Berantas Korupsi, Iqbal Suhaeb Siap Jalankan Instruksi Ketua KPK RI

Kabarmakassar.com — Penjabat Wali Kota Makassar Iqbal Suhaeb menegaskan kesiapannya menjalankan instruksi Ketua KPK RI, Firli Bahuri untuk memberantas korupsi dengan turun ke lapangan yang disampaikannya saat bertemu Kepala Daerah se Provinsi Sulawesi Selatan di Ruang Pola Kantor Gubernur Sulsel, Kamis (23/1).

“Pesan saya, sebagai Kepala Daerah mari kita berantas korupsi bersama dengan turun langsung ke lapangan mengecek semuanya tanpa harus berpangku tangan menunggu laporan anggota,” kata Firli.

Sejumlah langkah pencegahan korupsi telah dilakukan oleh KPK RI, dan Pemerintah Kota Makassar diantaranya penagihan tunggakan pajak, peningkatan pajak daerah berbasis on line, dan penertiban aset daerah.

“Kami siap turun langsung ke lapangan sebagai upaya nyata pemberantasan korupsi sesuai instruksi ketua KPK RI,” tegas Iqbal Suhaeb.

Data yang dilansir KPK per September 2019 peningkatan pajak daerah Kota Makassar dari September 2018 hingga September 2019 sebesar 10% atau Rp 15.547.378.488 pada September 2018 naik menjadi Rp 17.164.305.258 pada September 2019.

Penertiban aset daerah juga dilakukan oleh komisi anti rasuah bersama Pemkot Makassar. Hingga September 2019 ada empat perumahan yang telah menyerahkan fasum fasosnya kepada Pemerintah Kota Makassar dengan total nilai aset sebesar Rp 1.862.038.872.710. Jumlah ini terus meningkat hingga awal Januari 2020.

Selain menertibkan fasum fasos, Pemerintah Kota Makassar juga menertibkan aset seperti kendaraan dinas baik roda empat maupun roda dua, maupun aset bergerak dan tidak bergerak lainnya dengan melakukan sensus aset di tahun 2019.

Harun Masiku di Sulsel, Ketua KPK: Segera Menyerahkan Diri

KabarMakassar.com — Buron KPK Harun Masiku dikabarkan sudah berada di Indonesia, bahkan dikabarkan jika tersangka kasus suap komisioner KPU Wahyu Setiawan ini sudah tertangkap. Namun hal tersebut ditepis Ketua KPK, Firli Bahuri saat ditemui di Kantor Gubernur Sulsel, Kamis (23/1).

Ketua KPK Firli mengatakan, soal Harun Masiku yang berkeliaran di Sulawesi Selatan itu, hingga saat ini pihaknya menerima semua informasi, termaasuk keberadaan Harun Masiku di Sulsel.

“Seluruh informasi kita terima, semua informasi akan kita tindaklanjuti,” ujarnya.

Firli juga mengatakan, sampai hari ini Harun Masiku belum ada informasi jika sudah ditangkap. Bahkan ia menepis kabar jika politisi PDIP tersebut sudah ditangkap di wilayah Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

“Sampai hari ini belum ada informasi, kalau saudah tahu tempatnya kita akan datangi dan kita tangkap,” lanjut Firli.

Ia juga menambahkan jika pihaknya terus melakukan upaya untuk penangkapan terhadap Harun Masiku, dan meminta untuk segera menyerahkan diri.

“Kita terus berupaya, anggota sudah bekerja, dan saya juga imbau kepada seluruh masyarakat yang tahu tentang keberadaan saudara tersangka untuk memberitahukan, dan lebih khusus lagi kepada tersangka, supaya segera menyerahkan diri karena kapanpun dia pasti akan kita cari dan akan kita tangkap,” tutup ketua KPK.

Ketua KPK Firli Bahuri berada di Makassar dalam rangka menghadiri sosialisasi tentang strategi pencegahan korupsi dalam pemerintahan daerah di Kantor Gubernur Sulsel, bersama seluruh kepala daerah di wilayah Sulawesi Selatan.

Ini Rumah Harun Masiku di Wessabbe

KabarMakassar.com – Istri Harun, Hilda mengungkapkan beberapa rumah yang pernah dikunjungi oleh politikus PDIP tersebut. Selain di Kabupaten Gowa, juga pernah singgah ke Kota Makassar yakni perumahan Wessabe.

Tim KabarMakassar.com melakukan penelusuran hingga menemukan lokasi perumahan Wessabe di Jalan Perintis Kemerdekaan Blok D/25.

Sesampainya disana, terlihat sebuah rumah yang memiliki pagar besi warna putih. Tingginya sekitar satu setengah meter. Rumah itu didominasi warna putih. Adapula corak khas Toraja di halaman teras rumah tersebut.

Tampak dari luar, rumah itu sedikit tidak terawat. Beberapa cat di temboknya sudah lapuk dimakan usia.

Kami mencoba memasuki rumah itu. Ternyata sang pemilik rumah ada, dan menerima dengan baik kunjungan KabarMakassar.com.

Di rumah itu, dihuni seorang perempuan dan beberapa anak muda. Perempuan itu, dia mengaku sebagai adik ipar Harun Masiku. Namanya Emil. Perempuan yang memakai baju hitam, dan berkaca mata itu menjelaskan soal keberadaan adik iparnya tersebut.

Emil mengaku kaget semenjak Harun menjadi orang yang dicari-cari oleh KPK. Soal pelarian Harun, kata dia, tidak ada kabar darinya sampai detik ini.

“Kami sebenarnya tidak tahu soal kasus ini. Tapi saya akui, dia adalah adik ipar saya. Harun juga selama ini tidak ada kabarnya. Ditelfon pun tidak bisa,” kata Emil.

Harun Masiku adalah anak kedua dari lima bersaudara keluarga besar dari anak seorang hakim pasangan Johanes Masiku dengan Elizabeth Liling.

Bukti kuat bahwa Harun adalah bagian dari keluarga Emil, adalah terpajangnya sebuah foto keluarga berukuran sekitar 50 sentimeter berlatar biru itu, tampak Harun mengenakan batik cokelat. Berbaris rapih dengan keluarganya yang lain. Namun Emil tidak mau, jika foto keluarganya itu dipublis ke media.

Awalnya Emil tampak biasa-biasa saja, setelah menonton berita di salah satu TV nasional, soal orang yang menjadi buronan KPK.

“Awalnya saya lihat namanya hanya tertulis HM. Lama kelamaan, ternyata kepanjangannya Harun Masiku. Setelah diperlihatkan fotonya, ternyata benar. Itu ipar saya,” tuturnya.

Emil mengaku tidak bisa berbuat banyak, semenjak politikus PDIP itu menjadi penyuap Komisioner KPU, Wahyu Setiawan saat pemilihan legislatif (Pileg) 2019 lalu.

Dia hanya berdoa, agar Harun sadar dan kembali ke jalan yang benar. Serta berani mempertanggung jawabkan perbuatannya, di mata hukum.

“Semoga roh Kudus turun ke hatinya, dan semoga dia juga segera menyerahkan diri. Atau paling tidak, kami tahu bagaimana kondisi kesehatannya sekarang. Karena kami sudah jarang komunikasi dengan dia,” pungkasnya.

Menelusuri Jejak Harun Masiku di Sulsel

KabarMakassar.com — NAMA Harun Masiku, menjadi sosok yang paling diburu media saat ini. Kader PDIP yang namanya dikait-kaitkan dengan kasus suap anggota KPU Wahyu Setiawan yang dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi beberapa waktu lalu, kini masih menjadi misteri. Keberadaannya yang misterius. membuat tim KabarMakassar melakukan penelusuran.

Jejak Harun Masiku yang merupakan tersangka suap yang menyeret mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan mulai terdeksi. Sebelumnya jika Caleg PDIP itu dikabarkan berada di Singapura. Namun belakangan muncul informasi keberadaannya di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.

Kasus Harun Masiku ini diduga menyuap Wahyu agar bisa menjadi anggota DPR lewat mekanisme pergantian antarwaktu. Keberadaannya semakin misterius, dimana pria ini dipastikan oleh KPK maupun Kementerian Hukum dan HAM berada di Singapura.

Namun keberadaannya terkuak saat tim KabarMakassar.com menemui langsung istri Harun Masiku yakni Hilda (26) di Bajeng, Kabupaten Gowa.

Hilda kepada KabarMakassar.com membeberkan jika suaminya hanya datang sekali di Bajeng, Gowa sekali, dimana pada saat lebaran Idul Fitri tahun lalu. Ia tidak membenarkan pemberitaan yang berselewiran di media jika Harun Masiku pulang ke Gowa.

“Pak Harun itu tanggal 24 Desember 2019 ada di Makassar, jadi bukan tanggal 22, itu keliru itu. Dia kan mau natal, dan melanjutkan ke Kabupaten Toraja bareng pak Harun tanggal 24 Desember malam, sampai tanggal 26 Desember. Dia kan orang Toraja, Rantapeo,” kata Hilda.

Ia menjelaskan jika keluarganya memang di Toraja, orang tua dari Harun Masiku memang asal Toraja. “Balik ke Makassar tanggal 26 Januari, dia sempat ke Jakarta dan tanggal 31 lagi ke Makassar, justru saya yang jemput di Makassar, dia tak ke Gowa sama sekali, terakhir saya ketemu di situ,” tambahnya.

Hilda juga mengatakan jika dirinya tak pernah sekalipun menyembunyikan suaminya di Gowa, justru ia berharap Harun ditemukan. Ia pun menegaskan jika rumah yang ditempati istrinya bukan rumah Harun Masiku.

“Saya perjelas juga pak, ini rumah saya, rumah orang tua saya. Bukan pak Harun Masiku. Kami kemarin kesal, di media ditulis ada suara Harun didalam rumahnya, justru saya klarifikasi jika Harun tak pernah kesini, bohong itu kalau ada cerita suami saya pulang dan datang menggunakan motor, pak Harun tidak tahu naik motor,” kesal Hilda.

Istri Harun mempertegas jika rumah sebenarnya Harun Masiku ada di Makassar tepanya di Wesabbe, Tamalanrea, Kota Makassar.

“Rumah asli pak Harun itu ada di Wesabbe, Makassar. Pak Harun itu orangnya tertutup,” tambah Hilda.

Sebelumnya, di kabarkan dari humas Imigrasi data lalu lintas orang, Harun ada di Singapura per tanggal 6 Januari. Hal tersebut tidak meyakinkan karena istri Harun menjelaskan jika suaminya memberi kabar jika 7 Januari sudah berada di Indonesia.

Hilda juga menjelaskan jika suaminya menelepon pada 6 Januari jika akan berangkat ke Singapura. Setelahnya pada 8 Januari nomor telepon suaminya sudah tidak aktif dan tidak ada kabar.

“Waktu tanggal 7 Januari ia memberi kabar sudah ada di Jakarta melalui pesan whatsaap, saya belum balas saat ini, nanti pagi tanggal 8 baru saya liat pesannya tapi saya tidak balas,” kata Hilda.

Hilda juga kesal dengan pemberitaan jika suaminya pernah terlihat di rumahnya di Bajeng, Kabupaten Gowa. Ia menjelaskan jika suaminya tak pernah tinggal di Bajeng, bahkan jika bertemu dengan selalu di Makassar, dan itu pun ketemu di Hotel.

Hilda dan Harun menikah pada 2017 lalu, dikabarkan jika hubungan keduanya tidak harmonis. Bahkan terakhir bertatap muka di akhir 2019 yakni pada 31 Desember lalu. Hilda menjemput suaminya di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

“Kami memang pernah bertemu dan itu pun di Makassar, tidak pernah bermalam di rumah (Gowa), setelah dari akhir tahun tidak pernah bertemu,” kata Hilda

Untuk diketahui jika masalah Harun Masiku bermula saat tim KPK menangkap Wahyu dan beberapa orang lainnya pada Rabu, 8 Januari 2020. KPK menyebut Wahyu sudah menerima uang Rp 600 juta dari total nilai suap Rp 900 juta untuk meloloskan Harun. Namun, hingga saat ini KPK belum juga menangkap Harun.

KPK Harus Segera Geledah Kantor KPU RI dan Kantor DPP PDIP Perjuangan

KabarMakassar.com — Empat orang tersangka dalam kasus suap pada proses PAW anggota DPR RI dari PDIP telah di tetapkan oleh KPK. Selain komisioner KPU RI juga tersangka salah seorang kader PDIP yang disebut dengan inisial HAR.

Selain itu juga dalam keterangan Pers KPK tanggal 9 Januari 2020 terkait kasus ini menyebutkan keterlibatan salah seorang pengurus DPP PDIP dalam pengurusan PAW anggota DPR dari PDIP.

Dalam penanganan kasus ini tentu sebagai masyarakat menginginkan kasus ini diusut tuntas tanpa pandang bulu. Penegakan hukum harus dilakukan dan marwah lembaga baik bagi KPU maupun PDIP harus segera disterilkan dari kejahatan Korupsi.

Pengembangan kasus harus terus dilakukan termasuk melakukan penggeledahan terhadap kantor KPU RI dan juga kantor DPP PDI Perjuangan.

Oleh karena itu, KOPEL mendesak KPK agar segera melakukan penggeladahan dan bahkan penyegelan untuk menjamin barang bukti dan petunjuk tidak dihilangkan. Juga untuk menelusuri kemungkinan adanya keterlibatan pihak-pihak dalam kasus ini.

Kami memahami juga bahwa SOP penanganan kasus KPK sangat ketat dan sebagaimana penanganan kasus sebelumnya KPK untuk pengembangan kasus akan melakukan penggeledahan bahkan melakukan penyengelan kantor demi kelancaran proses penyelidikan.

Bila ada pihak yang menghalangi tentu, KPK punya prosedur penanganan sendiri. Yang pasti bahwa kerja profesional KPK harus dijamin terus berjalan tanpa ada intervensi dari pihak manapun.