Ikon Filosofis Sinjai Diedit Tak Beradab Hingga Viral

KabarMakassar.com — Setiap Kabupaten, Kota dan Provinsi bahkan negara memiliki ikon atau lambang yang menjadi ciri khasnya. Ikon tersebut bukan sekedar pajangan, akan tetapi memiliki makna filosofis dan historis.

Sama halnya Sinjai di Sulawesi Selatan menjadikan kuda sebagai lambang daerahnya. Bahkan tim sepak bola kebanggaan masyarakat Sinjai, Perssin berjuluk Kuda Jantan dari Selatan.

Menurut Budayawan Sinjai, Muhannis mengutarakan bahwa kuda bagi masyarakat Sinjai pada hari ini cenderung jadi masalah bagi anak-anak karena mereka sudah jarang melihat kuda di Sinjai.

Karena Pendidikan muatan lokal sejarah di Sinjai juga sangat lemah. Kita jarang menemukan buku-buku tentang sejarah Sinjai, mereka melihat kuda hanya di Jeneponto, padahal nenek moyang kita dulu pakai kuda.

Pada masa lalu tidak ada kerajaan tunggal di Sinjai, di dalamnya terdapat sepuluh kerajaan besar untuk menjembatani semua kerajaan tersebut membutuhkan kuda-kuda khusus, kuda-kuda terlatih untuk membawa pesan ataukah undang-undangan ataupun relasi-relasi sosial itu dengan menggunakan kuda.

Demikian pula pendiri Kabupaten Sinjai pada masa itu bukan hanya mengunakan kuda tapi juga perahu, tapi sekarang orang hanya melihat kuda saja.

“Yang pastinya Kuda sangat penting bagi masyarakat Sinjai karena memiliki filosofis yakni kekuatan, kecepatan dan kepatuhan. Simbol kebesaran suatu kerajaan pada masa itu terletak pada kudanya,” lanjutnya.

Kata Sinjai merujuk bukan hanya satu saja, tetapi kesepuluh kerajaan tersebut. Kata Sinjai ada tiga naskah pendukungnya yakni Sinjai merujuk kepada Raja-Raja Gowa ke-10, kata Kajai dari Lontara Bulo-Bulo dan Pasija Singkerunna Lamatti Bulo-Bulo atau pasukan keyakinan Lamatti dan Bulo-Bulo.

“Jadi itu tiga naskah dasar saja, saya kira Sianjai sebuah kata yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dan tidak ada kata di dalam lontara yang menjelaskan kata tersebut,” tegasnya.

Dia menambahkan kepada generasi muda Sinjai terutama netizen supaya mempelajari dan gali sejarah leluhur karena banyak kearifan lokal dan bukti-bukti kepahlawan, keberanian, ketangguhan yang pernah ada di Sinjai jadi sayang kalau hilang.

“Untuk pihak pemerintah membantu menyiapkan saluran dan wadah-wadah agar masyarakat terutama anak muda dan pelajar-pelajar agar mengetahui dasar sejarah mereka, kearifan lokal dan apa saja yang bisa dijadikan pegangan di masa depan,” tutupnya.

Junaidi, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Stisip) Muhammadiyah Sinjai mengatakan dengan adanya postingan di media sosial Kabupaten Sinjai ini sempat menjadi viral dalam beberapan hari kemarin dan dapat menarik perhatian pengguna media sosial di Sulawesi Selatan.

“Saya memastikan secara jelas sepasang kuda dengan posisi tak senonoh itu adalah hasil editan sehingga dapat cukup mereshkan masyarakat di Kabupaten Sinjai. Pengguna medsos mendadak heboh karena patung kuda Kabupaten Sinjai di edit oleh seseorang dengan tidak senonoh,” ungkap ketika dimintai tanggapan Rabu (22/01/2020).

Awalnya saya temukan ikon ini di postingan grub Facebook dengan caption semua berubah setelah negara api menyerang dengan ikon gambar patung kuda diedit tidak senonoh.

“Gerbang patung kuda di edit gambarnya terletak di Kecamatan Sinjai Timur posisi kuda di edit yang tidak senonoh dan mendapat tanggapan beragam di medsos. Semoga pelaku segera ditemukan dan di hukum sesuai undang-undang yang berlaku,” harapnya.

Berdasarkan pengamatan Kabarmakassar di beberapa group Facebook masih ramai diperdebatkan postingan tidak beradab tersebut. Semua kegaduhan dan keresahan netizen Sinjai bermula ketika Vivi di group Facebook memposting editan patung kuda dengan tidak senonoh dengan kalimat semua berubah setelah negara api menyerang. Tulisan Sinjai Bersatu pun dirubahnya menjadi Sianjai Bersatu. Meski sudah hampir seminggu sejak diposting pada tanggal 17 Januari 2020, tetapi tanggapan layarnya tetap beredar.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Sinjai AKP Noorman mengungkapkan bahwa hinggga saat ini belum ada laporan terkait viralnya editan yang tidak beradab tersebut.

“Belum ada laporan saya lihat masuk ke dalam, tetapi langkah-langkah yang kami lakukan, kita sudah telusuri kemudian kita redam juga bagaimana biar konten tersebut tidak menyebar ke mana-mana,” ungkapnya saat dihubungi via selular, Kamis (23/01/2020).

Berharap sih ada yang melapor dan jika tidak ada yang melapor upaya pencegahan yang kami lakukan dulu.

“Saya menghimbau kepada masyarakat terutama netizen Sinjai saya berharap jangan disebar ke mana-mana lagi karena dengan menyebarkan itu juga termasuk pelanggaran Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) juga, makanya masing-masing pribadi kita redam kita cegah, jangan kita sebar ke mana-mana,” imbuhnya.