Temui Ketua MPR RI, None Perjuangkan Nasib Guru Honorer

Makassar — Irman Yasin Limpo atau akrab disapa None kini tak lagi menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Irman Yasin Limpo. Meski demikian None tetap memperjuangkan kemajuan dunia pendidikan, khususnya nasib guru honorer.

Untuk diketahui jika saat ini None memang masih menjabat sebagai Ketua Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), datang ke Gedung MPR RI Senayan, Jakarta, untuk memperjuangkan nasib guru honorer.

Bersama rombongan dari Makassar, None datang bersama Ketua Umum PB PGRI Prof Dr Unifah Rosyidi MPd, serta Ketua PB PGRI lainnya seperti Dian Mahsunah dan Huzaifa Dadang.

Kehadiran None bersama rombongan langsung diterima Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo.

“PGRI memperjuangkan agar dilakukan revisi Undang-undang ASN secara meluas terkait tenaga honorer,” kata None, Rabu (5/2).

Ia mengungkapkan, PGRI memohon untuk diberikan kesempatan pada tenaga honorer dari kedua kategori (K2 dan non-K) baik pendidik maupun tenaga kependidikan, untuk diikutsertakan dalam seleksi CPNS dan PPPK. Lebih diutamakan lagi bagi mereka yang berusia di atas 35 tahun agar diprioritaskan, mengingat bentuk pengabdiannya yang luar biasa selama ini.

“Kami mendorong agar pemerintah segera menuntaskan guru honorer dengan mengangkat mereka menjadi PNS atau PPPK,” ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga mendesak pemerintah segera memberlakukan pembayaran upah minimum minimal setara dengan UMR kepada para tenaga honorer di sekolah baik negeri maupun swasta.

“Bagaimana bicara mutu, dan merdeka belajar jika masih ada guru yang dibayar sangat rendah,” pungkasnya.

Kisah Inspiratif Guru SLB Sembari Ojek Online

KabarMakassar.com — Akhir November 2019 yang panas di Makassar. Meski masih terbilang pagi yaitu pukul 09.00 WITA, tapi suhu di Makassar cukup membuat dahi berkerut dan enggan beraktivitas di luar ruangan.

Suhunya hampir mencapai 37 derajat celcius. Mendung kerap kali muncul, namun hujan sepertinya masih malu-malu menampakkan diri di kota ini.

Pada waktu itu juga, guru Sekolah Luar Biasa (SLB) Syahrul Hakim (26) berjalan keluar untuk berbagi perihal kesibukannya sebagai seorang pengajar siswa berkebutuhan khusus.

Syahrul ditemui di sekolah tempatnya mengajar yang berada di area di Kelurahan Bulurokeng, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar.

Jaraknya sekitar 14 km dari pusat kota, dan membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk menjangkaunya. Daerah sekolahnya cukup membuat bingung.

Syahrul keluar menggunakan setelan seragam hitam putih, kemeja putih, bawahan hitam.

Pemuda yang baru mengakhiri masa lajang pada Agustus 2019 itu menyambut dengan senyumnya yang ramah. Logat khas Makassarnya sangat kental.

Sebelum memulai obrolan, Syahrul menutup pelajaran lalu mengantar siswanya hingga ke gerbang sekolah.

“Beginilah aktivitas sehari-hari saya sebagai pengajar siswa berkebutuhan khusus,” kata Syahrul membuka percakapan.

Suami dari Nuzul Fitriani ini bercerita, dirinya menjadi seorang pengajar SLB sejak 2015 silam. Profesi ini sesuai dengan latar belakang pendidikannya yaitu Strata Satu (S1) jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas Negeri Makassar.

Status Syahrul di SLB tempatnya mengajar masih sebagai guru sukarelawan dengan gaji Rp300 ribu per bulan.

Meski cenderung minim, tapi gaji itu sangat disyukuri Syahrul.

“Saya beruntung karena ada sekolah yang mau menggunakan jasa saya, apalagi profesi ini sesuai dengan disiplin ilmu kuliah saya dulu, yaitu guru Pendidikan Luar Biasa,” tuturnya.

Menurutnya, gaji yang layak tentu sangat diinginkannya, tapi yang utama baginya adalah kesempatan untuk mengaktualisasikan ilmu yang didapatnya semasa kuliah.

“Sekolah ini adalah wadah bagi saya untuk menerapkan ilmu yang didapatkan di kampus dulu. Ilmu yang saya terapkan tiap hari bagi siswa dan selalu diulang-ulang, Insya Allah akan awet. Jadi saya tidak pernah berpikir untuk menyerah sebagai guru meski dengan gaji sangat sedikit,” tutur anak sulung dari tiga bersaudara.

Di tengah keterbatasan penghasilan sebagai guru sukarelawan, Syahrul merasa sangat beruntung bisa bergabung sebagai mitra pengemudi GrabBike.

Penghasilannya sebagai pengemudi GrabBike mencapai Rp3 juta sebulan, dan ia tetap bisa menjalani profesinya sebagai guru.

“Manfaat yang sangat saya rasakan sebagai mitra GrabBike adalah waktu kerjanya yang fleksibel. Di sekolah pukul 08.00 dan selesai pukul 12.00, setelah itu bisa open trip. Jadi tak ada yang saya tinggalkan, antara passion sebagai guru maupun kesempatan untuk mendapatkan penghasilan yang cukup,” ujar Syahrul bersemangat.

Dalam menjalani pekerjaan sebagai pengemudi GrabBike, Syahrul juga kerap membahas perihal anak berkebutuhan khusus kepada mitra dan teman sesama pengemudi ojek online.

Meskipun pofesi Syahrul sebagai “tukang ojek” mitra pengemudi GrabBike acap kali mendapat cibiran dari orang di sekitarnya namun Syahrul tak pernah gentar dan tetap bersemangat dalam menjalaninya.

“Ada banyak yang nyinyir dengan pekerjaan saya sebagai tukang ojek, sementara saya kan sarjana. Saya sih tidak masalah yang penting pekerjaan ini sangat menolong kehidupan saya dan juga halal,” ucapnya.

Penghasilan dari pekerjaan sebagai pengemudi GrabBike juga membantu Syahrul untuk mempersunting wanita idamannya. Sebagian dari modalnya untuk menikah adalah hasil jerih payahnya di Grab.

Syahrul juga memiliki catatan sejarah sebagai salah satu pendiri komunitas ojek online yang telah mendapatkan pengakuan resmi dari Grab, yaitu Komunitas Lintas Sudiang (KLS).

Syahrul merupakan satu dari lima juta wirausahawan mikro yang tergabung dalam ekosistem Grab di Indonesia.

Berdasarkan temuan riset, Tenggara Strategics dan CSIS mengestimasi bahwa Grab berkontribusi sebesar Rp 4,2 triliun ke perekonomian kota Makassar pada tahun 2018 melalui empat lini usahanya.

GrabCar merupakan kontributor terbesar yang memberikan kontribusi Rp 1,92 triliun. Kontributor kedua adalah GrabBike dengan Rp 1,85 triliun.

Selanjutnya adalah GrabFood dengan kontribusi sebesar Rp 379 miliar. Dan GrabKios (KUDO) melalui jaringan agennya menciptakan kontribusi ekonomi sebesar Rp 43 miliar.

Tahun Baru 2020, Guru Honor Desa Terpencil Terima Insentif

KabarMakassar.com — memasuki tahun baru 2020, para guru honorer yang mengajar di desa-desa terpencil di Kabupaten Bulukumba patut bersyukur, oleh karena mereka menerima insentif dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bulukumba. Sebanyak 65 guru TK, SD dan SMP menerima insentif sebesar Rp400 ribu yang diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto di aula Baznas Bulukumba, Selasa, (31/12/2019).

Wakil Ketua Baznas, Kamaruddin mengungkapkan, jika konsep pemberian insentif ini mengusung slogan ‘Dari Guru Untuk Guru’, bahwa zakat infak sedekah yang berasal dari guru juga akan kembali kepada guru yang membutuhkannya.

Menurutnya, jika semua guru di Bulukumba menyetorkan zakat profesinya sebesar 2,5 persen, maka Baznas bisa memberikan insentif kepada 2000 guru honorer yang ada di Kabupaten Bulukumba.

“Olehnya itu, kami berharap Pemda Bulukumba dapat membantu memaksimalkan potensi zakat dari para guru PNS, sehingga lebih banyak lagi guru honorer menerima zakat,” pintanya.

Dikatakannya sejak terbentuk Baznas Bulukumba, pengumpulan zakat semakin bertambah dari awalnya hanya Rp400 juta pertahun menjadi Rp1,8 milyar. Ia meminta insentif yang diserahkan itu jangan dilihat dari jumlahnya, tapi sebaiknya dilihat dari niat tulus membantu para guru-guru honorer yang mengabdi di pelosok-pelosok desa.

“Sebelumnya, kami juga sudah menyerahkan insentif kepada guru-guru Raudhatul Athfal di bawah naungan Kemenag sebanyak 85 orang,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Baznas yang telah menginisiasi pemberian insentif kepada guru honorer. Menurutnya hal tersebut adalah bentuk komitmen dan keberpihakan kepada guru yang telah mengabdikan dirinya untuk meningkatkan sumber daya manusia Bulukumba di daerah-daerah terpencil.

Tidak semua orang, kata Tomy mau memilih mengabdi dan mengarahkan tenaga serta pikirannya untuk mengajar di daerah-daerah terpencil tanpa ada penghargaan yang memadai. Dengan demikian, pemberian insentif itu adalah bentuk apresiasi kepada guru honor tersebut melalui program Baznas Bulukumba dari guru untuk guru. Selain itu sebagai wujud dari kepedulian bahwa ada guru-guru honor yang juga harus diperhatikan.

Potensi zakat di Bulukumba, lanjut Tomy bisa mencapai Rp80 milyar, sehingga dibutuhkan upaya maksimal dalam pengumpulannya. Olehnya itu ia berharap para guru honor tersebut juga menjadi influencer untuk mengajak masyarakat membayar zakatnya, baik zakat harta, profesi maupun zakat lainnya.

“Ke depan kita akan berupaya menformulasi peraturan di tingkat kabupaten yang mengatur bagaimana zakat-zakat profesi dari para guru, termasuk penerima sertifikasi untuk dikumpulkan dan distribusikan kembali ke para guru-guru honorer yang tergolong dhuafa,”ungkap.

Namun demikian, Tomy menyadari gagasan tersebut tidak mudah untuk direalisasikan dalam tempo yang singkat oleh karena terkait dengan kepentingan dari banyak orang.

“Tetap dibutuhkan kesabaran, butuh proses untuk menyadarkan semua pihak agar program ‘Dari Guru Untuk Guru’ ini bisa dimaksimalkan,” jelas Tomy.

Namun yang terpenting, Tomy tetap mengharapkan para guru honorer tetap menjaga sikap kesukarelawanan tersebut, yang dalam bahasa agamanya adalah ikhlas melakukan pengabdian. “Jika mengajar dengan ikhlas, maka Insya Allah akan mendapatkan rezeki yang tidak akan kita duga dari mana datangnya,” bebernya memberikan motivasi di hadapan para guru honorer.   

Guru Honorer Bulukumba di Desa Terpencil Terima Insentif

KabarMakassar.com — Rejeki menyambut tahun baru 2020 didapati para guru honorer yang mengajar di desa-desa terpencil di Kabupaten Bulukumba. Dimana para guru yang bertugas di desa terpencil di Kabupaten Bulukumba ini menerima insentif dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Bulukumba.

Sebanyak 65 guru TK, SD dan SMP menerima insentif sebesar Rp400 ribu yang diserahkan langsung oleh Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto di aula Baznas Bulukumba, Selasa(31/12).

Wakil Ketua Baznas, Kamaruddin mengungkapkan, jika konsep pemberian insentif ini mengusung slogan ‘Dari Guru Untuk Guru’, bahwa zakat infak sedekah yang berasal dari guru juga akan kembali kepada guru yang membutuhkannya.

Menurutnya, jika semua guru di Bulukumba menyetorkan zakat profesinya sebesar 2,5 persen, maka Baznas bisa memberikan insentif kepada 2000 guru honorer yang ada di Kabupaten Bulukumba.

“Olehnya itu, kami berharap Pemda Bulukumba dapat membantu memaksimalkan potensi zakat dari para guru PNS, sehingga lebih banyak lagi guru honorer menerima zakat,” pintanya.

Dikatakannya sejak terbentuk Baznas Bulukumba, pengumpulan zakat semakin bertambah dari awalnya hanya Rp400 juta pertahun menjadi Rp1,8 milyar. Ia meminta insentif yang diserahkan itu jangan dilihat dari jumlahnya, tapi sebaiknya dilihat dari niat tulus membantu para guru-guru honorer yang mengabdi di pelosok-pelosok desa.

“Sebelumnya, kami juga sudah menyerahkan insentif kepada guru-guru Raudhatul Athfal di bawah naungan Kemenag sebanyak 85 orang,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Tomy Satria Yulianto menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Baznas yang telah menginisiasi pemberian insentif kepada guru honorer. Menurutnya hal tersebut adalah bentuk komitmen dan keberpihakan kepada guru yang telah mengabdikan dirinya untuk meningkatkan sumber daya manusia Bulukumba di daerah-daerah terpencil.

Tidak semua orang, kata Tomy mau memilih mengabdi dan mengarahkan tenaga serta pikirannya untuk mengajar di daerah-daerah terpencil tanpa ada penghargaan yang memadai. Dengan demikian, pemberian insentif itu adalah bentuk apresiasi kepada guru honor tersebut melalui program Baznas Bulukumba dari guru untuk guru. Selain itu sebagai wujud dari kepedulian bahwa ada guru-guru honor yang juga harus diperhatikan.

Potensi zakat di Bulukumba, lanjut Tomy bisa mencapai Rp80 milyar, sehingga dibutuhkan upaya maksimal dalam pengumpulannya. Olehnya itu ia berharap para guru honor tersebut juga menjadi influencer untuk mengajak masyarakat membayar zakatnya, baik zakat harta, profesi maupun zakat lainnya.

“Ke depan kita akan berupaya menformulasi peraturan di tingkat kabupaten yang mengatur bagaimana zakat-zakat profesi dari para guru, termasuk penerima sertifikasi untuk dikumpulkan dan distribusikan kembali ke para guru-guru honorer yang tergolong dhuafa,” ungkap.

Namun demikian, Tomy menyadari gagasan tersebut tidak mudah untuk direalisasikan dalam tempo yang singkat oleh karena terkait dengan kepentingan dari banyak orang.

“Tetap dibutuhkan kesabaran, butuh proses untuk menyadarkan semua pihak agar program ‘Dari Guru Untuk Guru” ini bisa dimaksimalkan,” jelas Tomy.

Namun yang terpenting, Tomy tetap mengharapkan para guru honorer tetap menjaga sikap kesukarelawanan tersebut, yang dalam bahasa agamanya adalah ikhlas melakukan pengabdian.

“Jika mengajar dengan ikhlas, maka Insya Allah akan mendapatkan rezeki yang tidak akan kita duga dari mana datangnya,” bebernya memberikan motivasi di hadapan para guru honorer.