Sudah 122 Warga Sulsel Positif Covid-19, Masyarakat Diminta Waspada

KabarMakassar.com — Jumlah kasus positif Covid-19 di Sulawesi Selatan (Sulsel) terus bertambah. Berdasarkan data yang dirilis di laman https://covid19.sulselprov.go.id/, hari ini ada penambahan 10 pasien baru yang terkonfirmasi positif terinfeksi Covid-19.

Dengan begitu, hingga Selasa (7/4) pukul 18:38 Wita, total jumlah pasien positif Covid-19 di Sulsel tercatat sudah sebanyak 122 orang. Dimana dari jumlah tersebut, 11 orang meninggal dunia, 23 dinyatakan sembuh, dan 88 orang lainnya masih dirawat.

“Ada penambahan 10 pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19. Jadi total jumlah pasien positif Covid-19 di Sulsel hingga hari ini ada sebanyak 122 orang,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel, dr. Muhammad Ichsan Mustari, Selasa (7/4) malam.  

10 pasien tambahan yang dinyatakan positif Covid-19 ini, kata dia, berasal dari 3 kabupaten kota, yakni Kota Makassar, Kabupaten Gowa dan Sidrap.

“10 tambahan itu terdiri dari 8 di Makassar, 1 di Gowa dan 1 di Sidrap,” rincinya.

Ichsan menjelaskan, ada perbedaan antara data jumlah pasien positif Covid-19 di Sulsel yang dirilis oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulsel dengan yang dipublish oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Ada selisih 5 antara jumlah pasien positif yang kita (Dinkes Sulsel) rilis dengan Kemenkes. Ini karena ada 5 orang yang double di data Kemenkes, sehingga jumlahnya 127. Yang benar ada tambahan 10 dengan total 122,” jelasnya.

“Sementara untuk jumlah Pasien Dalam Pengawasan (PDP) tercatat sebanyak 306 (262 dirawat, 33 sehat, 11 meninggal). Sedangkan Orang Dalam Pemantauan (ODP) jumlahnya sebanyak 2.399 orang (1.730 proses pemantauan, 669 selesai pemantauan),” sambungnya.

Ichsan menekankan, kondisi ini harus menjadi perhatian warga Sulsel khususnya Kota Makassar. Apalagi, pola penyebaran Covid-19 di Sulsel sudah bersifat local transmission (penularan lokal).

Menurut Ichsan, kondisi ini juga menunjukkan bahwa ada orang yang terpapar Covid-19 namun tidak menunjukkan gejala (Orang Tanpa Gejala/ OTG), yang masih belum terdeteksi dan menjadi carrier penyebaran virus ini ke warga lainnya di Sulsel khususnya di Makassar.

“Local transmission ini sudah dengan pasangan (suami-istri), kerabat, teman. Ini menunjukkan bahwa tetap di rumah saja tidak cukup, harus juga benar-benar disiplin menerapkan physical distancing (jaga jarak) sesama anggota keluarga di rumah. Karena kalau kita lihat data jumlah kasus, ini tanda bahwa OTG makin banyak. Harus makin waspada,” ujarnya.

Olehnya itu, Ichsan kembali mengimbau masyarakat dan seluruh elemen di Sulsel khususnya Kota Makassar, untuk terus melakukan penguatan-penguatan pelaksanaan imbauan pemerintah terkait physical distancing (menjaga jarak), tetap di rumah, menerapkan pola hidup bersih dan sehat, serta menggunakan masker jika beraktivitas di luar rumah.

“Saya kembali mengingatkan bahwa 80 persen keberhasilan pencegahan penyebaran Covid-19 ini tergantung dari kepatuhan kita bersama untuk melakukan physical distancing dan hal-hal lainnya yang menjadi imbuan pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran virus ini,” tuturnya.  

Sekadar diketahui, jumlah pasien positif Covid-19 yang jumlahnya sudah melebih 100 orang, membuat Sulsel saat ini menjadi provinsi dengan jumlah kasus positif Covid 19 terbanyak di luar Pulau Jawa, sekaligus masuk dalam kategori zona merah penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Namun, Pemerintah Provinsi Sulsel mengaku belum berpikir untuk melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) secara menyeluruh di wilayah Sulsel.

“Di Sulsel kita harus hati-hati memberlakukan itu (PSBB), karena tidak semua daerah di Sulsel ini sama. Selain itu, banyak daerah yang bertumpu sama Sulsel. Sulsel ini salah satu daerah penyangga pangan nasional. Sulsel menyuplai 27 provinsi. Itu baru beras, belum komoditi yang lain,” kata Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, melalui video conference, Selasa (7/4) siang.

“PSBB kita akan kaji betul. Tidak mungkin kita langsung menyamakan dengan daerah lain. Selain itu risikonya (jika menerapkan PSBB), tidak mungkin orang dirumahkan tanpa diberi bekal. Ini yang kita lagi hitung,” sambungnya.

Menurut Nurdin, di saat-saat seperti ini, inovasi dari daerah sangat dibutuhkan untuk menjaga agar bagaimana perekonomi tetap jalan tanpa menghentikan upaya pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19.

“Makanya kita akan lakukan pembatasan itu hanya secara bertahap. Apalagi di Sulsel ini sekarang masuk musim tanam. Kalau pembatasan sosial itu dipaksakan untuk diterapkan, jangan sampai orang-orang bukan mati karena Covid-19, tapi justru karena kelaparan,” ujarnya.

Olehnya itu, kata dia, pembatasan sosial di wilayah Provinsi Sulsel untuk saat ini hanya akan dilakukan secara bertahap.

“Makanya kita akan lakukan pembatasan itu hanya secara bertahap, dan memperketat pintu-pintu masuk ke Sulsel. Untuk daerah yang memang masih nihil kasus Covid-19, itu dilakukan penjagaan secara ketat agar penyebaran tidak masuk ke sana,” ucapnya.

Lebih jauh Nurdin mengatakan, Pemerintah Provinsi dan DPRD Sulsel juga telah sepakat untuk mengalokasikan anggaran sebesar Rp500 miliar untuk penanganan Covid-19.

“Tapi yang disetujui awal itu Rp250 miliar,” ungkapnya.  

Meski begitu, Nurdin menegaskan bahwa pihaknya tetap tidak akan mudah atau seenaknya mempergunakan anggaran tersebut.

“Di saat krisis seperti ini, kita tidak boleh menganggap enteng aturan yang ada. Kondisi ini tidak boleh membuat kita kemudian gampang mengeluarkan uang dengan alasan kemanusiaan. Saya menggandeng BPKP dan APIP untuk melakukan review sebelum anggaran digunakan. Ini juga akan dilaporkan ke KPK. Nanti setelah clear, baru kita jalankan,” pungkasnya.  

Jumlah ODP dan PDP di Sulsel Bertambah, Masyarakat Diimbau Ikuti Anjuran Pemerintah

KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan merilis update atau data terbaru pemantauan penyebaran Virus Corona (Covid-19) yang dilakukan Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulawesi Selatan di 24 kabupaten/kota.

Berdasarkan data terbaru, Ahad (22/3) pukul 10:28 WITA, terjadi lonjakan jumlah Orang Dalam Pemantauan (ODP). Ada penambahan sebanyak 45 orang dari yang sebelumnya pada Sabtu (21/3) pukul 14.24 WITA dilaporkan sebanyak 50 orang, kini menjadi 95 orang (83 dalam pemantauan, 12 selesai pemantauan).

Pasien Dalam Pengawasan (PDP) juga bertambah 1 orang, dari yang sebelumnya 27 menjadi 28 orang (21 masih dirawat, 7 lainnya sudah dinyatakan sehat dan diperbolehkan pulang). Sementara untuk pasien positif tak ada penambahan. Jumlahnya masih tetap 2 orang, dimana 1 diantaranya meninggal dan 1 masih menjalani perawatan di RSUP Wahidin Sudirohusodo.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Sulawesi Selatan, Ichsan Mustari mengatakan, penambahan jumlah ODP ini merupakan hasil dari contact tracing atau penelusuran yang dilakukan oleh tim gugus tugas penanganan Covid-19 di seluruh daerah di Sulsel.

“Iya benar bertambah jumlah ODP dan PDP. Ini kan sekarang di Sulsel sudah local transmission, makanya tim kita juga di lapangan masih terus melakukan penelusuran atau contact tracing,” kata Ichsan, Ahad (22/3).

“Tapi mereka (ODP) ini kan sekarang tidak semuanya di rawat di RS. Banyak yang hanya kita minta melakukan isolasi mandiri di rumah,” terangnya.

Olehnya itu, Ichsan yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulsel itu mengimbau seluruh masyarakat yang ada di Sulsel agar mengikuti imbauan pemerintah untuk mengurangi aktifitas di luar rumah atau menerapkan social distancing dan isolasi mandiri jika tidak ada keperluan yang benar-benar mendesak.

“Makanya kita berharap masyarakat itu benar-benar bisa mengikuti imbauan pemerintah, isolasi mandiri dan benar-benar menerapkan social distancing. Itu yang kita harapkan agar kita bisa sama-sama meminimalisir penyebaran Covid-19 ini di Sulsel,” pungkasnya.