pasien reaktif covid-19 tersebut diketahui reaktif ketika perusahaan yang tempatnya bekerja melakukan pemeriksaan rapid test.

“Pasien bekerja di Makassar sebagai sopir. Hasil pemeriksaan RDTnya yang positif. Pasien kini sudah di Hotel di Makassar untuk Isolasi mandiri,” pungkasnya.

Update Covid-19 di Sulsel 18 Mei: Total Kasus Positif Tembus 1.017, Ini Sebarannya

KabarMakassar.com — Kasus positif virus Corona atau Covid-19 di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) masih terus menunjukkan trend peningkatan.

Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel merilis, hari ini, Senin (18/5) tercatat ada tambahan sebanyak 66 pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19. Sehingga jumlah total kumulatif kasus positif Covid-19 di Sulsel sudah sebanyak 1.017 kasus. Dari jumlah tersebut, 623 diantaranya masih dirawat, 339 sudah dinyatakan sembuh, dan 55 meninggal dunia.

Berdasarkan daerah domisili, tambahan 66 pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 tersebut tersebar di Makassar 27 kasus, Gowa 20 kasus, Parepare 5 kasus, Bulukumba 4 kasus, Luwu Utara 3 kasus, Maros 3 kasus, Pinrang 1 kasus, Sidrap 1 kasus, Pangkep 1 kasus, Takalar 1 kasus.

Sejauh ini, kasus positif Covid-19 sudah menyebar di 23 dari total 24 kabupaten/kota di Provinsi Sulsel. Adapun lima daerah dengan jumlah total kumulatif kasus terbanyak yakni: Makassar (620 kasus); Gowa (92 kasus), Maros (54 kasus); Luwu Timur (38 kasus); dan Luwu Utara (34 kasus)

Sementara 19 kabupaten/kota lainnya, yakni: Sidrap (27 kasus); Parepare (27 kasus); Luwu (20 kasus); Pangkep (18 kasus); Sinjai (15 kasus); Bulukumba (11 kasus); Soppeng (9 kasus); Barru (8 kasus); Bone (7 kasus); Pinrang (6 kasus); Takalar (6 kasus); Enrekang (5 kasus); Jeneponto (4 kasus); Tana Toraja (3 Kasus); Palopo (3 kasus); Selayar (1 kasus); Wajo (1 kasus), Bantaeng (1 kasus); dan Toraja Utara (0 kasus). Selain itu, ada pula sebanyak 7 pasien positif yang mengikuti program Rekreasi Duta Covid-19.

(Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel)

Terkait peningkatan kasus positif Covid-19 yang masih terus terjadi di Sulsel ini, Gugus Tugas Percepatan Penanangan Covid-19 Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mengimbau massyarakat Sulsel untuk melaksanakan Salat Idulfitri atau Salat Ied di rumah masing-masing. Hal ini juga sesuai dengan arahan dari pemerintah pusat.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah mengatakan, sesuai dengan analisa Badan Intelijen Negara (BIN), masih terjadi peningkatan kasus Covid-19 menjelang Hari Raya Idulfitri.

Berdasarkan hal itu, kata dia, maka dalam rapat yang digelar Forkopimda Provinsi Sulsel bersama Menkopolhukam, Kapolri dan Menteri Agama melalui video conference, telah disepakati bahwa Pemerintah Provinsi Sulsel diminta untuk mengimbau kepada seluruh masyarakat agar melaskanakan Salat Ied di rumah masing-masing.

“Karena pandemi Covid-19 ini kita telah berkomitmen untuk memutus rantai penularan, maka lebaran kali ini diimbau untuk melakukan Salat Ied di rumah. Itu diimbau dengan sangat. Ini bukan larangan, tapi kita imbau. Tinggal kesadaran masyarakat untuk lebih berempati dengan upaya kita memutus penularan,” kata Nurdin, Senin (8/5).

“Karena tentu dengan kerumunan massa dan sebagainya, itu akan ada kecenderungan terjadi penularan lagi. Oleh karena itu, saya dan seluruh forkopimda diminta untuk lebih intens mensosialisasikan imbauan ini,” sambungnya.

Untuk daerah zona hijau yang memang clear dari Covid-19, lanjut Nurdin, jika warganya ingin melaksanakan Salat Ied secara berjamaah di Mesjid atau lapangan terbuka, maka pihaknya akan memfasilitasi, untuk memastikan bahwa protokol kesehatan benar-benar diterapkan.

“Semua diimbau untuk di rumah. Tapi sekiranya itu zona hijau dan ada yang memang ngotot untuk Salat Ied di lapangan, maka kita akan fasilitasi dan pastikan protokol kesehatan benar-benar diterapkan,” ujarnya.

“Itu harus dan wajib, sehingga sangat jelas penyampaian dari Kapolri, Menkopolhukam, Menteri Agama, mengimbau kepada seluruh masyarakat Sulsel bahwa dalam rangka mendukung pemutusan penyebaran Covid-19 agar lebih cepat. Maka untuk Idulfitri kali ini untuk sebaiknya Salat Ied di rumah,” lanjutnya.

Terkait pernyataan Pj Walikota Makassar yang mengisyaraktkan membolehkan warga Makassar untuk melaksanakan Salat Ied secara berjamaah di Mesjid di lingkungan masing-masing, Nurdin Abdullah menampik hal tersebut.

“Kita baru mau rapat besok dengan seluruh bupati, walikota. tokoh agama, dan seluruh organisasi kemasyarakatan. Kita harus ikuti apa yang disampaikan tadi oleh pemerintah pusat,” tegasnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, dr Muhammad Ichsan Mustari mengatakan, meningkatnya jumlah pasien Covid-19 di Sulsel dalam beberapa hari terakhir salah satunya disebabkan karena saat ini di Sulsel sudah ada tujuh laboratorium yang beroperasi untuk melakukan pemeriksaan atau pengujian sampel swab dan PCR. Dimana dalam sehari, ada sebanyak 350 sampai 400 spesimen pasien yang diperiksa.

“Laboratorium kita di Sulsel itu saat ini sudah ada 7 yang berfungsi, dan rata-rata setiap harinya itu ada sebanyak 350 sampai 400 spesimen yang diperiksa, sehingga waktu tunggu untuk mendapatkan hasil lebih cepat. Itu salah satu faktor penyebabnya. Tapi memang beberapa hari ini ada peningkatan, dan trend penurunan belum kelihatan,” ujarnya.

“Selain itu juga akrena masih kurangnya kesadaran masyarakat untuk menerapkan social dan physical distancing. Seperti di Sinjai dan Luwu itu spesifik satu daerah yang riwat pasiennya itu karena kontak serumah. Ada bahkan 1 daerah itu 6 yang positif karena kontak serumah. Ini yang memang masih butuh penekanan,” sambungnya.

Sekadar diketahui, jumlah kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Sulsel dalam seminggu terakhir terus megalami peningkatan. Mulai dari 12 Mei sebanyak 25 kasus, 13 Mei 54 kasus, 14 Mei 36 kasus, 15 Mei 34 kasus, 16 Mei 46 kasus, 17 Mei 34 kasus, dan hari ini 18 Mei sebanyak 66 kasus.

Secara nasional, Sulsel berada di peringkat kelima provinsi dengan jumlah kasus positif Covid-19 terbanyak di bawah DKI Jakarta (6.010 kasus), Jawa Timur (2.152 kasus), Jawa Barat (1.652 kasus), dan Jawa Tengah (1.157 kasus).

Pasien Positif Covid-19 di Pinrang Bertambah 1 Orang

KabarMakassar.com — Pasien Positif Covid-19 di Kabupaten Pinrang kembali bertambah 1 Orang. Pasien positif terbaru ini masuk dalam klaster pasar Lakessi Kota Parepare dan kini dirawat intensif di RSUD Andi Makassau Parepare.

“Hasil swabnya tadi Positif Covid-19 setelah saya dikabari dari RS Parepre,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pinrang, dr Dyah Puspita Dewi, Minggu (17/5).

Dewi menambahkan pada 15 Mei lalu, pasien nomor 002 di Pinrang telah dinyatakan sembuh dari Covid-19 setelah hasil tes swab dua kali negatif.

“Jadi total yang sembuh dari Covid-19 di Pinrang sebanyak 4 orang. Sedangkan jumlah pasien positif menjadi 6 orang,” ungkapnya.

Sekedar diketahui update per 17 Mei, terdapat 1.470 orang tanpa gejala (OTG), 153 orang dalam pemantauan (ODP), 16 pasien dalam pengawasan (PDP) satu meninggal, 6 pasien positif Covid-19 empat dinyatakan sembuh.

Update Covid-19 di Sulsel 13 Mei: 801 Positif, 289 Sembuh

KabarMakassar.com — Jumlah kasus virus Corona atau Covid-19 di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) kembali mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan setempat, Rabu (13/5) ada penambahan 54 kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Sementara pasien yang dinyatakan sembuh hanya bertambah 3 orang.

Dengan begitu, total kumulatif pasien positif Covid-19 di Sulsel hingga saat ini sudah sebanyak 801 orang. Dari jumlah tersebut, 289 orang sudah dinyatakan sembuh, 49 meninggal dunia, dan sisanya sebanyak 463 orang masih dirawat.

Tambahan 54 kasus positif Covid-19 tersebut tersebar di Makassar 19 kasus; Luwu 11 kasus; Luwu Timur 9 kasus; Parepare 5 kasus; Pangkep 5 kasus; Gowa 2 kasus; Barru 1 kasus; Maros 1 kasus; dan Jeneponto 1 kasus.

Sementara untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) jumlahnya sebanyak 1.294 orang (256 dirawat/proses follow up, 906 sehat/non Covid-19, 122 meninggal dunia). Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya sebanyak 4.507 orang (880 proses pemantauan, 3.627 selesai pemantauan)

Sampai dengan hari ini, kasus positif Covid-19 sudah menyebar di 23 dari total 24 kabupaten/kota yang ada di Sulsel. Adapun lima daerah dengan jumlah total kumulatif kasus terbanyak yakni; Makassar (516 kasus); Gowa (58 kasus), Maros (46 kasus); Luwu Utara (27 kasus); dan Luwu Timur (24 kasus).

Sementara 19 kabupaten/kota lainnya, yakni: Sidrap (22 kasus); Parepare (21 kasus); Pangkep (16 kasus); Luwu (14 kasus); Soppeng (9 kasus); Sinjai (7 kasus); Bulukumba (7 kasus); Pinrang (5 kasus); Bone (5 kasus); Takalar (5 kasus); Enrekang (5 kasus); Jeneponto (4 kasus); Tana Toraja (3 Kasus); Barru (2 kasus); Palopo (2 kasus); Selayar (1 kasus); Wajo (1 kasus), Bantaeng (1 kasus); dan Toraja Utara (0 kasus).

(Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel)

Secara nasional, hari ini ada penambahan sebanyak 689 kasus terkonfirmasi positif Covid-19. Sehingga total kumulatif pasien positif Covid-19 di Indonesia jumlahnya sudah sebanyak 15,438 orang.

Menyikapi hal ini, pemerintah meminta masyarakat beradaptasi dengan berbagai norma baru untuk mencegah penularan Covid-19, lantaran belum ada vaksin maupun obat yang mampu menjadi penangkal virus ini.

Juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto mengatakan, masyarakat harus mengubah gaya hidup secara keseluruhan demi memutus rantai penularan Covid-19. Cara hidup baru itu terdiri dari rajin mencuci tangan, mengenakan masker, hingga menghindari kerumunan manusia.

“Pandemi ini masalah global. Kalau tidak beradaptasi, kita tidak akan bertahan. Yang harus dipahami, penyakit bisa dikendalikan dan mengubah cara kita hidup,” kata Yurianto saat memberikan keterangan pers di Gedung BNPB, Jakarta, Rabu (13/5).

Yurianto juga meminta masyarakat memberi dukungan terhadap upaya pemerintah dalam percepatan penutusan rantai peneyebarqn Covid-19 ini dengan membatasi aktivitas sosial.

“Ini penting karena kita sadari faktor pembawa penyakit itu manusia,” kata dia.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menyatakan kurva penyebaran corona di Indonesia tak bisa langsung melandai dalam waktu dekat. Berdasarkan prediksi beberapa ahli, kurva penyebaran corona di dalam negeri bakal bergerak fluktuatif.

Menurut dia, hal tersebut akan terus berlangsung hingga vaksin Covid-19 ditemukan.

“Sampai ditemukannya vaksin yang efektif, kita harus hidup berdamai dengan Covid-19 untuk beberapa waktu ke depan,” kata Jokowi baru-baru ini.

Update Sebaran Kasus Covid-19 di Sulsel 12 Mei 2020

KabarMakassar.com — Kasus Covid-19 di Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) masih terus bertambah. Berdasarkan data Dinas Kesehatan setempat, hari ini ada penambahan 28 pasien baru yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Dengan begitu, hingga Selasa (12/5) pukul 20.00 Wita, jumlah total kumulatif kasus positif Covid-19 di Sulsel jumlahnya tercatat sebanyak 750 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, dr. Muhammad Ichsan Mustari menyebutkan, berdasarkan domisili pasien, tambahan 28 kasus positif Covid-19 tersebut tersebar di: Makassar 8 kasus, Maros 6 kasus, Pangkep 6 kasus, Gowa 5 kasus, Jeneponto 2 kasus, dan Enrekang 1 kasus.

“Sebelumnya (sampai sore) itu diumumkan ada tambahan 25 kasus, tapi barusan saya dapat pemberitahuan ada tambahan lagi 3 kassus,sehingga totalnya itu ada 28 tambahan kasus positif Covid-19 di Sulsel untuk hari ini,” kata Ichsan melalui video conference, Selasa (12/5) malam.

Selain tambahan kasus positif, lanjut Ichsan, jumlah pasien positif Covid-19 yang dinyatakan sembuh hari ini juga bertambah sebanyak 7 orang.

“Sehingga jumlah total pasien yang sudah dinyatakan sembuh sampai hari ini sebanyak 286 orang,” terangnya.

Sekadar diketahui, sampai dengan hari ini, kasus positif Covid-19 sudah menyebar di 23 dari toal 24 kabupaten/kota yang ada di Sulsel. Aapun lima daerah dengan jumlah kasus terbanyak yakni; Makassar (486 kasus); Gowa (56 kasus), Maros (45 kasus); Luwu Utara (27 kasus); dan Sidrap (22 kasus).

Sementara 19 kabupaten/kota lainnya, yakni: Parepare (16 kasus); Pangkep (16 kasus); Luwu Timur (15 kasus); Soppeng (9 kasus); Sinjai (7 kasus); Bulukumba (7 kasus); Pinrang (5 kasus); Bone (5 kasus); Takalar (5 kasus); Enrekang (5 kasus); Tana Toraja (3 Kasus); Luwu (3 kasus); Jeneponto (3 kasus); Selayar (1 kasus); Palopo (1 kasus); Wajo (1 kasus), Bantaeng (1 kasus); dan Barru (1 kasus), Toraja Utara (0 kasus).

Untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) jumlahnya sampai hari ini tercatat sebanyak 1.274 orang (343 dirawat/proses follow up, 820 sehat/negatif Covid-19, 111 meninggal dunia). Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya sebanyak 4.437 orang (860 proses pemantauan, 3.577 selesai pemantauan).

Pasien Positif Covid-19 di Bulukumba Bertambah 1 Orang

KabarMakassar.com — Jumlah pasien positif Covid-19 di Kabupaten Bulukumba bertambah 1 orang. Maka total positif Covid-19 di Bulukumba menjadi 7 orang. Pasien 007 itu asal Kecamatan Kindang dan merupakan kasus pertama transmisi lokal.

Pasien 007 diduga kuat terpapar virus karena bertetangga dengan pasien 004 karena sering dikunjungi. Pasien 007 dinyatakan positif setelah keluar hasil pemeriksaan swabnya dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Makassar pada 9 Mei 2020 kemarin.

Juru Bicara (Jubir) Gugus Tugas Covid-19 Bulukumba, HM Daud Kahal mengatakan jika pasien 007 sebelumnya merupakan OTG pernah menampakkan gejala sakit, sehingga direkomendasikan untuk dirawat. Kata dia, pasien 007 sudah dievakuasi dan dirujuk ke Hotel Almadera Makassar.

“Kini kasus positif Bulukumba totalnya berjumlah tujuh orang, namun dua diantaranya sudah sembuh,” kata HM Daud Kahal.

Karena itu, kata Daud, hal ini menjadi peringatan kepada masyarakat agar semakin waspada karena sudah terjadi kasus transmisi lokal di Bulukumba. Artinya, kata dia, penularan virus itu secara lokal benar-benar sudah terjadi.

“Kita himbau warga agar jangan keluar rumah jika bukan hal mendesak. Tetap tinggal di rumah adalah solusi untuk memutus penularan virus. Jika pun terpaksa keluar rumah harus jaga jarak dan memakai masker,” jelasnya.

Dengan bertambahnya kasus positif di Bulukumba, Daud berharap adanya kepedulian dari warga lain kepada pasien positif dan keluarganya untuk tidak boleh dikucilkan dan diberikan stigma negatif.

“Justru pasien positif ini harus kita bantu dan dukung bersama agar mereka bisa sembuh secepatnya,” pungkasnya.

Hari Terkahir PSBB Tahap I di Makassar, Ada Tambahan 12 Kasus Positif Covid-19

KabarMakassar.com — Hari terakhir tahap pertama pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Makassar, jumlah pasien positif masih terus bertambah.

Berdasarkan data yang dirilis Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel, khusus di Kota Makassar, Kamis (7/5) malam kemarin, ada penambahan sebanyak 12 kasus terkonfirmasi positif. Sehingga jumlahnya total kumulatifnya naik dari 454 menjadi 466 kasus.

Sementara untuk lingkup Provinsi Sulsel, total penambahannya sebanyak 19 kasus terkonfirmasi positif. Sebarannya, selain di Makassar 12 kasus, juga ada penambahan di Gowa 6 kasus dan Sinjai 1 kasus. Jumlah pasien positif Covid-19 yang dinyatakan sembuh juga bertambah 13 orang, sehingga total keseluruhannya menjadi sebanyak 250 orang.

Dengan begitu, total kumulatif pasien positif Covid-19 di Sulsel hingga Kamis (7/5) sudah sebanyak 684 orang (388 dirawat, 250 sembuh, 45 meninggal dunia). Sementara untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP) sebanyak 1.037 orang (206 dirawat/proses follow up, 673 sehat/negatif Covid-19, 100 meninggal dunia). Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya sebanyak 4.206 orang (747 proses pemantauan, 3.459 selesai pemantauan).

Adapun 5 daerah dengan jumlah total kasus positif Covid-19 terbanyak di Sulsel yakni; Makassar (466 kasus); Gowa (48 kasus), Maros (36 kasus); Luwu Utara (25 kasus); dan Sidrap (22 kasus).

Sementara 19 kabupaten/kota lainnya, yakni: Parepare (16 kasus); Luwu Timur (12 kasus); Pangkep (10 kasus); Sinjai (7 kasus); Bulukumba (6 kasus); Pinrang (5 kasus); Bone (5 kasus); Takalar (5 kasus); Soppeng (5 kasus); Enrekang (4 kasus); Tana Toraja (3 Kasus); Selayar (2 kasus); Luwu (2 kasus); Jeneponto (1 kasus); Palopo (1 kasus); Wajo (1 kasus), Bantaeng (1 kasus); Barru (1 kasus), dan Toraja Utara (0 kasus).

Sejauh ini, di Sulsel sudah ada 2 kabupaten/kota yang menerapkan PSBB, yakni Kota Makassar (24 April – 7 Mei) dan Kabupaten Gowa (4 Mei – 17 Mei). Khusus untuk Kota Makassar, pelaksanaannya diperpanjang hingga 22 Mei 2020.

Sebelumnya, Gubernur Sulsel mengakui bahwa salah satu alasan utama pihaknya menyetujui perpanjangan PSBB di Kota Makassar adalah karena masih rendahnya tingkat kepatuhan masyarakat yang masih sangat rendah dalam menerapkan imbauan dan protokol kesehatan selama masa pandemi Covid-19.

“Setelah kita rapat, kita evaluasi selama 14 hari, PSBB Makassar ini boleh dikata tingkat kepatuhan kita masih sangat rendah. Sehingga, perpanjangan ini kita lakukan,” kata Nurdin.

Meski begitu, Nurdin menekankan beberapa catatan dalam pelaksanaan perpanjangan PSBB di Kota Makassar. Salah satunya, semua petugas yang ada di lapangan harus lebih santun.

“Termasuk Satpol PP. Turun bukan untuk marah-marah, tetapi turun untuk melayani. Kalau ada yang keliru, ada yang tidak patuh, hukuman boleh, tetapi tidak dengan kata-kata yang menyakitkan. Orang yang dihukum itu butuh sentuhan. Saya berharap, PSBB diberlakukan tapi ekonomi masyarakat tetap bisa bergerak,” ujarnya.

Untuk menjaga ekonomi agar bisa terus bergerak, Nurdin mengaku sudah meminta kepada Pj Walikota Makassar mengundang semua pemilik toko di Makassar, terutama yang memiliki karyawan dalam jumlah besar.

“Karena mau lebaran, kalau toko ditutup semua, orang mau belanja dimana? Makanya semua toko, terutama yang punya tenaga kerja banyak ini harus kita tetap buka. Tapi dengan catatan protokol kesehatan harus tetap dijaga. Pakai masker, jaga jarak, di depan ada wastafel, ada hand sanitizer, ada scanner, itu saja. Kita pastikan orang yang masuk di toko tidak ada yang positif, tidak ada yang bermasalah,” ujarnya.

Nurdin menegaskan bahwa persoalan tutup jalan bukan lagi fokus utama dalam PSBB. Yang lebih penting adalah lebih masif mencari carrier Covid-19 untuk memotong mata rantai penyebaran Covid-19, khususnya dengan menemukan kasus-kasus transmisi lokal.

“Local transmission ini harus betul-betul ditemukan orangnya,” tegasnya.

Nurdin juga meminta agar seluruh warga Kota Makassar tidak perlu panik dengan perpanjangan PSBB ini. Ia memastikan PSBB akan berjalan lebih baik dari sebelumnya.

“Tidak usah kita panik atau resah, kita sudah melakukan evaluasi 14 hari ini. Iya tentu masih ada oknum-oknum aparat kita, terutama Satpol-PP yang berlaku tidak sepantasnya di tengah-tengah masyarakat, itu kita minta maaf. Mudah-mudahan tidak ada lagi yang siram-siram barangnya orang, karena itu sudah dilarang. Langkah yang cocok, kalau ada yang salah kita bicarakan secara persuasif,” tuturnya.

Nurdin menambahkan, tugas pemerintah saat ini adalah menyelamatkan usaha-usaha yang sudah hampir bangkrut atau colaps.

“Ini harus kita selamatkan. Cara kita selamatkan, kita support, jangan justru tambah dipojokkan,” ucapnya.

Menanggapi hal tersebut, Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Prof. Aminuddin Ilmar mengatakan, JIka PSBB di Kota Makassar diperrpanjang, maka yang dibutuhkan adalah ketegasan yang lebih baik dari sebelumnya. Hal ini mengingat tingkat kepatuhan masyarakat di Kota Makassar untuk mengikuti imbauan pemerintah dan menjalankan protokol kesehatan masih rendah.

Sementara, kata dia, tujuan utama PSBB adalah untuk menghentikan terjadinya penyebaran atau penularan virus Corona (Covid-19) secara efektif, dengan melarang atau membatasi interaksi orang, guna mencegah terjadinya transmisi lokal.

“Kemarin kan pak gubernur juga bilang bahwa tingkat kepatuhan masih rendah, sehingga masih harus dilakukan PSBB lanjutan di Makassar,” kata Prof. Aminuddin.

Menurut dia, problem yang dihadapi saat ini adalah akan diberikannya relaksasi atau kelonggaran pada penerapan PSBB, dengan alasan bahwa ternyata pelaksanaannya mengakibatkan roda perekonomian terganggu.

“PSBB itu sebenarnya sudah longgar. Kalau kemudian itu dilonggarkan lagi, ya sama saja tidak ada PSBB. Ini yang harus diperhatikan. Seharusnya relaksasi itu baru bisa dilakukan kalau kasusnya sudah mulai menurun dan kepatuhan masyarakat sudah tinggi. Sekarang ini itu belum tercapai. Kasusnya kan masih tinggi,” ujarnya.

“Makanya harus lebih tegas dari sebelumnya, dan bukan justru dengan relaksasasi mengajak orang pergi belanja karena menghadapi idulfitri. Apa yang mau dicapai dengan PSBB seperti itu? Kalau itu (kelonggaran) diberikan, saya yakin penerapan PSBB itu akan menjadi masalah dan akan sia-sia,” pungkasnya.