Dampak Virus Corona, Sejumlah Investor Tunda Berinvestasi di Sulsel

KabarMakassar.com — Wabah Virus Corona membuat pasar keuangan global, termasuk Indonesia ikut mengalami “radang”. Pasalnya, virus yang pertama kali ditemukan di Kota Wuhan, China itu menjadi ketakutan terbesar bagi perekonomian dunia saat ini.

Dampaknya, para investor pun berbondong-bondong menarik modalnya dari aset-aset berisiko di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia.

Berdasarkan catatan Bank Indonesia (BI), hingga 27 Februari, secara netto jumlah arus modal yang keluar dari Indonesia sudah sebesar Rp30,8 triliun. Hal ini pun membuat nilai tukar rupiah saat ini mengalami pelemahan dan turun ke level Rp14.000-an per USD, setelah sebelumnya sempat dua bulan lebih mampu bertengger di angka Rp13.000-an per USD.

Khusus untuk di Sulawesi Selatan, dampak dari mewabahnya Virus Corona yang membuat pasar keuangan global ikut terguncang, juga cukup dirasakan.

Direktur Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi Keuangan Kantor Perwakilan BI Sulwesi Selatan, Endang Kurnia Saputra mengatakan, sejumlah investor yang berniat untuk menanamkan saham di Sulawesi Selatan juga sempat menahan investasinya.

“Kalau (dampak virus corona) khusus untuk pasar keuangan di Sulawesi Selatan, investor itu bukan berkurang, tapi mereka menahan dulu untuk merealisasikan investasinya. Jadi meskipun memang sudah mendapat izin, mereka tahan atu pending dulu invetasinya. Nanti kalau persoalan corona sudah selesai, baru mereka invest lagi,” kata Endang Kurnia, Rabu (4/3).

Ditanya perihal jumlah investasi yang sedianya bisa masuk ke Sulsel namun tertahan karena dampak dari Virus Corona, Endang mengaku belum bisa menyebutkan secara pasti.

Kendati demikian, Endang mengatakan, masih banyak investor-investor internasional yang tetap mempercayai BI sebagai wadah untuk menginvestasikan sahamnya.

“Tapi sekarang banyak lagi investor yang datang ke sini (Sulawesi Selatan), dan pekan ini nilai tukar rupiah juga kembali menguat menjadi Rp13.600 per USD,” terangnya.

Lebih jauh Endang mengatakan, sebenarnya pihaknya juga telah mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan yang bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, seperti mewabahnya Virus Corona ini.

“BI ini sudah punya protokol management krisis. Maksudnya kita sudah punya solusi (untuk sisi ekoniomi) dari dampak virus corona ini. Misalnya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, kita sudah meng-cut atau memotong suku bunga kita. Tapi permasalahan yang utama juga bagaiaman agar pembiayaan itu dapat dijangkau atau murah, makanya kita turunkan suku bunga,” ujarnya.

“Saat ini suku bunga acuan diturunkan 4,75 persen. Itu dilakukan dengan harapan kalau turun suku bunga, orang minta kredit banyak, pembiayaan banyak, dan investasi juga banyak,” pungkasnya.