Video: Kepala BNPB Doni Monardo Diberi Pertanyaan kepada Jokowi soal Bencana

KabarMakassar.com — Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo mendapatkan pertanyaan dari Presiden RI, Joko Widodo saat berada di atas Helikopter saat cuaca buruk yang terjadi saat helikopter yang ditumpangi gagal mendarat di lapangan Helipad di Kecamatan Sukajaya Bogor, Minggu (5/1).

Didalam helikopter berbendera merah putih dan bernomor ekor H-3204 itu, Doni mendapatkan pertanyaan dari Presiden Joko Widodo.

Suasana hening saat helikopter gagal mendarat di lokasi bencana, tiba-tiba Doni pun dilontarkan pertanyaan dari orang nomor 1 di Indonesia tersebut.

“Pak Doni, apa yang harus dilakukan (untuk mencegah longsor),” kata Presiden.

Spontan Doni menjawab, “Kembalikan fungsi lahan dengan menanam vetiver, Pak Presiden.” kata Doni tegas.

Vetiver adalah jenis tanaman yang kita kenal dengan nama akar wangi atau narwastu. Tanaman ini adalah sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Poaceae, dan masih sekeluarga dengan sereh atau padi.

Sekalipun berjenis rumput, tetapi memiliki akar yang menghunjam hingga kedalaman dua sampai dua-setengah meter. Tak pelak, vetiver menjadi pilihan terbaik untuk ditanam di lahan bekas HGU yang telah digunduli, tanpa reboisasi.

“Ribuan lokasi bekas HGU, pohonnya sudah ditebangi dan ditinggal begitu saja,” ungkap Doni.

mantan Komandan Paspampres itu menyampaikan ke Presiden bahwa sisa-sisa akar pohon yang ditebang, kemudian membusuk dan saat musim hujan tiba dengan curah yang tinggi mengakibatkan rongga tanah rentan longsor. Rumah rumah penduduk pun dengan mudah dan singkat dilumat arus lumpur longsoran yang deras.

Akar wangi, atau vetiver, lanjut Doni adalah pencegah longsor terbaik. “Bioteknologi vetiver sudah diujicoba dan mendapat pengakuan World Bank bahkan PBB. Di banyak tempat dan negara, tanaman ini sudah dikenal luas sebagai tanaman pencegah longsor,” ujar Doni, fasih.

Presiden menarik napas panjang. Ia tampak lega mendapat solusi dari Doni. Sejurus kemudian, Presiden memerintahkan Doni Monardo segera melakukan penanaman vetiver di area gundul, utamanya di lereng-lereng pegunungan.

Untuk itu, Doni diminta melibatkan anggota TNI yang punya kualifikasi panjat tebing, termasuk kelompok Wanadri kelompok pendaki gunung yang memiliki keahlian mendaki.

Doni tak kalah lega. Ia pun menarik napas panjang penuh antusias. “Tahap awal saya siapkan seratus-ribu bibit akar wangi, Bapak Presiden,” ujarnya.

Jokowi-Doni Bahas Vetiver Di Atas Helikopter

KabarMakassar.com — Demi mengetahui bencana bertubi, Presiden Joko Widodo segera meminta Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo menemaninya berkunjung ke lokasi-lokasi musibah. Beberapa hari sebelumnya, setidaknya sejak pagi 1 Januari, Doni sendiri selalu berusaha untuk tiba lebih awal sebagai representasi kehadiran negara di lokasi bencana.

Singkat dan cepat, pagi ini 5 Januari 2020, tiga unit helikopter TNI-AU sudah stand by di Lanud Atang Sanjaya Bogor. Satu heli di antaranya, berisikan Presiden Joko Widodo, Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Kepala BNPB Doni Monardo.

Dari Lanud Atang Sanjaya ke lapangan Helipad di Kecamatan Sukajaya Bogor bisa ditempuh dalam waktu sekitar 20-an menit dengan helikopter kepresidenen Super Puma L-2 AS-332. Apa daya, cuaca jelek mematahkannya.

Setelah terbang, 5 menit menjelang sampai di titik lokasi, helikopter berbendera merah putih dan bernomor ekor H-3204 itu gagal mendarat akibat cuaca jelek. Dua helikopter berisi rombongan lainnya, beberapa menit sebelumnya berhasil mendarat.

Dua-tiga kali pilot helikopter kepresidenan berwarna biru dan strip merah putih itu melakukan approach, sedia mendarat. Sebanyak itu pula percobaan gagal, akibat cuaca buruk. Cuaca berkategori bad weather adalah cuaca yang tak bisa dilawan siapa pun.

Dalam hal itu, “pemegang kekuasaan” adalah pilot. Alhasil, Presiden, Panglima TNI, Menteri PUPR, dan Kepala BNPB pun pasrah ketika pilot memutuskan untuk tidak mendarat, dan kembali ke Atang Sanjaya.

Di landasan helikopter Sukajaya, Bupati Bogor, Kalak BPBD Kabupaten Bogor, para pemangku kepentingan serta para wartawan sempat terbengong-bengong ketika helikopter kepresidenan menjauh dari lokasi pendaratan.

Mereka baru maklum ketika mendapat penjelasan bahwa helikopter kepresidenan gagal mendarat karena cuaca tak memungkinkan. Sejatinya, di Lanud Atang Sanjaya pun Presiden sudah diberi tahu ihwal kemungkinan cuaca jelek dan gagal mendarat di Sukmajaya.

Akan tetapi, Presiden Joko Widodo meminta pilot tetap menuju lokasi bencana dan take a risk. Bahwa kemudian gagal mendarat, karena pilotlah yang memutuskan urung mendarat, karena pilotlah yang mengetahui kondisi bisa dan tidaknya helikopter didaratkan.

Di dalam kabin helikopter, kekecewaan juga merundung para penumpang di dalamnya. Tampak wajah-wajah para petinggi negara yang muram karena urung melihat langsung kondisi rakyat yang tengah didera bencana.

Untuk sesaat, kabin helikopter kepresidenan hening, sampai akhirnya Presiden Joko Widodo yang memecah, dengan melempar pertanyaan kepada Doni Monardo.

“Pak Doni, apa yang harus dilakukan (untuk mencegah longsor),” kata Presiden.

Spontan Doni menjawab, “Kembalikan fungsi lahan dengan menanam vetiver, Pak Presiden.”

Vetiver adalah jenis tanaman yang kita kenal dengan nama akar wangi atau narwastu. Tanaman ini adalah sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Poaceae, dan masih sekeluarga dengan sereh atau padi.

Sekalipun berjenis rumput, tetapi memiliki akar yang menghunjam hingga kedalaman dua sampai dua-setengah meter. Tak pelak, vetiver menjadi pilihan terbaik untuk ditanam di lahan bekas HGU yang telah digunduli, tanpa reboisasi.

“Ribuan lokasi bekas HGU, pohonnya sudah ditebangi dan ditinggal begitu saja,” ungkap Doni.

Bercampur kebisingan suara baling-baling helikopter, mantan Komandan Paspampres itu menyampaikan ke Presiden bahwa sisa-sisa akar pohon yang ditebang, kemudian membusuk dan saat musim hujan tiba dengan curah yang tinggi mengakibatkan rongga tanah rentan longsor. Rumah rumah penduduk pun dengan mudah dan singkat dilumat arus lumpur longsoran yang deras.

Akar wangi, atau vetiver, lanjut Doni adalah pencegah longsor terbaik. “Bioteknologi vetiver sudah diujicoba dan mendapat pengakuan World Bank bahkan PBB. Di banyak tempat dan negara, tanaman ini sudah dikenal luas sebagai tanaman pencegah longsor,” ujar Doni, fasih.

Presiden menarik napas panjang. Ia tampak lega mendapat solusi dari Doni. Sejurus kemudian, Presiden memerintahkan Doni Monardo segera melakukan penanaman vetiver di area gundul, utamanya di lereng-lereng pegunungan.

Untuk itu, Doni diminta melibatkan anggota TNI yang punya kualifikasi panjat tebing, termasuk kelompok Wanadri kelompok pendaki gunung yang memiliki keahlian mendaki.

Doni tak kalah lega. Ia pun menarik napas panjang penuh antusias. “Tahap awal saya siapkan seratus-ribu bibit akar wangi, Bapak Presiden,” ujarnya.

Tak pelak, Doni mendapat PR agar menanam di daerah dengan tingkat kemiringan tertentu yang dalam kondisi gundul, dan rawan longsor.

Doni menyebut, bukan satu-dua lokasi saja, melainkan terdapat ribuan titik rawan longsor di Tanah Air. Itu semua diawali dengan pemberian HGU kepada perusahaan tanpa kontrol serta kewajiban menghijaukan kembali lahan HGU diabaikan dan telah digunduli semena mena.

Penggundulan itu sudah terjadi 10 hingga 20 tahun yang lalu, dan tahun-tahun ini baru berdampak longsor. Dengan adanya instruksi presiden untuk menanam akar wangi tadi, diharapkan ke depan tragedi longsor bisa dikurangi, atau bahkan dicegah sama sekali.

“Di sela-sela tanaman akar wangi, akan diseling tanaman keras seperti sukun, aren, dan alpukat. Selain punya nilai ekologis, juga punya nilai ekonomis,” ujar Doni.

Begitulah, pembahasan vetiver di atas helikopter pun menjadi sesuatu yang kongkrit.
Helikopter pun tiba di Lanud Atang Sanjaya. Para penumpang VVIP dan VIP pun turun dengan wajah yang lebih cerah, berkat vetiver calon penyelamat rakyat dari bencana longsor.

Sebagai tambahan informasi, setiba di Atang Sanjaya, Presiden memerintahkan Menteri PU dan Perumahan Rakyat langsung menuju Kecamatan Sukajaya melalui jalur darat untuk memastikan peralatan berat berfungsi optimal sehingga akses menuju dan ke Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor dapat dibuka.

Kementerian PUPR mencatat ada enam desa di Kecamatan Sukajaya yang terisolir akibat jalan akses tertutup longsor yakni Desa Kiarasari, Kiara Pandak, Urug, Cisarua, Cileuksa dan Pasir Madang. Menteri Basuki sejak kemarin (4/1/2020) sesuai arahan Presiden telah mengirimkan 6 alat berat ke lokasi longsor, yaitu 6 execavator, 1 loader, dan 1 buildozer.

Kepala BNPB, Menteri PUPR dan Anies Tinjau Banjir Pakai Helikopter

KabarMakassar.com — Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo bersama Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono dan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pantau banjir Jakarta menggunakan Helikopter.

Ketiganya berangkat dari Monas untuk bersama-sama memantau banjir dari udara.

“Jadi Bapak dan Pak Anies dan Pak Basuki akan memantau dari heli dengan titik awal Monas,” kata salahsatu staf BNPB, Rabu (1/1).

Dalam keterangan persnya, Kepala BNPB Doni Monardo berpesan untuk lebih mengutamakan nyawa selamat daripada harta.

“Utamakan nyawa selamat terlebih dahulu daripada harta,” kata Doni.

Lebih lanjut ia juga menyampaikan kepada BPBD DKI Jakarta dan sekitarnya agar lebih fokus kepada rencana yang sudah disusun dan dipresentasikan terkait musibah banjir
“Pastikan posko yang ada diaktifkan dan dilengkapi dengan dapur umur, MCK, dan sebagainya agar masyarakat bisa terlayani dengan baik,” tambah Doni.

Dikabarkan hujan turun sejak, Selasa 31 Desember 2019 dengan curah hujan sangat tinggi, akibatnya sejumlah wilayah di Ibu Kota Negara terendam banjir.

Dari catatan BNPB, Sebanyak 7 kelurahan dari 4 kecamatan di Jakarta teremdam banjir. Dimana 7 kelurahan itu tersebar di Jakarta Pusat, Selatan, Utara dan mayoritas Jakarta Timur.

Berikut 7 kelurahan yang terdampak banjir, Kelurahan Makasar (Jakarta Timur), Pinang Ranti (Jakarta Timur), Halim Perdana Kusuma (Jakarta Timur), Kampung Melayu (Jakarta Timur), Rorotan (Jakarta Utara), Rawa Buaya (Jakarta Barat) dan Manggarai Selatan (Jakarta Selatan).