Permudah Layanan Keimigrasian, Bantaeng Siap Buka UKK

KabarMakassar.com — Kantor imigrasi menjajaki kerjasama dengan Pemkab Bantaeng untuk membuka Unit Kerja Keimigrasian (UKK). Hal ini berdasarkan pertemuan pihak imigrasi dengan Bupati Bantaeng, Dr. Ilham Azikin di Rujab Bupati Bantaeng, Selasa (16/6).

Rombongan imigrasi yang datang diantaranya adalah Kepala Divisi Keimigrasian Dodo Karnida, Kepala Bidang Lalintuskim Rivandi dan Kepala Kantor Imigrasi Makassar Pallawarukka dan berbincang terkait rencana pembangunan UKK di Bantaeng.

Kepala Divisi Keimigrasian, Dodo Karnoda mengatakan rencana pembangunan UKK ini adalah bagian dari tindak lanjut pimpinan imigrasi untuk pendekatan pelayanan. Menurutnya Bantaeng adalah salah satu daerah yang paling berpotensi untuk pembukaan layanan ini.

Ia menilai jika UKK ini akan memberikan semua layanan keimigrasian. Diantaranya, kata dia, pembuatan pasport, surat keterangan Warga Negara Asing (WNA) hingga keimigrasian WNI.

“Ini juga bakal menjadi cikal bakal lahirnya kantor imigrasi di Bantaeng,” kata Dodo Karnoda.

Ia menambahkan jika UKK ini terwujud maka ini akan menjadi kantor UKK pertama di Sulawesi. “Ini akan menjadi yang pertama di Sulawesi kalau terwujud nantinya,” ungkapnya.

Sementara itu, Ilham Azikin menyambut baik kedatangan tim dari kantor imigrasi. Dia mengatakan jika rencana ini adalah salah satu upaya yang baik untuk mempermudah pelayanan masyarakat di Bantaeng.

“Ini tentu hal baik yang perlu kami sambut,” kata Ilham.

Imigrasi Makassar Pastikan WNA Peserta Ijtima Asia Berjumlah 474 Orang

KabarMakassar.com — Pihak Kantor Imigrasi Kelas I kota Makassar memastikan jumlah Warga Negara Asing (WNA) yang masuk ke Sulawesi Selatan (Sulsel) untuk mengikuti kegiatan Ijtima Asia 2020 di Kabupaten Gowa berjumlah sebanyak 474 orang.

“Informasi valid yang kita dapat dari panitia, karena kami juga baru dari sana untuk pastikan bahwa jumlah orang asing yang ada di sana sekarang itu ada 474 orang dari 12 negara. Yang diundang itu sebenarnya ada 48 negara, tapi yang hadir sampai tadi itu 12 negara,” terang Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Kota Makassar, Andi Pallawarukka, Kamis (19/3).

Menurut Pallawarukka, para WNA yang datang ke Sulsel ini telah melalui tahapan pemeriksaan yang panjang. Baik itu pemeriksaan kesehatan dari negara asal masing-masing peserta, maupun pemeriksaan kesehatan ketika tiba di Indonesia.

Pallawarukka menjelaskan, sebenarnya sudah ada peraturan untuk melarang WNA dari beberapa negara masuk ke Indonesia, yakni Peraturan Menteri Hukum dan HAM Nomor 7 Tahun 2020. Dimana dalam aturan itu disebutkan beberapa negara yang warganya dilarang masuk ke Indonesia, yaitu: disampaikan bahwa China, Italia, Iran, dan Korea Selatan.

“Belakangan menyusul lagi beberapa negara, mungkin termasuk negara-negara yang sudah memberlakukan lockdown, yang salah satunya Malaysia,” jelasnya.

Hanaya saja, lanjut Pallawarukka, para WNA termasuk yang berasal dari Malaysia itu sudah lebih dulu masuk ke Indonesia sebelum aturan tersebut dikeluarkan.

“Sebelum diberlakukan aturan itu, dia sudah masuk. Kan rencana pelaksanaan Ijtima Asia di Gowa itu dari jauh-jauh hari, bahkan itu dari tahun lalu,” ujarnya.

Pallawarukka mengaku, WNA yang melalui pemeriksaan langsung oleh pihak Imigrasi Kelas I Kota Makassar hanyalah WNA dari Malaysia dan Thailand.

“Perlu diketahui, WNA yang masuk kemarin untuk menghadiri Ijtima Asia itu mayoritas melalui Bandara Soekarno-Hatta dan bukan melalui Bandara Sulthan Hasanuddin. Jadi pemeriksaan keimigrasiannya itu banyak dilakukan di Soekarno-Hatta dengan bandara-bandara lain, seperti di Surabaya dan Bali. Kalau melalui Bandara Sulthan Hasanuddin, hanya dari Malaysia dengan Thailand,” ungkapnya.

Sekadar diketahui, saat ini para WNA peserta Ijtima Asia 2020 yang sebelumnya berkumpul di Komples Pesantren Darul Ulum, di Desa Nurannaung, Kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, kini sudah dikumpulkan dan diisolir di Hotel Grand Sayang, Makassar.

Permohonan Paspor di Makassar Turun 50 Persen

KabarMakassar.com — Angka permohonan atau pengajuan pembuatan paspor di Kantor Imigrasi kelas I Makassar mengalami penurunan secara drastis. Bahkan, penurunannya mencapai 50 persen dari hari biasa sebelum adanya wabah Virus Corona (Covid-19).

“Setelah munculnya kasus corona, itu sangat berpengaruh pada jumlah pemohon paspor. Biasanya setiap hari permohonan paspor yang datang itu sekitar 168-200 tiap hari, tapi sekarang hanya sekitar 70-100 orang per hari,” kata Kepala Kantor Imigrasi kelas I Makassar, A. Pallawarukka.

Penurunan angka permohonan pembuatan paspor ini, kata dia, juga dapat dilihat melalui jumlah antrean. DImana sebelumnya, antrean yang dibuka untuk satu pekan akan habis dalam hitungan jam.

“Dulu kan kita buka antrean online per pekan, jadi setiap Jumat kita buka untuk satu pekan. Biasa kalau kita buka antrean di hari Jumat, baru beberapa jam paling sudah habis. Tapi sekarang banyak yang kosong,” ujarnya.

Menurut Pallawarukka, penurunan angka permohnan pengurusan paspor ini dipengaruhi oleh diberlakukannya larangan umroh dari Pemerintah Arab Saudi sejak 27 Februari lalu.

“Yang paling mempengaruhi itu terkait pelaksanaan ibadah umroh. Jadi dengan ditutupnya sementara ibadah umroh itu, ini juga sangat berpengaruh sekali untuk permohonan di Kantor Imigrasi. Tapi yang ada sekarang hanya untuk haji,” ungkapnya.

Lebih jauh Pallawarukka mengatakan, selain penurunan jumlah permohonan pembuatan paspor, hal yang sama juga terjadi pada angka kedatangan wisatawan dari luar negeri.

“Sebelumnya kita menutup penerbangan baik ke China maupun masuk ke Makassar. Sekarang ditambah Italia juga kita juga perketat. Kemarin ada orang Italia yang baru mau masuk ke Makassar kita tolak. Begitu juga dari Iran dan Korea Selatan. Tiga negara itu tambahan,” terangnya.

Pallwarukka juga mengimbau masyarakat agar berhati-hati dalam melakukan perjalanan ke luar negeri. Pasalnya, saat ini hampir semua negara telah memiliki riwayat infeksi Covid-19.

“Saya kira masyarakat sendiri juga sudah mengetahui bahwa sekarang ini untuk melakukan perjalanan ke luar negeri itu sangat diperhitungkan sekali negara mana yang bisa dikunjungi, dan mana yang tidak,” pungkasnya.