Minimalisir Jumlah Korban Bencana, BNPB Perkuat Mitigasi

KabarMakassar.com — Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat lebih dari 400 bencana terjadi hingga minggu ketiga Februari 2020, atau per (10/2). Hal ini membuat pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan memperkuat mitigasi dalam rangka meminimalisir jumlah korban dari bencana.

Berdasarkan hal ini, Pemprov Sulseln menggelar Penataran Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana Provinsi Sulawesi Selatan, yang mengusung tema ‘Penanggulangan Bencana Urusan Bersama’, di Ruang Rapat Pimpinan Kantor Gubernur Sulsel, dihadapan 24 kepala daerah dan unsur BPBD serta semua jajaran TNI-Polri di Sulsel Senin,(10/2).

Kepala BNPB Doni Monardo, mengungkap dengan adanya kegiatan ini diharapkan. Pemerintah daerah setempat, mampu melakukan management kebencanaan dan dapat mengetahui tentang pontensi ancaman di wilayah masing-masing.

“Baik itu ancaman geologi,vulkanologi kemudian Ancaman hidrometeorologi yang berhubungan dengan kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan dan juga ancaman hidrometeorologi yang mengakibatkan banjir, banjir bandang tanah longsor angin puting beliung dan abrasi pantai dan yang terakhir adalah ancaman dari non alam yaitu tentang wabah penyakit, kemudian dampak dari limbah dan juga kegagalan dibidang industri” jelas Doni.

Ia menambahkan agar kiranya pemerintah daerah menyusun contingency plan secara terintegrasi dan melibatkan pihak-pihak terkait.

“Termasuk BMKG badan geologi kemudian unsur TNI dan Polri sehingga contingency plan ini betul-betul bisa terintegrasi kemudian bagaimana juga harus ada suatu upaya untuk melakukan langkah-langkah pencegahan, juga mitigasi, kemudian bagaimana meningkatkan kesiap siagaan dari sejumlah potensi ancaman yang mungkin terjadi” paparnya.

Sementara itu, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah memastikan akan menindaklanjuti kegiatan pada hari dengan kembali mengundang Bupati/walikota Se-Sulsel.

“Terutama dalam rangka membangun konstruksi rumah yang tentu harus tahan gempa demikian juga rumah-rumah yang sudah jadi gak perlu dibongkar saya kira tapi dibuat penguatan supaya rumah itu bisa tahan gempa kita juga tidak tau kapan datangnya(bencana) tapi dalam rangka pencegahan lebih bagus kita mempersiapkan itu,” ungkap Nurdin.

Berdasarkan data BNPB, Bencana hidrometeorologi adalah yang paling sering terjadi dan yang banyak menelan korba, yang terdiri atas bencana banjir 171 kejadian, puting beliung 155 kejadian, tanah longsor 98 kejadian dan abrasi 2 kejadian.

Banjir menjadi bencana yang paling banyak mengakibatkan korban jiwa, yaitu 86 orang, disusul tanah longsor lima orang, dan puting beliung 3 tiga orang, dan dua diantaranya hilang.

Selain mengakibakan korban jiwa, bencana yang terjadi mengakibatkan kerusakan infrastruktur, seperti tempat tinggal dan fasilitas lain, seperti pendidikan, kesehatan, perkantoran dan jembatan.

Jumlah total rumah rusak dengan kategori rusak berat (RB) mencapai 2.512 unit, rusak sedang (RS) 1,725 dan rusak ringan 6.707. Sedangkan kerusakan infrastruktur lain, fasilitas pendidikan berjumlah 142, peribadatan 121, perkantoran 47 dan kesehatan 11. Dari total kerusakan ini, hanya 5 rumah dengan kategori RS disebabkan karena gempa bumi, sedangkan sisanya disebabkan bencana hidrometeorologi.