Rayakan HUT RI ke-75, Polsek Marbo akan Bagikan Paket Sembako

KabarMakassar.com — Jelang perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-75 pada 17 Agustus 2020 mendatang, personil Polsek Marbo mulai melakukan sejumlah persiapan terutama di Kantor Polsek Marbo, Rabu (5/8).

Kesiapan dan persiapan perayaan sejarah kelahiran RI itu dilakukan di tengah masih mewabahnya pandemi covid-19. Walau demikian, itu tidak mengendorkan semangat personil dan rakyat untuk merayakan hari kemerdekaan meskipun dengan prosedur protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah.

Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Wakapolsek Marbo, Iptu Abd. Karim mulai melakukan aktivitas seusai apel pagi dengan melakukan pemasangan bendera dan umbul-umbul merah putih yang membentang di pagar halaman dan di atas lespalang Kantor Mapolsek Marbo.

Kapolsek Marbo, AKP Sudirman mengatakan bahwa kegiatan perayaan 17 Agustus setiap tahunnya rutin dilakukan khususnya di lingkungan Kantor Mapolsek Marbo.

“Menyambut perayaan hari kemerdekaan tentu ini kegiatan rutin. Mulai dengan pemasangan umbul-umbul merah putih, pengecatan pagar, serta rangkaian lain yang menyangkut perayaan,” kata AKP Sudirman.

Menurutnya dalam waktu dekat ini akan melakukan pendistribusian bantuan sembako kepada warga yang belum sama sekali mendapatkan bantuan.

“Dalam waktu dekat kami akan melakukan pendistribusian beras sembako sebanyak 10 kg/KK kepada keluarga miskin yang belum mendapatkan bantuan sama sekali. Makanya kita libatkan Personil Bhabinkamtibmas untuk segera mendatakan warganya,” pungkasnya.

Nasib Band Lokal Makassar di Tengah Pandemi Covid-19

KabarMakassar.com — Sejumlah tempat hiburan di Kota Makassar kembali buka walau pandemi Covid-19 masih belum berakhir. Walau demikian, aktivitas tempat hiburan itu belum bisa maksimal karena masih adanya pembatasan untuk berkegiatan dengan menghadirkan banyak orang.

Akibatnya, kegiatan hiburan seperti live band dan musik perform dan jenis hiburan lainnya belum bisa dilaksanakan. Hal ini pula berdampak pada sejumlah musisi dan band lokal yang ada di Kota Makassar sepi panggilan.

Karena itu, sejumlah band dan musisi di Kota Makassar mempertanyakan terkait kebijakan yang sudah berlakukan yakni dengan melonggarkab tempat keramaian hiburan malam di Kota Makassar. Pasalnya, musisi dan band lokal ini sangat tergantung pada kegiatan keramaian seperti konser musik.

Salah satu personil band lokal Makassar, TripleSix, Kalfi mengaku sangat menyayangkan dengan kebijakan pemerintah. Ia menilai pemerintah belum efektif memberikan kebijakan

“Adanya covid-19 ini, sangat merugikan sekali. Karena sampai saat ini belum ada solusi yang efektif dari pemerintah” kata Kalfi, Selasa (4/8).

“Tapi anehnya, dibeberapa tempat keramaian lainnya seperti di pasar, mall, dan lainnya sudah buka dan beroperasi. Padahal kan sama-sama keramaian. Kalau dengan alasan karena mengikuti protokol kesehatan, kami pun bisa,” tambahnya.

Lanjut, Kalfi mengatakan bahwa dengan diberikannya kelonggaran pada beberapa tempat keramaian harus juga berefek pada nasib pada musisi dan band lokal. Ia juga berharap ada perhatian dan kebijakan khusus yang diberikan karena penghasilan selama pandemi tidak ada.

“Intinya kami sebagai musisi, selain kehilangan job tanpa pemasukan, kami juga merasa tidak ada perhatian khusus oleh pemerintah terhadap profesi kami,” ungkapnya.

Dikonfirmasi terpisah, Supervisor Tempat Hiburan malam (THM) D’Orbit, Edy Sapoetra, mengaku belum bisa melakukan aktivitas seperti biasanya karena belum ada izin yang diberikan dari pemerintah.

“Kalau untuk saat ini, THM belum diizinkan. Yang dapat izin hanya cafe dan resto. Jadi selama pandemi ini, kita konsepnya hanya cafe dan resto” kata Edy.

Edy mengatakan pihaknya diberikan izin untuk beroperasi selama masa pandemi dengan catatan yakni konsepnya harus berbeda dari sebelumnya seperti live music dan DJ ditiadakan dan menjalankan standar protokol kesehatan.

“Live music dan DJ belum kita sediakan, Hanya cafe dan resto. Itu pun mengikuti protokol kesehatan. Seperti jaga jarak, pakai masker, dan rajin mencuci tangan atau pakai hand sanitizer,” pungkasnya.

Mesjid-mesjid di Pinrang Kembali Gelar Salat Jumat Berjamaah

KabarMakassar.com — Mesjid-mesjid di Kabupaten Pinrang, Provinsi Sulawesi Selatan, Jumat (29/5), kembali menggelar Salat Jum’at berjamaah setelah kurang lebih dua bulan terakhir ditiadakan akibat pandemi virus Corona atau Covid-19.

Seperti di Masjid Agung Al-Munawir Kabupaten melaksanakan sholat Jum’at pertama, semenjak dua bulan terakhir tidak melaksanakan sholat jum’at akibat wabah Covid-19.

Bupati Pinrang, Andi Irwan Hamid mengatakan, kebijakan ini dilakukan pemerintah setempat sesuai permintaan dan harapan masyarakat agar isa kembali beribadah di Mesjid.

Apalagi, kata dia, tren angka kasus positif Covid-19 di Kabupaten Pinrang sudah mengalami penurunan. Dimana 5 dari total 6 pasien positif Covid-19 asal Pinrang sudah dinyatakan sembuh.

“Ini evaluasi awal yang kita lakukan. Tren penyebaran Covid-19 di Pinrang semakin menurun dibanding beberapa daerah lain di Sulsel, makanya ini adalah kebijakan saya untuk melaksanakan Salat Jumat berjamaah di Mesjid. Tentunya jemaah Mesjid tetap mematuhi protokol kesehatan selama beribadah,” kata Irwan, usai melaksanakan sholat di Mesjid Al Munawir.

Meski begitu, Irwan juga menekankan bahwa hal ini akan terus dievaluasi dan mengikuti perkembangan terkini kondisi daerah. Jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan tren penyebaran Covid-19 di Pinrang, maka tidak menutup kemungkinanpenutupan sementara tempat-tempat ibadah kembali dilakukan.

“Kita terus berdoa dan tawakal semoga Pinrang bisa zero dari Covid-19, agar kita beribadah tetap nyaman,” pungkasnya.

Gubernur Imbau Warga Sulsel Salat Idulfitri di Rumah

KabarMakassar.com — Gugus Tugas Percepatan Penanagan Covid-19 Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) mengimbau massyarakat Sulsel untuk melaksanakan Salat Idulfitri atau Salat Ied di rumah masing-masing. Hal ini sesuai arahan dari pemerintah pusat.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah mengatakan, sesuai dengan analisa Badan Intelijen Negara (BIN), masih terjadi peningkatan kasus Covid-19 menjelang Hari Raya Idulfitri.

Berdasarkan hal itu, kata dia, maka dalam rapat yang digelar Forkopimda Provinsi Sulsel bersama Menkopolhukam, Kapolri dan Menteri Agama melalui video conference, telah disepakati bahwa Pemerintah Provinsi Sulsel diminta untuk mengimbau kepada seluruh masyarakat agar melaskanakan Salat Ied di rumah masing-masing.

“Karena pandemi Covid-19 ini kita telah berkomitmen untuk memutus rantai penularan, maka lebaran kali ini diimbau untuk melakukan Salat Ied di rumah. Itu diimbau dengan sangat. Ini bukan larangan, tapi kita imbau. Tinggal kesadaran masyarakat untuk lebih berempati dengan upaya kita memutus penularan,” kata Nurdin, Senin (8/5).

“Karena tentu dengan kerumunan massa dan sebagainya, itu akan ada kecenderungan terjadi penularan lagi. Oleh karena itu, saya dan seluruh forkopimda diminta untuk lebih intens mensosialisasikan imbauan ini,” sambungnya.

Untuk daerah zona hijau yang memang clear dari Covid-19, lanjut Nurdin, jika warganya ingin melaksanakan Salat Ied secara berjamaah di Mesjid atau lapangan terbuka, maka pihaknya akan memfasilitasi, untuk memastikan bahwa protokol kesehatan benar-benar diterapkan.

“Semua diimbau untuk di rumah. Tapi sekiranya itu zona hijau dan ada yang memang ngotot untuk Salat Ied di lapangan, maka kita akan fasilitasi dan pastikan protokol kesehatan benar-benar diterapkan,” ujarnya.

“Itu harus dan wajib, sehingga sangat jelas penyampaian dari Kapolri, Menkopolhukam, Menteri Agama, mengimbau kepada seluruh masyarakat Sulsel bahwa dalam rangka mendukung pemutusan penyebaran Covid-19 agar lebih cepat. Maka untuk Idulfitri kali ini untuk sebaiknya Salat Ied di rumah,” lanjutnya.

Terkait pernyataan Pj Walikota Makassar yang mengisyaraktkan membolehkan warga Makassar untuk melaksnaakan Salat Ied secara berjamaah di Mewsjid di lingkungan masing-masing, Nurdin Abdullah menampik hal tersebut.

“Kita baru mau rapat besok dengan seluruh bupati, walikota. tokoh agama, dan seluruh organisasi kemasyarakatan. Kita harus ikuti apa yang disampaikan tadi oleh pemerintah pusat,” tegasnya.

Dampak Pandemi Covid-19, Angka Kemiskinan di Makassar Naik 3 Persen

KabarMakassar.com — Pandemi virus Corona atau Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal Maret lalu memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap sektor perekonomian.

Sejauh ini, sudah ribuan usaha yang terpaksa harus gulung tikar karena tak mampu lagi membiayai operasional dan menggaji karyawannya.
Akibatnya, ratusan ribu bahkan jutaan karyawan terpaksa harus kehilangan pekerjaan karena dirumahkan dan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Secara otomatis, kondisi ini membuat angka kemiskinan di Indonesia termasuk di Kota Makassar mengalami peningkatan.

“Dengan adanya PHK perusahaan-perusahaan, aktifitas ekonomi terhambat, pasti akan berpengaruh pada peningkatan jumlah angka kemiskinan karena orang sedang tidak berdaya sekarang ini,” kata Kepala Dinas Sosial Kota Makassar, Mukhtar Tahir, Jumat (15/5).

Menurut Mukhtar, angka kemiskinan di Kota Makassar selama pandemi Covid-19 ini mengalami peningkatan sekitar 3 persen dari jumlah sebelumnya.

“Dulu itu kemiskinan di Kota Makassar sekitar 4,4 persen, sekarang itu bisa mencapai sekitar 7 persen,” ujarnya.

“Berdasarkan pada data terpadu kesejahteraan sosial, sebelum adanya pandemi Covid-19 itu jumlah rumah tangga miskin di Kota Makasar itu sebanyak 82.326 rumah tangga. Selama pandemi Covid-19, bertambah sebanayk 72.06 rumah tangga, sehingga sekarang jumlahnya itu sebanyak 154.632 rumah tangga,” paparnya.

Mukhtar berharap, dengan adanya rencana dari pemerintah untuk membuka dan mengizinkan beberapa sektor khususnya dunia usaha untuk beroperasi, bisa menekan atau menurunkan kembali angka kemiskinan di Kota Makassar.

“Sudah ada pemetaan tanggal-tanggal untuk mengizinkan toko-toko kembali beroperasi. Itu sudah mulai, artinya dengan dasar itulah dianggap perekonomian akan diputar kembali. Mudah-mudahan dengan begitu mampu secara perlahan kembali pada posisi semula, dan angka kemiskinan pun bisa ditekan atau berkurang,” ucapnya..

Sekadar diketahui, berdasarkan data dari Dinas Ketenagakerjaan, ada sekitar 9.000 tenaga kerja di Kota Makassar yang terdampak Covid-19 dan terpaaksa harus dirumahkan. Dari jumlah tersebut, 4.732 orang diantaranya hanya mendapat 20 persen gaji, 4.241 orang tanpa upah, dan sebanyak 224 orang lainya di-PHK.

BDR Terkendala Akses Internet, Guru di Takalar Datangi Rumah Murid untuk Mengajar

KabarMakassar.com — Sejak 16 Maret lalu, pemerintah memutuskan untuk menghentikan sementara aktivitas belajar-mengajar tatap muka di sekolah, dan diganti dengan sistem belajar jarak jauh atau Belajar Dari Rumah (BDR) secara virtual atau e-learning. Hal ini dilakukan sebagai langkah pencegahan penularan Covid-19 di lingkungan sekolah.

Namun, tak semua daerah bisa menjalankan sistem BDR secara virtual tersebut. Pasalnya, beberapa wilayah di sejumlah daerah memiliki keterbatasan sarana dan prasana penunjang.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Takalar, sistem BDR secara virtual di beberapa wilayah khususnya daerah pedalaman, terkendala akses internet.

“Ada sebagian daerah terpencil di wilayah Kabupaten takalar ini yang tidak dapat terakses oleh jaringan internet, sehingga sistem belajar dari rumah secara virtual itu tidak bisa dilaksanakan,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar, Rusdi, Kamis (14/5).

Namun, kata dia, hal itu ditaktisi oleh para guru di wilayah tersebut dengan turun langsung mengantarkan soal-soal ke tiap-tiap rumah anak didiknya.

“Untuk di daerah terpencil dan tidak terakses jaringan internet, guru-guru melakukan pengantaran soal ke tiap rumah para muridnya. Ini dilakukan agar proses belajar bagi siswa itu tetap berjalan,” terangnya.

“Kita aparesiasi itu, dan kita berharap teman-teman guru tetap semangat dan proaktif melaksanakan tugasnya mendidik generasi penerus bangsa,” sambungnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim mengatakan, dengan berbagai keterbatasan yang ada, sistem BDR memang sulit untuk bisa berjalan efektif.

Menurut Ramli, ada tiga faktor utama yang membuat sistem BDR ini tak bisa berjalan efektif. Pertama, ketidakmampuan guru mengelola kelas

jauh karena gagap teknologi (gaptek) dan tidak mau belajar. Kedua, persoalan fasilitas atau device yang tidak dimiliki oleh semua siswa.

Ketiga, kemampuan orang tua untuk menyediakan kuota data.

“Itu tiga faktor utamanya. Kalau kemudian ditanya berapa persen sih guru yang bisa menjalankan pembelajaran jarak jauh? Yang efektif betul-

betul bisa itu masih di bawah 50 persen,” kata Ramli.

“Ada juga guru yang hanya kasih tugas lewat WA untuk dikerjakan siswanya. Ini bukan pembelajaran jarak jauh, dan itu juga tidak efektif. Lebih efektif guru yang mendatangi langsung ke rumah-rumah siswanya atau secara berkelompok,” sambungnya.

Lebih jauh ramli mengatakan, jangankan di daerah kategori tertinggal, terdepan dan terluar (3T) yang memang memiliki keterbatasan sarana dan prasarana, di wilayah perkotaan pun sistem BDR ini masih banyak yang tak maksimal.

“Dan pemerintah juga sudah bersepakat untuk tidak mengejar kurikulum dengan adanya kondisi pandemi Covid-19 ini. Artinya capaian kurikulum itu tidak wajib,: pungkasnya.

Kemendikbud Kaji Kemungkinan Buka Kembali Sekolah di Pertengahan Juli

KabarMakassar.com — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sedang mengkaji kemungkinan pembukaan kembali proses belajar-mengajar di sekolah pada pertengahan Juli 2020. Hal itu disampaikan Plt Dirjen PAUD-Dikdasmen Kemendikbud, Hamid Muhammad, Sabtu (9/5).

Meski begitu, Hamid mengaskan, rencana ini hanya dimungkinkan untuk sekolah-sekolah di daerah yang sudah dinyatakan aman dari wabah Corona (Covid-19).

“Sedang dikaji pembukaan sekolah pertengahan Juli di daerah yang sudah dinyatakan aman dari COVID-19,” kata Hamid, seperti dikutip dari detik.com.

Hamid mengatakan Gugus Tugas Covid Pusat dan Daerah setempat akan menentapkan data terkait penentuan wilayah yang dinyatakan aman dari COVID-19. Sementara bagi wilayah yang masih dinyatakan belum aman, akan tetap melakukan kegiatan belajar dari rumah (BDR).

“Siswa tetap BDR sampai daerahnya dinyatakan aman,” ujar Hamid.

Sebelumnya, Hamid juga menyampikan bahwa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah memiliki tiga skenario pembelajaran dari rumah selama masa pandemi Covid-19 yang belum bisa dipastikan kapan akan berahkir.

Skenario pertama, jika pandemi Covid-19 selesai pada Juni, siswa dapat kembali masuk ke sekolah di awal tahun ajaran baru. Kemudian, jika pandemi Covid-19 berakhir di akhir Agustus atau September, siswa akan tetap melaksanakan sistem belajar dari rumah (BDR) hingga pertengahan semester ganjil 2020/2021.

Skenario ketiga, siswa akan melaksanakan BDR sepanjang semester ganjil 2020 jika pandemi Corona selesai di akhir tahun.

Gubernur Target Pandemi Covid-19 di Sulsel Tuntas di Akhir Mei

KabarMakassar.com — Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah meminta seluruh elemen yang ada di Sulsel, mulai dari tingkat

provinsi hingga kabupaten/kota untuk sama-sama berkomitmen serius dalam memutus ata arantai penyebaran Covid-19 sesegera mungkin.

Nurdin berharap, pandemi ini segera berakhir dan kehidupan masyarakat khususnya di Provinsi Sulsel bisa kembali berjalan normal.

“Tentu kita ingin hidup normal kembali. Target kami kalau kita sepakat, akhir Mei kita harus akhiri Covid-19 ini. Tentu ini butuh komitmen bersama,” kata Nurdin saat melakukan kunjungan ke Posko Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel, di Balai Prajurit Jendral M Yusuf, Sabtu (2/5).

Nurdin mencontohkan seperti yang dilakukan di Kota Makassar, dimana Puskesmas-puskesmas yang ada melakukan tracking contact dan menelusuri semua riwayat pasien untuk mencegah terjadinya lokal transmisi.

“Kita berharap para Kepala Dinas Kesehatan, sampaikan apa yang kita butuhkan untuk betul-betul memutus rantai penularan. Nah kalau kita bergerak dari camat, lurah kepala desa RT/RW, kepala Puskesmas, saya kira tidak sulit,” ujarnya.

Sekadar diketahui, berdasarlan data Dinas Keesehatan Provinsi Sulsel, hingga Sabtu (2/5) pukul 18.00 Wita, total kumulatif kasus positif Covid-19 di Sulsel berjumlah 577 orang. Dari jumlah tersebut, 386 diantaranya masih dirawat, 151 sembuh, dan 40 meninggal dunia.

Sementara untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP), jumlah totalnya sebanyak 859 orang. 211 diantaranya masih dalam proses follow up, 559 sudah dinyatakan negatif Covid-19, dan 89 meninggal dunia.

Sedangkan untuk Orang Dalam Pemantauan (ODP), totalnya sebanyak 4.036 orang. 890 diantaranya dalam proses pemantauan, dan 3.146 lainnya telah selesai dilakukan pematauan.

Covid-19 Mewabah, Tindak Kriminal di Gowa Menurun

KabarMakassar.com — Tindakan kriminal di wilayah hukum Polres Gowa cenderung menurun selama masa pandemi virus Corona (Covid-19). Hal itu terlihat dari data jumlah kasus kriminalitas yang terjadi pada saat dilakukan analisa dan evaluasi (Anev) mingguan di bulan April 2020 ini.

“Berdasarkan data Anev mingguan April Satreskrim Polres Gowa serta Polsek jajaran dalam wilayah hukum Polres Gowa terhitung minggu ke IV (20-26 April 2020), tercatat hanya 31 kasus,” kata Kasubbag Humas Polres Gowa, AKP M Tambunan dalam keterangan tertulisnya.

Berdasarkan laporan polisi (LP), kata dia, 31 kasus ini tersebar di lingkup Polres Gowa sebanyak 14 kasus, Polsek Somba Opu 8 kasus, Polsek Pallangga 1 kasus, Polsek Bontomarannu 0 kasus, Polsek Barombong 0 kasus, Polsek Bajeng 3 kasus, Polsek Bontonompo 3 kasus, Polsek Manuju 0 kasus, Polsek Bungaya 1 kasus, Polsek Biringbulu 0 kasus, Polsek Tompobulu 0 kasus, Polsek Parangloe 1 kasus, Polsek Tinggimoncong 0 kasus, dan Polsek Tombolopao 0 kasus.

“Jumlah kasus di minggu keempat April cenderung menurun dibanding jumlah kasus pada minggu ketiga April kemarin (13-19 April 2020), yakni sebanyak 41 kasus,” paparnya.

Menurut Tambunan, salah satu penyebab menurunnya angka tindakan kriminal di wilayah hukum Polres Gowa ini adalah masyarakat sedikit patuh untuk menyikapi kondisi panddemi Covid-19 yang nyaris melumpuhkan sisi ekonomi negara dan daerah.

Kondisi ini, lanjut Tambunan, membuat masyarakat lebih berhati-hati bahkan sedikit demi sedikit mulai mengurangi aktivitasnya di jalan raya.

Dari hasil tersebut, Kapolres Gowa AKBP Boy Samola mengapresiasi kinerja kepada seluruh jajaran serta berterima kasih kepada Warga Kabupaten Gowa.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada warga Kabupaten Gowa karena instruksi pemerintah agar tetap di rumah saja dilakukan untuk mencegah penularan virus covid-19 ini. Saya juga mengapresiasi atas kinerja seluruh jajaran dan berharap agar terus lakukan upaya preemtif dan preventif agar tindak kriminal dapat terus kita tekan,” pungkasnya.

Trend Gadai Emas Meningkat di Masa Pandemi Covid-19

KabarMakassar.com — Penyebaran virus Corona (Covid-19) yang sudah masuk ke Indonesia sejak awal Maret lalu, membuat kondisi perekonomian di seluruh daerah mengalami perlambatan. Sejumlah perusahaan pun terpaksa menghentikan kegiatan operasional dan merumahkan karyawannya.

Di tengah kondisi yang serba sulit seperti saat ini, salah satu cara masyarakat ddi berbagai daerah untuk bisa mendapatkan uang guna membiayai kebutuhan sehari-harinnya, adalah dengan menggadaikan barang berharga (emas). Hal ini juga terjadi di Sulsel, khususnya Kota Makassar.

Berdasaarkan data PT Pegadaian Kanwil VI, trend gadai emas di Kota Makassar dalam tiga bulan pertama di tahun 2020 mengalami peningkatan. Hal ini bisa dilihat dari jumlah transaksi gadai emas yang totalnya outstandingnya sudah mencapai Rp2,33 triliun.

“Jumlah ini mengalami kenaikan sebesar kurang lebih Rp130 miliar jika dibanding periode yang sama di tahun sebelumya (Rp2,25 triliun),” kata Humas PT Pegadaian Kanwil VI Makassar, Muh. Idris Mappakaya Syar, Kamis (9/4).

Untuk secara umum di Provinsi Sulsel, Idris mengatakan, trend gadai emas juga meningkat dalam satu bulan terakhir (Februari ke Maret).

Peningkatannya, kata dia, sebesar 2,26 persen. hanya saja, angka peningkatan tersebut masih lebih rendah jika dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 4 persen.

“Outstandingnya juga begitu. Tiga bulan awal di 2020 nilainya itu sebesar Rp6,35 triliun atau tumbuh 6,5 persen. Tapi ini jumasih lebih rendah dari periode yang sama di tahbun 2019 kemarin, dimana angka pertumbuhannya itu 10 persen,” terangnya.