Cuaca Buruk, Sulsel Terpaksa Datangkan Ikan dari Daerah Lain

KabarMakassar.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, mengklaim, jika ekspor Sulsel terus meningkat setiap tahunnya.

Peningkatan ekspor Sulsel salah satunya terjadi pada sektor perikanan. Pasalnya volume ekspor produk perikanan Sulsel menunjukkan tren yang positif.

Menurut kepala Dinas Kelautan dan perkirakan komoditas yang menyumbang kenaikan ekspor tersebut antara lain ikan tuna, udang, dan rumput laut.

Adapun negara negara tujuan ekspor yaitu Korea Selatan, Vietnam, dan Jepang.

“Untuk ekspor komoditi perikanan 2019 ini masih didominasi oleh komoditi rumput laut yang mencapai 83%, disusul komoditi karaginan sebesar 4%,” ungkap Sulkaf Latief, Rabu,(22/01).

Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan perkirakan, ekspor hingga bulan Mei pada 2019 lalu mencapai 15.089 ton dengan nilai mencapai Rp.444,1 miliar. Jumlah tersebut meningkat hingga 602,8 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2018 yang hanya sebesar 2.147 ton.

Ia menambahkan sejauh ini, komoditas rumput laut paling banyak diekspor ke China, Australia, Filipina dan Inggris. Keempat negara tersebut masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar rumput laut asal berbagai daerah di Sulsel, di antaranya dari Kabupaten Pinrang dan Kota Parepare.

Pada semester II Tahun 2019, ia optimistis ekspor komoditas perikanan masih akan bergerak naik. Meski belum bisa menyebut angka pastinya. Namun, ia menyatakan peningkatan itu akan dipicu oleh sejumlah faktor.

Salah satunya melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.18/2018, tentang jenis komoditas wajib periksa karantina ikan, mutu dan keamanan hasil perikanan. Ia meyakini, Dinas Kelautan dan Perikanan Sulsel masih menyanggupi ketentuan itu.

“Selain itu, kita juga percaya bahwa aksesibilitas bisa menggenjot kinerja ekspor perikanan kita. Apalagi setelah adanya direct call,” paparnya.

Meski terus mengalami peningkatan, Pemerintah provinsi Sulawesi Selatan ternyata masih mendatangkan ikan dari daerah lain. Hal ini diakui oleh Kepala Dinas perikanan Sulsel. Menurutnya hal ini dilakukan karena alasan cuaca ekstrim yang beberapa bulan melanda Sulawesi Selatan.

“Karenakan bulan Oktober, November, Desember hingga Januari cuaca ekstrim melanda Sulsel. Nelayan tidak mau ambil risiko. Makanya, kita ambil ikan dari daerah lain seperti Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Biasa itu sampai lima bulan,” akunya.

Bantuan stok dari luar daerah ini dilakukan pasalnya karena konsumsi ikan di Sulawesi Selatan sangat tinggi. Yakni mencapai 50 kg perkapita per tahunnya.

“Karena memang tingkat konsumsi ikan kita itu sangat tinggi, kita tertinggi ke tiga di Indonesia setelah Maluku dan Ambon,” tambahnya.

Kepala Dinas Perikanan Sulsel Sulkaf Latief mengatakan, tingkat konsumsi ikan di Sulsel memang sangat tinggi. Bahkan, tertinggi ketiga di Indonesia setelah Maluku, dan Ambon. Tingkat konsumsinya mencapai 55 kg perkapita tahun.

Namun, saat ditanya berapa banyak stok ikan yang diambil dari daerah lain, ia mengungkapkan tidak sampai 200 ton.

“Tidak menentu, tapi tidak sampai 200 ton,” tutupnya.