Warga Babara Sinjai Tanam Pisang di Tengah Jalan

KabarMakassar.com — Sejumlah warga yang ada di Lingkungan Babara, Kelurahan Sangiaserri mengungkapkan kekecewaan kepada Pemkab Sinjai dengan menanam sejumlah pohon pisang di tengah jalan karena tidak kunjung memperbaiki jalan di wilayah itu.

Salah satu tokoh pemuda setempat, Fauzan mangakui apa yang dilakukannya bersama sejumlah warga itu adalah bentuk peringatan kepada Bupati dan Wakil Bupati Sinjai, Andi Seto Gadhista Asapa dan Andi Kartini Ottong tentang janji politiknya.

“Kami kambali mengingatkan ke Pemkab bahwa pada Pilkada lalu, diantara 21 TPS di Kelurahan Sangiasseri, hanya ada 3 TPS yang memenangkan Seto-Kartini yakni TPS 1, 2, dan 3 yang kesemuanya beraada di Lingkungan Babara,” kata Fauzan.

Apalagi, kata Fauzan, pada kampanye di Pilkada lalu, Andi Seto berkomitmen dan bahkan meneken kontrak politik bermaterai 6000. “Ini adalah puncak kekecewaan warga yang ada di sini. Dan saya kira kontrak politik bermaterai itu sangat sakral,” kasalnya.

Ia menambahkan perbaikan jalan yang ada di Puce’E, Lingkungan Babara terakhir dikerjakan oleh Pemkab Sinjai sekira 15 tahun yang lalu. “Kami harap Pemkab berkunjung dan melihat langsung dan segera dikerjakan, jangan hanya wilayah kota saja yang diperindah,” pungkasnya.

Permainan Mabbangga Dimainkan Saat Musim Kemiri di Sinjai

KabarMakassar.com — Permainan saat ini tidak mampu menumbuhkan kreatifitas dan justru membiasakan anak menjadi pribadi yang serba instan sehingga tidak tahan proses. Dimana anak-anak mulai bermain dengan smartphone dengan segudang permainan game online.

Bahkan kini sangat jarang ditemui anak-anak yang melakukan aktifitas bermain di luar rumah, permainan tradisional pun kini mulai terkikis dengan sendirinya.

Beberapa permainan tradisional khas Sulawesi Selatan yang mulai ditinggalkan yakni Maggasing, Maccukke, Maggalaceng, Maggale, Mallogo, Massalo, Malongnga, Makkaddaro, Mappasajang, Maddatte’-datte’, Makkati’-katingting, Massanto, Majjonga, Mattojang, Mappadekko, Maggunreco, Massempe, Mallanca, Mammenca’, Maccubbu’, Marraga, Mabbanga.

Mabbanga, Mappasajang (bermain layang-layang) dapat dikatakan permainan musiman. Permainan tradisional Mabbanga misalnya di Desa Palangka, Sinjai Selatan, Sinjai, Sulsel dimainkan anak-anak tersebut ketika musim kemiri telah tiba.

Dengan membuat garis lingkaran yang berdiameter sekitar satu meter. Kemudian setelah itu kemiri ditaruh ditengah lingkaran dengan jumlah sesuai kesepakatan oleh beberapa pemain.

Salah satu pemain lebih dahulu membuang Gappo atau kemiri pilihan untuk dipakai melempar. Setelah itu diikuti pemain yang lainnya secara berurutan. Pemain yang paling jauh Gapponya, maka dialah yang lebih duluan Makkamba (melempar) kemiri di lingkaran tersebut.

Ketika lemparan pemain pertama tadi mengenai kemiri dalam lingkaran keluar dari garis dan Gapponya tertinggal dalam garis, maka dianggap Banga (jadi pemenang). Tetapi jika tidak berhasil mengeluarkan kemirinya, giliran pemain lain beraksi sampai semua kemiri keluar dari garis.

Pantauan Makassar Indeks, permainan Mabbanga dilakukan oleh anak-anak tersebut sepulang dari sekolah. Sesekali remaja dan dewasa sesekali ikut mabbanga. Akan tetapi, menurut salah satu keterangan warga setempat, Adi (25) bahwa perlu perhatian dan pengawasan orang tua karena aktivitas permainan Mabbanga kerap disalahgunakan dalam perjudian.

“Mabbanga memang mengandung makna perjuangan dan sabar untuk memperoleh sesuatu, tetapi jika tidak dibarengi dengan pemahaman yang baik dari orang tua, maka anak-anak akan terjerumus dengan kebiasaan berjudi,” sarannya.

Polres Sinjai Sigap Evakuasi Penderita Gangguan Jiwa

KabarMakassar.com — Anggota Polsek Bulupoddo Polres Sinjai Aipda Asriadi dan Bripka Agus Salim bersama petugas Puskesmas Bulupoddo mendatangi TKP dan mengevakuasi  warga atas nama Zd umur 45 tahun, alamat Dusun Bola I, Desa Duampanue, Kecamatatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai, Sulsel. Jum,at (31/01).

Mendapat laporan dari masyarakat dan Petugas Puskesmas Bulupoddo bahwa warga atas nama ZD yang diduga mengalami gangguan jiwa dan memotong alat kelaminnya sendiri dengan sebilah sabit miliknya, Petugas kepolisian pun bersama petugas Puskesmas serta masyarakat langsung bertindak sigap dan mengevakuasi pelaku yang diduga akan mengancam jiwanya sendiri.

Menurut keterangan warga setempat, ZD diduga memotong alat kelaminnya pada malam hari dan nanti ditemukan pada esok sorenya di sebuah rumah kebun miliknya di Dusun Bola I, Desa Duampanue, Kecamatatan Bulupoddo Kabupaten Sinjai, sehingga keluarga ZD melaporkan ke Kantor Polsek Bulupoddo dan Puskesmas, saat ZD hendak dievakuasi ke mobil Ambulance sempat menolak namun tetap di Bujuk oleh Aipda Asriadi, Akhirnnya Anggota Polsek dibantu Petugas Puskesmas dan masyarakat berhasil mengavakuasi dan mengawal ZD kepuskesmas Bulupoddo untuk dilakukan penanganan medis.

Dokter Anita selaku dokter pemeriksa pada Puskesmas Bulupoddo menerangkan bahwa luka pada alat vital pasien ZD cukup serius sehingga petugas puskesmas melakukan upaya penanganan medis dengan memasang infus, rawat luka, bebat tekan dan pemberian injeksi anti nyeri untuk menstabilkan kondisi pasien dan selanjut merujuk pasien tersebut ke Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Sinjai untuk memperoleh penangan medis yang lebih intensif, ungkapnya.

Kepala Dusun Bola I Desa Duampanuae Kec. Bulupoddo Abdullah mengucapkan “terima kasih kepada petugas kepolisian dan Puskesmas Bulupoddo atas bantuannya mengamankan dan mengantar warganya ke Puskesmas untuk memperoleh penanganan medis sehingga jiwanya dapat tertolong,” ujarnya.

Sempat Kabur, Tahanan Titipan Dibekuk Polsek Sinjai Barat

KabarMakassar.com — MD (14) yang berhasil ditangkap di Desa Bontolempangan, Kecamatan Sinjai Barat, Kabupaten Sinjai oleh Unit Reskrim Polsek Sinjai Barat merupakan terduga pelaku pencurian kendaraan bermotor (curanmor). Kamis (23/1).

Diberitakan sebelumnya, MD merupakan tahanan Polres Sinjai namun hal tersebut diklarifikasi oleh Kapolsek Sinjai Barat.

AKP Kasri menjelaskan bahwa MD belum berstatus tahanan Polres Sinjai karena belum terbit Surat Perintah Penahanannya, ia masih status titipan di Polres Sinjai.

“Jadi MD ini belum masuk dalam daftar tahanan hanya saja dititipkan di Polres Sinjai, namun ia melarikan diri pada Kamis (23/1/2020) subuh,” ungkapnya.

MD dititip di Polres Sinjai lantaran telah melakukan tindakan pencurian kendaraan bermotor yang kasusnya masih dalam proses penyelidikan.

AKP Kasri menambahkan pada saat MD melarikan diri dari tahanan Polres Sinjai, MD kembali melancarkan aksinya dengan mengambil kendaraan bermotor merk Yamaha Fino dengan nomor Polisi DW 3603 DT di wilayah Kecamatan Sinjai Utara lalu menuju ke Sinjai Barat.

“Setelah kami mendapatkan informasi bahwa MD ini berada di Sinjai Barat, kami langsung mencari tahu keberadaannya dan selanjutnya melakukan penangkapan,” jelasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, sebelumnya MD pernah melancarkan aksinya di Desa Massangkae, Dusun Ellue, pada Minggu (12/1/2020). Kendaraan bermotor yang di curi yakni Yamaha Mio Sporty berwarna putih, dengan nomor polisi DW 3616 DN atas nama pemilik Herianto warga Desa Massangkae.

Setelah melakukan aksinya, MD dibekuk oleh pihak Kepolisian Resor Sinjai di Jalan Syarif Al Qadri, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai.

Ikon Filosofis Sinjai Diedit Tak Beradab Hingga Viral

KabarMakassar.com — Setiap Kabupaten, Kota dan Provinsi bahkan negara memiliki ikon atau lambang yang menjadi ciri khasnya. Ikon tersebut bukan sekedar pajangan, akan tetapi memiliki makna filosofis dan historis.

Sama halnya Sinjai di Sulawesi Selatan menjadikan kuda sebagai lambang daerahnya. Bahkan tim sepak bola kebanggaan masyarakat Sinjai, Perssin berjuluk Kuda Jantan dari Selatan.

Menurut Budayawan Sinjai, Muhannis mengutarakan bahwa kuda bagi masyarakat Sinjai pada hari ini cenderung jadi masalah bagi anak-anak karena mereka sudah jarang melihat kuda di Sinjai.

Karena Pendidikan muatan lokal sejarah di Sinjai juga sangat lemah. Kita jarang menemukan buku-buku tentang sejarah Sinjai, mereka melihat kuda hanya di Jeneponto, padahal nenek moyang kita dulu pakai kuda.

Pada masa lalu tidak ada kerajaan tunggal di Sinjai, di dalamnya terdapat sepuluh kerajaan besar untuk menjembatani semua kerajaan tersebut membutuhkan kuda-kuda khusus, kuda-kuda terlatih untuk membawa pesan ataukah undang-undangan ataupun relasi-relasi sosial itu dengan menggunakan kuda.

Demikian pula pendiri Kabupaten Sinjai pada masa itu bukan hanya mengunakan kuda tapi juga perahu, tapi sekarang orang hanya melihat kuda saja.

“Yang pastinya Kuda sangat penting bagi masyarakat Sinjai karena memiliki filosofis yakni kekuatan, kecepatan dan kepatuhan. Simbol kebesaran suatu kerajaan pada masa itu terletak pada kudanya,” lanjutnya.

Kata Sinjai merujuk bukan hanya satu saja, tetapi kesepuluh kerajaan tersebut. Kata Sinjai ada tiga naskah pendukungnya yakni Sinjai merujuk kepada Raja-Raja Gowa ke-10, kata Kajai dari Lontara Bulo-Bulo dan Pasija Singkerunna Lamatti Bulo-Bulo atau pasukan keyakinan Lamatti dan Bulo-Bulo.

“Jadi itu tiga naskah dasar saja, saya kira Sianjai sebuah kata yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dan tidak ada kata di dalam lontara yang menjelaskan kata tersebut,” tegasnya.

Dia menambahkan kepada generasi muda Sinjai terutama netizen supaya mempelajari dan gali sejarah leluhur karena banyak kearifan lokal dan bukti-bukti kepahlawan, keberanian, ketangguhan yang pernah ada di Sinjai jadi sayang kalau hilang.

“Untuk pihak pemerintah membantu menyiapkan saluran dan wadah-wadah agar masyarakat terutama anak muda dan pelajar-pelajar agar mengetahui dasar sejarah mereka, kearifan lokal dan apa saja yang bisa dijadikan pegangan di masa depan,” tutupnya.

Junaidi, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisip) Muhammadiyah Sinjai mengatakan dengan adanya postingan di media sosial Kabupaten Sinjai ini sempat menjadi viral dalam beberapan hari kemarin dan dapat menarik perhatian pengguna media sosial di Sulawesi Selatan.

“Saya memastikan secara jelas sepasang kuda dengan posisi tak senonoh itu adalah hasil editan sehingga dapat cukup mereshkan masyarakat di Kabupaten Sinjai. Pengguna medsos mendadak heboh karena patung kuda Kabupaten Sinjai di edit oleh seseorang dengan tidak senonoh,” ungkap ketika dimintai tanggapan Rabu (22/01/2020).

Awalnya saya temukan ikon ini di postingan grub Facebook dengan caption semua berubah setelah negara api menyerang dengan ikon gambar patung kuda diedit tidak senonoh.

“Gerbang patung kuda di edit gambarnya terletak di Kecamatan Sinjai Timur posisi kuda di edit yang tidak senonoh dan mendapat tanggapan beragam di medsos. Semoga pelaku segera ditemukan dan di hukum sesuai undang-undang yang berlaku,” harapnya.

Berdasarkan pengamatan Kabarmakassar di beberapa group Facebook masih ramai diperdebatkan postingan tidak beradab tersebut. Semua kegaduhan dan keresahan netizen Sinjai bermula ketika Vivi di group Facebook memposting editan patung kuda dengan tidak senonoh dengan kalimat semua berubah setelah negara api menyerang. Tulisan Sinjai Bersatu pun dirubahnya menjadi Sianjai Bersatu. Meski sudah hampir seminggu sejak diposting pada tanggal 17 Januari 2020, tetapi tanggapan layarnya tetap beredar.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Sinjai AKP Noorman mengungkapkan bahwa hinggga saat ini belum ada laporan terkait viralnya editan yang tidak beradab tersebut.

“Belum ada laporan saya lihat masuk ke dalam, tetapi langkah-langkah yang kami lakukan, kita sudah telusuri kemudian kita redam juga bagaimana biar konten tersebut tidak menyebar ke mana-mana,” ungkapnya saat dihubungi via selular, Kamis (23/01/2020).

Berharap sih ada yang melapor dan jika tidak ada yang melapor upaya pencegahan yang kami lakukan dulu.

“Saya menghimbau kepada masyarakat terutama netizen Sinjai saya berharap jangan disebar ke mana-mana lagi karena dengan menyebarkan itu juga termasuk pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juga, makanya masing-masing pribadi kita redam kita cegah, jangan kita sebar ke mana-mana,” imbuhnya.

Menguak Sosok Peneliti Kearifan Lokal di Sinjai

KabarMakassar.com — Kearifan lokal sangat erat kaitannya dengan masyarakat. Karena segala sesuatu yang terdapat dalam lingkungan masyarakat dipengaruhi oleh kultur yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, sepatutnya pembangunan dalam masyarakat harus beriringan dengan kearifan lokal yang ada.

Problem mulai memudarnya nilai-nilai kearifan lokal sehingga Mursak dan Muhammad Takdir mencoba mengurai fenomena tersebut dalam Pemerintahan Desa khususnya Kecamatan Sinjai Tengah dan jadi gambaran umum di Kabupaten Sinjai.

“Nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong sudah mulai memudar akibat pengaruh teknologi terutama smartphone. Selain itu, sudah jarang orang dituakan di Kampung sehingga beberapa kali misalnya dipanggil kerja bakti kurang yang berpartisipasi. Karena kedudukan seseorang sudah berbeda dan semua terkadang dinilai dengan materi,” ungkapnya ketika ditemui di sela-sela ruang kerjanya, Rabu (22/01).

Salah satu nilai plus bagi penyelenggaraan pemerintahan dengan disahkannya Undang-undang nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa, maka lebih memberikan ruang gerak bagi terwujudnya penyelenggaraan pemerintahan yang sesuai dengan karakteristik budaya serta kearifan lokal masing-masing daerah. Namun, disisi lain dengan regulasi yang ada tersebut dapat berdampak negatif bagi survivenya kearifan lokal seperti kebiasaan gotong royong.

“Dari hasil penelitian dapat ditarik benang merah bahwa pelayanan baik perbuatan maupun perbuatan dinilai cukup baik. Dimana aparat desa melayani masyarakat desa dengan penuh rasa kekeluargaan, santun, memiliki tatakrama yang baik, bahasa yang mudah dimengerti, serta cepat dalam menanggapi apa yang diinginkan masyarakat,” ungkap sosok dosen kelahiran 1988 tersebut.

Berawal dari penelitian tersebut agar semua stakeholder bisa mendorong lahirnya peraturan daerah (perda) adat terutama untuk menjaga kebudayaan yang ada di Karampuang. Dan mampu diterjewantahkan pihak dijenjang yang lebih tinggi agar memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

Mursak yang hobi membaca dan berolahraga berpesan bahwa berbuatlah yang positif untuk diri sendiri dan organ fidelitas kita selagi kita masih bernyawa. Meski berasal dari kalangan petani dan kampung yang dikenal dengan zona merah, namun dengan keuletan sehingga mampu menyelesaikan studi strata satu di Stisip Muhammadiyah Sinjai dan mengenyam strata duanya di Kampus Merah, Universitas Hasanuddin.

Ia pun berpesan, dalam perbuatan itu jangan pernah takut salah karena ketika kita pernah salah maka disitu pula ada hal yang pernah kita lakukan serta ada yang bisa dievaluasi untuk kedepannya.

Berikut Profil Singkat

Nama : Mursak, S. Sos., M. Si.
Lahir : Sinjai, 26 Oktober 1988
Pekerjaan : Dosen Stisip Muhammadiyah Sinjai

Ayah : Muh. Nur (alm.)
Ibu : Sanang Nuru

Pendidikan :
SDN 167 Baru 1
SMPN 1 Sinjai Selatan
SMAN 2 Sinjai eks SMAN 1 Sinjai Selatan
Perguruan Tinggi
S1 : Stisip Muhammadiyah Sinjai
S2 : Universitas Hasanuddin
Akun Media sosial (Facebook): antara Q dan S
(Ig:) Mursak itu Uccha

Penelitian :
1. Perubahan Sosial Masyarakat Desa Palangka Pasca Pemilukada Sinjai (Diterbitkan pada Jurnal Ilmiah Administrasita’)
2. Disiplin Learning Organisation pada Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kab. Sinjai (diterbitkan pada Jurnal ilmiah Al. Qisti)
3. Pengelolaan Pariwisata di Kecamatan Sinjai Timur Kab. Sinjai (Diterbitkan pada Jurnal Ilmiah Administrasita’)
4. Penguatan Kapasitas Pemerintah dalam pengelolaan Pemerintahan Desa di Kabupaten Sinjai. (Penelitian yang dibiayai oleh Kementrian Ristek Dikti)
5. Penguatan Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa di kecamatan Sinjai Tengah Kab. Sinjai (Penelitian yang dibiayai oleh Kementrian Ristek Dikti)
6. Strategi Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa dalam meningkatkan tata kelola pemerintahan Desa di Kab. Sinjai (Penelitian yang dibiayai oleh Kementrian Ristek Dikti)

Kapolres Sinjai Berikan Penghargaan kepada Satpam Berprestasi

KabarMakassar.com — Dalam memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-39 Satuan Pengamanan (Satpam) yang dilaksanakan di lapangan apel Polres Sinjai. HUT Satpan ke-39 di pimpin langsung oleh Kapolres Sinjai AKBP Sebpril Sesa, Rabu (22/01).

Kapolres Sinjai AKBP Sebpril Sesa mengatakan bahwa eksistensi Satpam juga berkontribusi besar mendukung program prioritas pemerintah, khususnya dalam hal memberikan jaminan keamanan terhadap upaya transformasi ekonomi yaitu peningkatan investasi dan cipta lapangan kerja yang kondusif.

“Profesi Satpam memiliki peran strategis guna mendorong kemajuan bangsa dan kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjutnya, Kapolres Sinjai Sebpril Sesa menjelaskan saya menilai bahwa tema yang diangkat dalam peringatan HUT ke- 39 Satpam ini sangat tepat, yaitu Satuan Pengamanan Berbasis Kompetensi Mewujudkan SDM Unggul Untuk Terciptanya Situasi Kamtibmas Yang Kondusif Dan Terjaminnya Keamanan Di Lingkungan Kerja Menuju Indonesia Maju. Tema tersebut juga selaras dengan Kebijakan Presiden RI yaitu pembangunan SDM serta Program prioritas Kapolri yaitu mewujudkan SDM yang unggul dan pemantapan Harkamtibmas.

“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh anggota Satpam, pimpinan Badan Usaha Jasa Pengamanan, pengurus Asosiasi
Jasa Pengamanan, serta segenap stakeholders terkait lainnya, atas kerja sama sinergis dalam memelihara stabilitas kamtibmas yang kondusif, sinergisitas ini senantiasa terpelihara dengan baik dan terus ditingkatkan,” tutup Sebpril Sesa.

Peringatan HUT ke-39 Satpam tersebut dihadiri oleh Kepala Kemenag Sinjai H.Hafid M.Talla, M.AP, Pimpinan Cabang Bank BRI Sinjai Hamid Rusdianto, Pimpinan Bank BPD Sinjai serta para pimpinan lembaga/perusahaan pengguna jasa pengamanan lingkup Kabupaten Sinjai.

Peserta upacara meliputi Personil Polres Sinjai, Satpam, anggota Dishub, Satpol. PP Pemda Kabupaten Sinjai.

Wabup Sinjai Apresiasi Pelatihan Susenas

Wakil Bupati Sinjai — Andi Kartini Ottong yang membuka secara resmi Pelatihan Calon Petugas Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).

Dalam rangka menyukseskan Sensus Penduduk 2020, Badan Pusat Statistik Kabupaten Sinjai mengadakan Pelatihan Calon Petugas Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang bertempat di Wisma Sanjaya, Jalan MT. Haryono, Kabupaten Sinjai. Rabu (22/01).

Andi Kartini Ottong menyampaikan bahwa Pemerintah Daerah Kabupaten Sinjai sangat mengapresiasi pelatihan yang nantinya memberikan dampak positif terhadap kelancaran tata kelola Pemerintahan di Kabupaten Sinjai.

“Para peserta seyogyanya mengikuti pelatihan dengan baik dan mengimplementasikan ilmunya dalam melakukan survey di lapangan. Bekerja cerdas dan ikhlas agar senantiasa bernilai ibadah,” pungkasnya.

Pelatihan ini terbagi atas Dua Gelombang. Gelombang pertama diadakan pada tanggal 22 – 24 Januari, sedangkan Gelombang kedua diadakan pada tanggal 25 – 27 Januari 2020.

Dalam acara ini, Wakil Bupati Sinjai juga menyerahkan atribut seragam kepada peserta pelatihan sebagai simbol pembukaan resmi Pelatihan Susenas 2020.

Kemenag Sinjai Sosialisasikan Batasan Usia Pernikahan

KabarMakassar.com — Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Sinjai gencar melakukan sosialisasi terkait perubahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan menjadi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 yang telah disahkan Presiden Joko Widodo pada tanggal 14/10/2019 lalu di Jakarta.

Kepala Kantor Kementerian Agama Sinjai, Abdul Hafid M. Talla mengungkapkan, Undang-Undang tersebut telah diberlakukan secara Nasional dari jajaran Kementerian Agama, dimana perubahan ini tentunya merupakan suatu informasi yang sangat penting untuk di ketahui masyarakat.

“Setiap ada pertemuan kami dilintas sektoral selalu menitip pesan bahwa perubahan ini secepatnya harus kita sosialisasikan mengingat presentase jumlah peristiwa nikah semakin tahun semakin meningkat tentu kita membutuhkan regulasi yang menjadi pegangan kita,” ungkapnya saat ditemui awak media di ruang kerjanya, Selasa (21/1).

Dia menambahkan didalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang didalamnya ada batasan usia Pernikahan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur sembilan belas tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur enam belas tahun.

“Setelah adanya perubahan atau revisi maka usia perkawinan disamakan yaitu pihak pria dan wanita disamakan umur sembilan belas tahun,” lanjutnya.

Menurutnya lagi hal ini sangat beralasan karena ternyata berdasarkan penelitian kasus-kasus di Pengadilan Agama didominasi oleh pernikahan usia dini sehingga pemerintah mencoba meningkatkan tingkat kedewasaan calon pengantin yang usianya sembilan belas tahun.

“Alhamdulillah saat ini kami di Kemenag Sinjai sudah memberlakukan diseluruh Kantor Urusan Agama (KUA) di kecamatan se-Kabupaten Sinjai dan sampai saat ini belum ada komplain dari masyarakat tentang batasan usia karena Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2019 bukan mempersulit sistem perkawinan terkait dengan usia cuman hanya batasan saja,” jelasnya.

Ditambahkannya, ketika ada muda-mudi yang terpaksa untuk menikah dimana usianya belum memasuki umur 19 tahun, ketika ingin melangsungkan pernikahan secara normal dan tercatat pada Kantor Urusan Agama, dimana dalam Undang-Undang tersebut memberikan ruang untuk meminta dispensasi nikah kepada Pengadilan Agama.

“Pengadilan Agama akan memutuskan layak atau tidaknya pernikahan di langsungkan dengan alasan mendesak disertai dengan bukti-bukti yang cukup agar bisa di jadikan pertimbangan dan dasar oleh pihak Pengadilan Agama untuk putuskan (dispensasi nikah) dan dilanjutkan ke Kantor Urusan Agama untuk melakukan pencatatan nikah,” tutupnya.

Bupati Sinjai Serahkan Sertifikat Merek Dagang kepada UMKM

KabarMakassar.com — Bupati Sinjai, A. Seto Gadhista Asapa menyerahkan sertifikat merek kepada pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Desa Massaile, Kecamatan Tellulimpoe, Kabupaten Sinjai, Sulsel. Kamis (16/1/2020).

Pemerintah Kabupaten Sinjai melakukan langkah strategis untuk memberdayakan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar mampu meningkatkan tingkat pendapatan masyarakat secara menyeluruh. Kebijakan tersebut dirasa perlu untuk menjadi solusi  kongkrit dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Hal ini dapat dicapai dengan mendorong UMKM meningkatkan kapasitas dan perannya.

Sebagai wujud nyata bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dengan jaminan sertifikat merek dagang. Bupati Sinjai Sinjai, Andi Seto Gadhista Asapa menyerahkan secara langsung sertifikat merek kepada empat pelaku UMKM  yang ada di Kabupaten Sinjai.

Kepala Dinas Koperasi UKM dan Tenaga Kerja Sinjai, Firdaus mengatakan hak merek adalah hak eksklusif yang di berikan oleh negara kepada pemilik merek yang terdaftar dalam daftar umum merek.

“Pada kesempatan ini ada empat orang pelaku UMKM yang diberikan sertifikat merek. Mereka itu terbagi dari beberapa jenis usaha seperti usaha es krim, usaha daur ulang pelepah pisang, pengolahan gula areng atau gula merah dan usaha kerupuk bawang,” Ucap Firdaus dalam laporannya di hadapan Bupati Sinjai, Andi Seto Gadhista Asapa di dampingi Wakil Bupati, Andi Kartini Ottong.

Sementara Bupati Andi Seto mengatakan sertifikat ini tentunya menjadi instrumen bagi pelaku UMKM untuk melindungi hak kepemilikannya atas merek usaha dan jasa yang di jalankan.

“Ini menjadi bentuk proteksi tersendiri bagi pelaku UMKM kita dalam menjalankan usahanya agar dapat berdaya saing. Selain itu, sertifikat menjadi alat bukti yang sah atas merek terdaftar,” jelasnya.

Dalam kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua dan Anggota DPRD Sinjai, Forkopimda Kabupaten Sinjai, para Pimpinan OPD Lingkup Kabupaten Sinjai, para Kepala Bagian Setdakab. Sinjai, Camat dan para Kepala Desa Kecamatan Sinjai Timur dan Tellulimpoe.